Eunji pov
Eundae pov
Author pov
Eunji povBaekhyun pov
Eunji pov
Baekhyun pov
Eunji pov
Author pov
“yak park eunji!, ppali!,
kau ingin guru killer itu memanggangmu lagi, eoh?”
Terdengar teriakan eonnie
dari arah dapur, sedangkan aku masih di kamar mengenakan seragam. Aku menatap
cermin sebentar. Kulihat wajahku yang seperti zombie karena selama liburan
semester aku berada di depan komputer untuk menulis sebuah novel yang harus kupublishkan.
Sebelumnya aku pun sudah membuat banyak novel dan diminati banyak kalangan, dan
sekarang aku di tuntut mereka untuk membuat novel lagi, e-mailku penuh atas
permintaan mereka dan editorku terus mendesakku dan itu membuatku gila hingga
lupa menyegarkan otakku.
“eonnie, apa kau memiliki
krim yang mungkin menutupi lingkaran ini?, atau kalau bisa hilangkan” aku
menunjuk lingkaran hitam tipis yang ada di sekitar mataku.
“omo!, kau ini jelmaan
panda atau bagimana?. Kau terlalu keras kepala, sudah kubilang untuk berhenti
sejenak untuk menulis novel itu. Dua minggu tanpa sekolah kau gunakan hanya
untuk menulis novel saja. Pakailah ini, mungkin akan menutupi” eundae eonnie
memakaikanku sebuah krim.
“dua minggu liburan tidak
cukup untukku, paling tidak tiga minggu”
“diam, jangan banyak
bergerak. Jika krim ini masuk ke matamu aku tak akan bertanggung jawab”
Aku hanya diam sambil
memperhatikan jam yang menunjukkan pukul 06.10 dan dua puluh menit lagi upacara
hari pertama masuk akan di mulai. Tunggu dulu, dua puluh menit?, perjalanan
dari apartemen lima belas menit, belum lagi menunggu bis.
“eonnie, sudah belum?”
“ne”
“kalau begitu ppali, ini
sudah jam enam lebih sepuluh menit” kuambil tasku yanga ada di kursi.
“mwo?” mata eonnieku
membulat sempurna.
Dia berlari ke arahku yang
sudah berada di luar pintu apartemen kami. Orang tua kami sekarang berada di
dubai untuk keperluan bisnis. Sebenarnya kami akan diberi sebuah rumah besar
tapi kami tolak karena akan lama untuk membersihkannya dan jika ada pembantu, itu
tidak akan membuat kami bebas. Dan pada akhirnya kami memilih tinggal di
apartemen, dan karena appa dan eonma terbiasa hidup mewah dari kecil, mereka
memberikan sebuah apartemen yang tak bisa dibilang murah. Tingkat keamanannya
sangat tinggi.
Saat kami berlari menuju
halte bis, terdengar suara klakson dan itu membuat kami menengok kebelakang.
Terlihat mobil sedan berhenti disamping kita dan kaca mobilnya terbuka.
Terlihat wajah ceria dari seorang bermarga byun.
“yak park sisters!”
“mwo?” tanya eonnie dingin
Dilihat dari tatapan matanamja
bermarga byun, dia ingin memberi kami sebuah tumpangan. Dengan cepat aku masuk.
“whoa!, slow down, ternyata
kau sudah mengerti maksudku, chagi?”
“yak!” teriakku dan eonnie
bersama
“yak park sisters, kalian
ingin membunuhku dengan teriakan barusan, eoh?”
“kau yang ingin membunuhku
karena panggilan barusan, sejak kapan kita mempunyai hubungan khusus hingga kau
beran menyebutku ‘chagi’?” tanyaku tepat ditelinganya
“jika kau mendengkat ke
kepalaku lagi, mungkin akan kucium kau” goda baekhyun
“yak byun baekhyun!” teriak
eonnie yang masih diluar
“noona, sebaiknya kau cepat
masuk, upacara akan dimulai sepuluh menit lagi”
“mwo?!” lagi lagi kami
berdua berteriak.
Dengan cepat eonnie masuk
ke mobil baekhyun. Aku duduk di depan, disamping baekhyun sambil memainkan kuku
karena takut akan dihukum lagi, sebelum liburan pun aku sempat mendapat
hukuman. Sedangkan eonnie duduk santai di belakang sambil memainkan iphonenya
dan memasang earphone di telinganya.
“kau takut akan dijadikan
daging panggang, eoh?” tanya baekhyun yang mengemudi dengan kecepatan yang
lumayan.
“ani, kau buat dua
kesalahan byun baekhyun”
“mwo?, yang benar saja
seorang byun baekhyun melakukan kesalahan, apa lagi soal...” jawabnya dengan
pede dan akhirnya diam setelah menyadari kulirik tajam dia.
“ini januari awal, tidak
mungkin aku dipanggang di tengah lapangan lagi. Dan lagi, aku tidak akan
dijadikan daging panggang kali ini”
“lalu?”
“kayu bakar untuk
menghangatkan tubuh besarnya”
Setelah tujuh menit kami
berada di mobil baekhyun, akhirnya kami sampai di sekolah kami, XOXO high
school. Sekolah bergengsi yang semua muridnya dari keluarga yang terpandang.
