Tampilkan postingan dengan label I Remember. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I Remember. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Maret 2014

FanFic I Remember 2/?

Ahaa~~~ Jae balik :3 nih ep ep.a yg jae janjiin
moga pd suka y :3 jae bakal post d ep bi besok :3
oKai deh langsung aj baca y, mian klo chapt sebelum.a kurang greget
ChenKaiD.O~~!!!

Eun ra pov

“masuklah” lagi lagi dia membentuk lengkungan dibibirnya itu. Dan itu pasti sudah cukup membuat teriakan keras sekumpulan fangirl.
“sirreo, pergilah dulu” tolakku
“sirreo, jika kau tak masuk, aku akan di sini menunggumu sampai kau masuk”
Argh! Dasar keras kepala!. Aku hanya bisa tersenyum malu. Lagi. Kami diam sambil terkadang saling lempar pandang.
“apa kau benar benar ingin aku tinggal bersamamu di rumahmu?” ucapnya dengan santai
JLEB...
Kali ini sebuah peluru yang menghantam keras kepalaku. Mungkin jika peluru itu benar benar menghantam kepalaku, pasti peluru itu akan membuat lubang tepat di dahiku.
“eh?, kalau begitu aku masuk dulu” ucapku  seakan tidak mendengar perkataannya tadi lalu segera masuk.
Kumasuki kamarku yang tidak terlalu besar ini dengan langkah yang berat. Perlahan aku berjalan ke jendela. Masih dapat kulihat sosok seorang idol itu. Ia yang menyadariku segera tersenyum lalu melambaikan tangannya dan memakai helmnya lalu pergi meninggalkanku yang masih leleh karena senyumnya. Kulemparkan tubuhku ke atas ranjang dan masih membayangkan sebuah senyuman. Sungguh, dia seperti seorang malaikat yang tersenyum hanya untukku. Dan dengan cepat otakku kembali mengingat sebuah nama ‘oh se hun’
“ kim