Eonma dan appa juga termasuk, mereka telah berhasil mengerjakan proyek proyek
besar dengan bekerja sama dengan perusahaan perusahaan yang mungkin sudah
mendunia. Sedangkan baekhyun, appanya adalah pemilik perusahaan game terbesar
di korea, game yang dibuatnya pun tak main main, karena untuk menyelesaikan
satu game dan satu level saja harus membutuhkan tenaga dan pikiran yang besar.
Banyak macam game yang sudah dibuat appa baekhyun, dan itu sangat disukai
banyak anak SMA seumuran kita terutama laki laki, karena kebanyakan bergenre
action.
“yak byun baekhyun!, park eunji!,
park eundae!” sebuah teriakan serak terdengar tepat ketelinga kami saat kami
hendak masuk ke gedung utama sekolah
“kita harus lari atau
berbalik ke arahnya?” tanya baekhyun yang ada di sampingku.
“berbalik saja, aku benar
benar tak ingin dijadikannya kayu bakar” ucapku
“noona?” tanya baekhyun
pada eonnie yang dibalas dengan anggukan tak yakinnya
Dan pada saat kami
berbalik, guru killer dan gila itu sudah ada di depan kami. Guru BP paling
tidak waras, ya tidak waras catat itu!.
“kalian tidak terlambat?,
bagus kalau begitu” guru itu meninggalkan kami
“hanya itu?, oh god..., she
makes me crazy” baekhyun sering mencapur adukan bahasanya dengan bahasa
inggris, karena sebenarnya dulu adalah murid pindahan dari amerika yang digilai
oleh seluruh siswi di sini, dan itu tambah membuatku muak, apa lagi jika harus
berjalan dengannya di lorong yang banyak siswinya, ditambah lagi, dia adalah
seorang players, entah sudah berapa mantannya.
“jadi sekarang kau mulai
menggilai guru itu?” goda eonnie
“yak noona!, apa kau gila?,
menggilainnya?, pft.. mungkin jika iya itu akan menjadi trending topics di mana
mana”
“ya, dan itu akan membuat
ramai sekolah, sosmed, dan dunia maya dengan tag line ‘BYUN BAEKHYUN MENGGILAI
GURUNYA SENDIRI YANG SUDAH MEMILIKI KELUARGA’ dan itu pasti akan berhasil
membuatnya bercerai dengan suaminya”
Baekhyun yang membayangkan
hal yang tidak tidak segera menghilangkan bayangan bayangan mengerikan itu.
“andwe!” teriaknya hingga membuat siswa dan siswi disekitar memperhatikan kami.
‘untuk semua siswa XOXO high school, upacara akan dimulai lima belas
menit lagi, ini karena ada beberapa masalah kecil tentang petugas’
terdengar suara guru killer tadi lewat microphone sekolah yang di pasang di
sudut sudut tertentu
“guru itu benar benar
membenci kita, sudahlah lebih baik kalian ke kelas kalian, aku pergi ne” eonnie
mulai berjalan ke arah gedung kelas dua belas, sedangkan aku dan baekhyun akan
ke arah gedung kelas sebelas.
“ne chagi~” kali ini
panggilan itu untuk eonnie
“yak byun baekhyun!” seru
eonnie yang membelakangi kami.
Aku hanya melirik tajam
baekhyun sambil menarik tasnya karena sudah tak tahan dengan sikapnya yang
seakan akan dia players, eit dia memang players. Baekhyun yang sadar dengan
lirikanku, tak segan segan dia menggodaku
“mwoya?, kenapa kau
menatapku seperti itu?, kau cemburu?”
Dengan cepat kujitak
kepalanya lalu melepaskan genggamanku pada tasnya dan pergi meninggalkannya.
Skipà
Pada saat upacara, ada
formasi yang aneh. Terlihat lima orang namja yang berdiri di dekat guru.
“yak, kau tau siapa
mereka?” bisikku pada baekhyun yang dari tadi menatap kelima namja itu dengan
tatapan yang marah, dan aku yakin kalau baekhyun pasti mengenalnya
“mereka murid transfer,
sekaligus musuhku” jawabnya pelan
“mwo?, padahal aku suka
namja yang ada di pojok”
“andwe!, kau tak boleh
menyukainya, kau tak akan tau ada apa dibalik senyumnya”
“kau cemburu ya?” kali ini
aku yang menggodanya hingga wajahnya terlihat agak merah. Baekhyun diam.
“benarkan?”
“iya, ada masalah?” kali
ini wajahnya sudah merah padam dan dia menatap lurus ke depan
Omo seorang byun baekhyun
cemburu, sungguh disaat seperti ini aku ingin tertawa sepuas puasnya.
-eunji pov end-
Aku duduk diam dibangkuku
sambil mendengarkan musik dengan earphoneku yang kutancapkan di ponselku.
Seperti kelas pada umumnya, walaupun ini sekolah bergengsi tapi tak ada bedanya
dengan sekolah pada umumnya, muridnya akan rusuh jika tidak ada guru dan tak
jarang pula guru yang masuk marah marah bahkan sampai pidato panjang lebar
disini.
Pintu kelas terbuka dan
dalam hitungan detik, semua teman sekelasku yang rusuh dan berlarian mulai
menempati bangkunya masing masing. Aku yang tiap hari melihat pemandangan itu
hanya tersenyum kecil. Terlihat seorang guru killer yang tadi pagi hampir
membuatku, adikku dan baekhyun dijadikannya kayu bakar.
“kalian akan ada teman baru,
siswa kim silahkan masuk”
Yah..., bisa kuakui
wajahnya sangat tampan, bisa dilihat dia memiliki kepribadian yang bersih,
pendiam tapi murah senyum, dan lain lain. Aku malas mendengar ocehan guru
killer itu, maka dari itu aku tetap mengenakan earphone, rambutku yang panjang
menutupi kabel earphone, jadi guru itu tidak akan tau. Hingga pada saat gerakan
mulut guru itu seperti mengatakan ‘perkenalkan dirimu’ aku melepas earphoneku.
“annyeong, kim joon myeon
imnida, kalian bisa memanggilku suho. Pangapseumnida” katanya sambil melihat
sekeliling
Aneh, namanya joon myeon
tapi kenapa dia memperkenalkan diri sebagai suho?, tidak nyambung. Aku pun
kembali memasang earphoneku yang sengaja kumatikan musiknnya. Kulihat dia
berjalan kearahku. Bagus bangku disampingku kosong. Sesuai tebakanku, dia duduk
disampingku.
“annyeong” sapanya yang
sudah duduk di sebelahku dan aku pura pura tidak mendengarnya. “apa dia tidak
bisa mendengar?” tanya namja bernama suho itu ke min ki, ketua kelas yang duduk
disampingnya
“dia memang begitu,
kepribadiannya agak tertutup. Dia sebenarnya sedang menggunakan earphone”
Selama pelajaran, aku benar
benar terganggu olehnya, dia menanyakan hal hal yang tidak penting. Seperti apa
aku tinggal sendiri, apa aku tinggal di sebuah apartemen atau rumah, memangnya
dia ingin menginap di apartemenku, eoh?, dan gilanya lagi doa bertanya ‘apa kau
pernah melakukan tindakan diluar batas?’ jika aku mengolah kata katanya, akan
banyak maksud yang terselubung di kalimatnya, seperti diluar batas yang mungkin
membunuh, atau yah..., sesuatu gila yang biasa di lakukan para remaja yang
stress dan akhirnya berakhir malu.
Saat istirahat pun namja
itu tetap mengikutiku dengan sebuah senyuman konyolnya. Aku mencoba
menghiraukannya dengan mengenakan earphone seperti biasanya. Namja tadi masih
mengikutiku dan jaraknya semakin dekat kepadaku, ini sangat menggangguku.
Saat jam makan siang dia
duduk di sampingku, dan aku mencoba untuk menganggapnya sebagai angin, ya hanya
angin. Hampir seluruh siswi melirik ke arah kami, aku tau karena mereka iri
kepadaku yang disampingku adalah kim joonmyeon, yang kudengar adalah anak dari
kim joon in, pemilik grup kim saat ini, di tambah lagi kakaknya inha, adalah
CEO di perusahaan otomotif yang memiliki wajah bagai pangeran. Kuakui, keluarga
bermarga kim ini memiliki wajah yang tampan tampan, ah ya! Ibunya juga kudengar
mirip yoona SNSD, sungguh awalnya aku tak percaya dengan omongan dari ahn
jiseo, ratunya gosip di sekolah, saking tidak percayanya, jiseo mengirim foto
keluarga suho, dan yap! Ibunya mirip yoona, kakeknya masih terlihat tampan
walau sudah keriput, dan neneknya, dia masih terlihat jauh lebih muda dari
umurnya.
Di tengah tengah acara
makanku, suho melepas earphoneku yang ada di telinga kiri dan memasangkannya pada
telinga kirinya, tentu itu membuatku secara otomatis meneriakinya walau agak
pelan.
“yak!, sebenarnya apa
maumu?” tepat pada saat yang sama aku mendengar tawa renyah dari seseorang yang
tidak asing lagi bagiku.
“eonnie...” ucap eunji yang
datang sambil menggandeng tangan baekhyun dan dari tadi tertawa bersamanya.
Kini ia duduk didepanku dan baekhyun duduk di depan suho. Terlihat tatapan dari
tatapan baekhyun dan suho, aku bisa melihat kalau mereka pasti adalah musuh.
Tangan eunji masih menggandeng baekhyun.
“jadi kalian berkencan,
eoh?” tanyaku
Mata suho membulat setelah
mendengar kalimatku barusan, sedangkan baekhyun hanya tersenyum bangga seakan
mendapat gelar sebagai raja, dan eunji, apa yang dia lakukan?, dia memandang
suho dari tadi dan kupecahkan lamunan eunji yang dari tadi melihat ke arah
suho.
Saat menyadari perkataanku
tadi, eunji mendorong baekhyun menjauh. Dan senyum mengejek terukir di wajah
suho seakan dia ingin bicara ‘kau terlalu perccaya diri, byun’
“ani!, dan itu tidak
mungkin!” bantah eunji cepat
“bukankah kita akan
berkencan malam ini, chagi?” baekhyun mendekatkan wajahnya ke wajah
yeodongsaeng kesayanganku itu. Dan pada saat aku melihat sekitar, terlihat
wajah marah, cemburu, dan iri dari siswi yang lain, bahkan ada yang sempat
mematahkan sumpitnya.
“yak byun baekhyun!” seruku
pelan sambil memukul kepalanya dengan sumpit
“lalu apa kalian
berkencan?, kalian terlihat sangat akrab” tanya eunji yang membuatku tersedak
saat memakan sup. Aku lupa bahwa aku dan suho sedang berbagi earphone. Dengan
cepatku lepas earphoneku dari telinganya.
“jadi tidak, pft...” kali
ini baekhyun sedang menahan tawa dan suho hanya melotot ke arahnya.
“oh iya, tadi kau tanya apa
yang aku mau bukan?” aku mengangguk pelan dan menatap ke arah matanya secara
langsung.
FREEZE...!
Untuk pertama kalinya aku
merasa beku melihat seorang namja tepat pada mata mereka, sekali pun itu byun
baekhyun itu tidak ada apa apanya dibandingkan namja ini. dengan cepat aku
mengalihkan pandanganku ke arah eunji dan baekhyun yang sekarang mungkin sedang
membahas tentang game, yap!, sekarang adikku saja menjadi gamers karena
baekhyun.
“yang kuinginkan kau dan
adikmu, park eundae” mata eunji dan baekhyun membulat sempurna dan aku tersedak
oleh minumanku sendriri
-eundae pov end-
Baekhyun menuliskan sesuatu di memo ponselnya
dan menunjukkan kepada eunji
‘jangan percaya dengannya, sudah kubilang ada
sesuatu dibalik wajah dan senyumnya, senyumnya palsu’
Skipà
Hari
ini eundae pergi ke dubai beberapa hari karena eonma dan appanya membutuhkan
otaknya sebagai hacker, beberapa komputer perusahaan diserang, dan hanya eundae
yang bisa membalasnya.
Baekhyun
menginap untuk sementara di apartemen untuk menemani eunji selagi eundae pergi.
Aneh memang jika seorang namja dan seorang yeoja yang tak memiliki hubungan apa
apa tidur satu atap, tapi ini juga permintaan appa eunji dan eundae kepada
baekhyun yang jago hapkido.
“jangan
macam macam kepada adikku, byun” kata eundae yang mondar mandir memasukkan
barangnya kedalam koper.
“ne
noona~” jawab baekhyun dengan ekspresi yang sulit dimengerti
“aku
bersungguh sungguh”
“ne
chagi~” kali ini eundae hanya melirik tajam baekhyun dan itu tidak merubah
ekspresi baekhyun.
“aku
pergi” eundae menutup pintu apartemen dan meninggalkan eunji dan baekhyun di
apartemen.
Baekhyun
melangkahkan kakinya kekamar dan dengan cepat eunji menghadangnya.
“mwoya?,
aku ngantuk” eunji hanya melirik ke arah sofa dan itu memberi tanda kalau
baekhyun harus tidur di sofa. “mwo?, tidak mungkin!, sofa itu kurang panjang,
lagi pula ada dua ranjang bukan?, kita tidak akan tidur satu ranjang” kali ini
eunji melipat kedua tangannya di bawah dadanya. “oh ayolah eunji!, aku tidak
akan macam macam, paling aku hanya menciummu” katanya lagi asal ceplos dan
sukses membuat eunji mendorong baekhyun lalu menutup pintu.
“apa
dia sudah gila?, argh! Sudahlah aku capek”
Eunji
melempar diri ke ranjangnya. Baru beberapa detik dia akan menarik selimut,
suara baekhyun mengganggunya
“yak
eunji!, aku tak bisa tidur!”
“apa
urusanku” kata eunji pelan
“tentu
ini urusanmu!, aku tamu!”
“bagaimana
dia bisa dengar?, lagi pula jika ia tamu, apa harus tidur satu kamar dengan
tuan rumah”
“iya!”
Satu
kata dari mulut baekhyun yang ada di luar membulatkan mata eunji. Dan pada
detik ke lima, pintu kamar terbuka yang memang sengaja tidak dikunci eunji.
Baekhyun tersenyum kecil.
“oh
ho~, tidak terkunci?, kenapa aku harus berteriak?”
Baekhyun
melempar diri ke kasur eundae. Dengan cepat eunji duduk di tepi ranjang untuk
memastikan jika baekhyun benar benar tidak akan melakukan apa apa. Ranjang
eunji dan eundae hanya dibatasi oleh meja kecil dan memeberikan jarak sekitar
lima puluh senti.
Eunji
menatap baekhyun yang sedang menatap langit langit kamar. Sikapnya seperti anak
kecil, dia memainkan jarinya seakan akan jarinya itu adalah pesawat dan ia
membuat suara suara kecil dan itu membuatnya memajukan bibirnya sedikit.
Beberapa
menit kemudian baekhyun menghentikan jarinya dan menatap eunji kosong, begitu
pun dengan eunji.
“kenapa
kau melihatku seperti itu?” baekhyun memecah lamunan eunji
-author
pov end-
Tanpa
kusadari aku melihat bibirnya. Argh...! eunji apa yang kau pikirkan?. Tidak!,
tidak boleh, jika begitu sama saja kau telah masuk kepenjaramu sendiri eunji!.
Tapi lihat bibir manisnya itu, kenapa aku leleh.
“kenapa
kau melihatku seperti itu?” tanyanya yang memecah lamunanku.
Dengan
cepat kubaringkan diriku diranjangku dan menutup diri dengan selimut yang lebih
tebal karena ini masih musim dingin, dan menatap langit langit kamar. Kudengar
baekhyun mengeluh kesal dengan membanting tangannya yang dari tadi ada di
atasnya.
“jawab
aku, bukan aku yang ingin melakukan sesuatu bukan?, tapi kau”
Kalimat
baekhyun barusan behasil membuat mataku membulat. Kulirik sebentar namja itu
dan masih dapat kulihat dia menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti
“ani,
sudah tidurlah” kubalikkan posisi tidurku dengan membelakanginya.
Kudengar
jelas suara tapak kaki yang mendekat. Oh tuhan tolong aku, jangan sampai
seorang byun baekhyun menyentuhku. Sekarang dapat kurasakan jika dia duduk di
tepi ranjangku dan aku masih membelakanginya.
“good
night, eunji” dia mengelus ujung kepalaku dengan lembut lalu mengambil beberapa
helai rambutku lalu menciumnya.
Entah
apa yang sedang terjadi padaku sekarang, dia bersikap lebih dari biasanya tapi
aku tak memberontak sedikit pun. Apa yang terjadi dengan diriku.
-eunji
pov end-
Aku
yang masih duduk di tepi ranjangnya hanya tersenyum lalu kembali ke ranjang
eundae dan tidur membelakanginya.
Kenapa
dia tak memberontakku?, apa ada yang salah dengannya?. Ugh... gawat jantungku
berdetak kencang, semoga dia tidak mendengarnya.
Ya!,
aku menyukainya sejak awal bertemu, tapi aku selalu menutupinya dan
melampiaskannya kepada beberapa yeoja yang aku pacari. Oh tuhan!, detak
jantungku tak beraturan, jangan sampai dia mendengarnya.
BUU..K!
Sebuah
bantal melesat tepat dikepalaku, aku hanya meringis kesakitan sambil mengusap
usap kepalaku karena barusan lemparan tadi sangat keras. Kulirik sedikit eunji
yang kuyakini dia yang melempar bantal barusan. Dia menghadapkan tubuhnya ke
padaku dan menatapku kecewa. Tatapan
itu, apa maksudnya?, apa dia ingin lebih?, tidak mungkin aku melakukannya, aku
bahkan belum pernah melakukan hal lebih, bahkan kepada mantan mantanku.
“mwoya?”
tanyaku dengan nada yang agak ditekankan
“harusnya
aku yang berkata seperti itu”
“...”
aku tak menjawab karena bingung, apa dia marah karena sikapku tadi?. “kenapa
kau baru marah jika tentang barusan” balasku yang dari tadi eunji menunggu balasanku
Kali
ini dia diam sejenak. “sudahlah pergilah tidur” sekarang dia kembali
membelakangiku.
Refleks,
ku lempar diriku ke kasur eunji dan hampir tidak menyisakan jarak anatara kami.
Dan karena kelakuanku barusan, secara otomatis eunji membalikkan tubuhnya, dan
parahnya lagi saat itu bibir kami bertemu. Dapat kulihat matanya membulat
sempurna, begitu pun denganku, aku kaget bukan main, karena bukan ini yang
kumau. Aku hanya ingin memeluknya dari belakang dan memberikan jarak sedikit
agar dia tak salah paham, tapi apa yang kudapat?, ini sama saja aku menciumnya.
Bibir
kami masih bersentuhan, bahkan diantara kami belum ada yang bergerak. Perlahan
tapi pasti, kututup mataku dan mencoba menikmati ciumanku. Eunji yang pertama
bagiku, sungguh, bahkan bibir mantanku belum ada yang pernah kusentuh. Aku
menciumnya dengan lembut dan berusaha membuatnya betah. Dia masih menutup rapat
bibirnya, aku tau maksudnya jadi kuturuti saja dan hanya mengecup bibirnya.
-baekhyun
pov end-
apa
ini?, dia menciumku?. Yak byun baekhyun!, yah kuyakin aku bukan yang pertama
untukmu. Dapat kulihat jelas dia menutup matanya dan mencoba menikmatnya.
Perlahan kurasakan tangannya meraba punggungku. Byun!, apa yang akan kulakukan.
aku
mencoba menjauh darinya dengan mendorong dadanya yang bidang, tapi apa yang
kurasakan?, dia malah tersenyum dalam ciuman ini?. yak baekhyun!, aku tidak
seperti yang kau pikirkan!. Dia memegang tengkukku lalu mendorongnya pelan. Dia
ingin memperdalam ciumannya. Perlahan kututup mataku, jujur ini adalah gerakan
refleks. Kugerakkan sedikit bibirku dan dapat kurasakan kembali senyumannya.
Aku masih menutup rapat bibirku karena aku masih takut dengan gulat lidah(?).
lima
menit sudah kami melakukan ciuman ini. dan baekhyun segera melepaskannya. Bibir
kami tidak terlalu basah karena kami sedang tidak melakukan sebuah french kiss.
Setelah dia melepasku dan tengkukku yang dia tahan, aku mendorongnya menjauh,
tapi apa yang kudapat?, aku yang terdorong karena tenaga baekhyun lumayan besar
untuk menahannya, dan otomatis aku hampir terjatuh.
Kurasakan
sebuah tangan menarik pergelangan tanganku dan itu membuatku terjatuh dalam
pelukan baekhyun. Dia mendekapku hingga aku hampir menyentuh dadanya. Dia
memperdalam dekapannya dan sekarang kepalaku benar benar menempel di dada
bidangnya.
“now,
you are mine, eunji” dapat kurasakan nafasnya berhembus pelan di kepalaku dan
dia mengecup ujung kepalaku dengan lembut.
“m..mwo?”
“jadilah
kekasihku”
Baekhyun
melepaskan pelukannya dan beranjak pergi, tanpa menunggu jawaban dariku.
Refleks, ku pegang pergelangan tanganya dan itu sukses membuatnya menoleh
dengan tatapan ‘mwo?’
“jangan
membelakangiku, tidur dengan menghadapku. Aku ingin melihat wajahmu, bukan
punggungmu” kalimat apa ini?, kenapa
kuucapkan. Tapi juga apa ini?, perasaan apa ini?, apa aku menyukai seorang
players bernama byun baekhyun.
Baekhyun
hanya tersenyum lalu tidur di ranjang eonnie dan menuruti permintaan yang menurutku
terdengar gila. Lagi lagi secara refleks aku tersenyum kepadanya dan dapat
kulihat dia membalas senyumanku. Perlahan kututup mataku
-eunji
pov end-
Eunji. Apa dia juga
menyukaiku?
Matanya sudah tertutup dan
dapat kulihat jelas wajahnya yang seperti malaikat itu. Barusan, apa yang
kulakukan?, mencium eunji?. Kumohon, semoga besok dia tak salah paham. Aku
tidak bisa tidur, kenapa aku terus memikirkan ciuman itu. Argh..., aku bukan byun
baekhyun, aku merasa ada yang aneh di dalam diriku. Tuhan, ada apa denganku?.
Perasaan barusan datang
lagi saat kulirik wajahnya. Matanya yang indah dengan warna hitam kebiruan jika
dibuka, pipinya yang dengan mudahnya menampakan warna merah jika kupanggil
‘chagi’ dan bibir mungilnya yang manis dan sempurna, aku ingin lagi. Yak byun
baekhyun!, apa yang kau pikirkan!.
Pagi ternyata sudah datang,
tanpa kusadari aku tertidur pada malam itu. Tunggu dulu, malam itu aku...
eunji. Eunji! Dimana eunji?. Kudapati ranjang eunji sudah rapi. Aku melirik ke
arah jam dinding dan yah ini jam tujuh lebih lima belas menit.
“jam tujuh, eoh?” aku
tersenyum dengan mata tertutup. Tunggu dulu, jam tujuh?. “mwoya?, jam tujuh?,
argh... park eunji kenapa kau tak membangunkanku?” aku berlari segera berlari
ke arah pintu
Apa dia membiarkanku tidur
dan dia berangkat ke sekolah sendiri. Aku berlari keluar kamar dan hidungku
mendapat aroma bubur. Kulangkahkan kakiku ke arah dapur dan terlihat seorang
yeoja dengan senyum kecil yang terlihat puas di bibirnya yang kemarin kucium. Argh...,
lagi lagi aku mengingat ciuman itu.
“kau sudah bangun, byun?”
tanyanya yang terfokus oleh bubur didepannya. Aku tidak menjawabnya.
Dia tidak marah, syukurlah.
Kugerakkan kakiku ke arahnya dan memeluknya dari belakang dan itu berhasil
membuatnya sedikit kaget. Dia membalikkan tubuhnya dan bersandar di meja yang
berada tepat dibelakangnya. Sekarang posisinya terjepit antara aku dengan meja
yang ada di belakangnya. Kugeser sedikit kesamping nampan yang diatasnya ada
dua mangkuk berisi bubur lalu kunaikkan tubuhnya ke atas meja.
“m...mwo?” tanyanya takut
sambil menutupi wajahnya dengan poninya dan memalingkan wajahnya dariku.
“lihat aku eunji” pintaku
yang tak ada respon darinya sedikit pun. “eunji...” panggilku lirih. “yak park
eunji!” aku sedikit menambah volume suaraku. “tatap mataku eunji” kini kupegang
wajahnya dan menghadapkannya ke wajahku. Terlihat jelas warna merah di pipinya.
Aku tak bisa mengartikan wajahnya yang merah, apa dia marah atau malu. Wajahnya
sangat datar hingga aku susah mengartikannya
Matanya tidak menatapku,
dia menolak kontak mata denganku. Apa dia masih memikirkan ciuman kemarin?.
Argh ini salahmu baekhyun!.
“mianhae, aku telah berbuat
macam macam padamu” kataku sambil memeluknya.
-baekhyun pov end-
Sungguh,
pelukannya begitu hangat. Aku membeku dalam pelukannya yang hangat dan terasa
tulus. Dia masih memelukku. Baekhyun, namja players yang diam diam
menghanyutkanku, perasaan ini kembali lagi. Byun, apa aku menyukaimu?, ada apa
ini, jantungku berdetak tak beraturan, jangan sampai dia mendengarnya, kumohon.
Sekarang
dia melepaskan pelukannya. Dan menatapku dalam dalam. Aku segera membuang muka
dan menolak mentah mentah kontak mata denganya. Aku terlalu takut menatapnya
setelah kejadian semalam. Yah walaupun belum terlewat batas, tapi menurutku itu
sudah hampir membuatku frustasi seperti siswi seumuranku yang perutnya
membulat. Itu juga karena aku terlalu polos.
“tatap
mataku sekarang eunji, aku mohon. Aku minta maaf tentang kemarin” katanya lagi
memohon dan meminta maaf.
Dengan
berat kulirik namja didepanku ini dan menatap dalam matanya. Dilihat dari
tatapannya kepadaku, dia terlihat sangat menyesal akan kejadian kemarin.
“eunji...”
panggilnya yang tak kujawab. “eunji...” dia tak henti hentinya memanggil
namaku. “eunji...” lagi, dan kali ini dengan puppy eyes dan aku sudah tak kuat.
“mwo?,
aku sudah memaafkanmu” kataku dingin yang masih duduk di atas meja dapur.
“apa
kau menyukaiku?” tanyanya yang tak kujawab. “aku menyukaimu eunji” katanya lagi
yang membuat mataku terbelak
“berhentilah
baekhyun, jangan main main, aku lapar, ayo ma—“ kata kataku terputus saat
sesuatu mendarat cepat dibibirku.
Lagi,
kita berciuman lagi. Kali ini aku tak bisa menolaknya, secara refleks kubalas ciumannya.
Kami menutup mata secara bersamaan. Kukalungkan lenganku di lehernya dan
baekhyun mendorong tengkukku sambil memiringkan kepalanya.
Apa
ini, aku tak merasakan hawa nafsu darinya, dia tulus bahkan sangat tulus, tidak
ada maksud apa apa. Baekhyun melepaskan ciumannya denganku, bibirku basah
karena lidahnya berusaha membuka mulutku yang selalu kutolak.
“kenapa
kau tidak membukanya?” tanyanya kecewa
“aku
takut” jawabku takut tapi kututupi dengan sikap dinginku
Baekhyun
hanya tersenyum hingga memperlihatkan eye smilenya. “kau polos sekali park
eunji” dia mengusap usap ujung kepalaku. “aku menyukaimu tulus, percayalah” aku
masih terdiam.
Tiba
tiba aku dikagetkan dengan sesuatu yang menempel dibibirku lagi. Kali ini dia
menciumku dengan cepat.
“you
are mine eunji, jangan biarkan bibirmu tersentuh oleh namja lain, janji?”
“’mine’?
apa maksudmu?” tanyaku polos memandang matanya, bagian yang paling kusukai
“dasar
lambat, mulai sekarang kau adalah yeoja chinguku, ok?. Aku sudah menahan
perasaan ini darimu sejak awal kita bertemu, tapi maaf aku melampiaskan
perasaanku dan menutupi darimu dengan mengencani beberapa yeoja yang tak
kucintai beberapa waktu yang lalu, dan—“
Kali
ini aku yang menciumnya dulu dan membuat matanya membulat. Kupejamkan mataku
dan menarik kerah bajunya untuk memperdalam ciumannya. Perlahan kurasakan
tangannya melingkar di pinggangku. Kali ini aku ingin mencoba lebih berani
dengan membuka mulutku sedikit. Dapat kurasakan lengkungan di bibir baekhyun.
Dan yah..., hal yang masuk dalam kategori menakutkanku ini terjadi padaku,
lidah kami bergulat. Dilihat dari caranya melakukan french kiss padaku, kurasa
ia sudah melakukannya berkali kali. Saat aku mulai kehabisan nafas, kulepaskan
ciuman itu secara sepihak, dan terlihat jelas wajah kecewa darinya hingga
memperlihatkan puppy eyesnya
Aku
turun dari meja dan tanganku masih memegang kerahnya yang sempat kuremas. Aku
membuang muka darinya. Mukaku sudah merah. Ini pertama kalinya aku memulai
duluan sebuah ciuman.
“a...aku..
eum..., ok aku janji tidak akan kubiarkan namja lain menyentuh bibirku” kataku
sambil menunduk dan saat kulirik sedikit, namja itu tengah tersenyum manis
kearahku
“mwo?,
kenapa kau masih memegang kerahku, eoh?, kau ingin lagi?” tanyanya tiba tiba
baekhyun maju sedikit tapi kutahan dan aku masih memegang kerahnya.
“ah,
mian” aku membenarkan kerahnya yang tertekuk karenaku dan tanpa kusadari
tanganku turun ke bawah dan mengusap dadanya sedikit dan juga aku masih
membuang muka darinya
“yak!,
kau ingin lebih?” tanya baekhyun polos
“mwo?”
tanyaku jauh lebih polos
Baekhyun
hanya melirik ke arah dadanya. NYEES... rasanya ada yang membakar hatiku dengan
minyak, panas sungguh panas. Aish..., apa yang kau lakukan park eunji.
“i..ini..,
tidak... aku... eum...” aku diam menggigit bibir bawahku dan menyembunyikan
tanganku dibalik tubuhku.
“eum
apa?”
“ya,
aku akan menjadi milikmu” kataku salah tingkah
“jeongmal?”
lagi lagi namja ini mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“
i..iya, Tapi bisakah kita makan?, aku lapar dan hampir sesak nafas karenamu”
ucapku sambil mengelap bibirku yang rupanya cukup basah.
“arra,
kalau begitu ayo kita makan” dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku
menatapnya dengan tatapan ‘mwo?’. “morning kiss?” tanyanya sambil memajukan
bibirnya sedikit
“mwoya?,
kau belum puas dengan yang tadi, eoh?, dasar namja mesum! Jika kita
melakukannya lagi itu akan menjadi yang kelima!” seruku lalu menendang kaki
kanan baekhyun dan berhasil membuatnya menggerang kesakitan lalu membawa bubur
ke meja makan.
-eunji
pov end-
Saat
makan, hanya baekhyun yang bicara dan eunji hanya membalasnya dengan ‘hem...’
‘oh..’ ‘yap!’ dan yang lainnya sambil mengangguk entah mengerti atau tidak.
Sampai pada saat baekhyun bercerita sesuatu yang membuat eunji hampir terlonjak
dari duduknya, eunji mulai membulatkan matanya.
“yak,
apa semalam itu yang pertama untukmu?” tanyanya yang masih asyik dengan makanan
didepannya. Eunji hanya membulatkan matanya lalu kembali ke acara makannya.
“mwo?”
tanya eunji balik dengan datar dan dingin.
“ya...,
yang semalam disitu” kali ini baekhyun berhenti menyendok makanannya dan
menunjuk kamar dengan sorot matanya. Eunji mengikuti arah mata baekhyun dengan
mulut yang penuh, lalu kembali makan.
“ani”
jawabnya singkat
“mwo?,
jadi kau pernah melakukannya?, dengan siapa?, bahkan kau yang pertama untukku”
terlihat wajah kecewa baekhyun. Sekarang dia hanya memainkan makanannya dengan
memajukan bibirnya.
Kata
kata terakhir baekhyun membuat eunji tersedak. Ia tak percaya jika itu pertama
kalinya. ‘kau yang pertama untukku?, aku
tak percaya, hampir saja kusemburkan buburku kepadanya’ batin eunji
“gwenchanayeo?,
minumlah”
“pe..pe..pertama
katamu?” tanya eunji yang dibalas baekhyun dengan anggukan polos. “bahkan
dengan mantanmu kau tidak pernah?” tanya eunji lagi dan lagi lagi dijawab
baekhyun dengan anggukan polos dan masih memajukan bibirnya. “kau ini tidak
peka atau bagaimana?, salah satu keinginan seorang yeoja pada saat pacaran
adalah ciuman” balas eunji sewot
“oi!,
kau ini kenapa?, harusnya kau berterima kasih karena kau yang pertama untukku,
eoh?, ciuman pertamamu bahkan sudah melayang ke orang lain” semburnya pada eunji
“ya,
dan itu adalah namja bernama byun baekhyun” balas eunji yang berhasil membuat
baekhyun tutup mulut. “saat pemakaman in jae, kita pergi ketaman dekat
pemakaman karena aku tak kuat untuk menangis di depan keluarganya” kata eunji
lagi.
In
jae adalah salah satu sahabat mereka sejak SMP sebelum baekhyun pindah ke
amerika lalu kembali lagi kesini. Ok, kembali ke injae yang terserang sebuah
penyakit mematikan yang tidak menular. Hanya kami yang berani mendekatinya dan
membuatnya tersenyum lepas. Dan eunji masih ingat pesan terakhir dari eonma in
jae ‘terima kasih, kalian telah membuatnya tersenyum dan mengenal dunia luar.
Dulu ia sering menyendiri di kamar, dan menangisi dirinya. Seharusnya tuhan
mempertemukan kalian sebelumnya, karena mungkin kalian bisa membujuknya untuk
melakukan operasi, tapi tuhan malah tidak memperbolehkannya. Terima kasih
kalian telah memberi hari hari terakhirnya dengan senyuman, bukan tangisan’
kurang lebih seperti itu kalimat eonma injae
“saat
kau kira aku tertidur di pundakmu, kau diam diam menciumku bukan? Dan yang
kemarin bukan pertama kalinya untukmu bukan, byun?” tanya eunji dengan tatapan
‘kena kau baekhyun’
“jadi
aku yang pertama untukmu?” tanyanya tak yakin dan hanya eunji balas dengan
anggukan kecil. Dapat dilihat mood baekhyun kembali seperti semula.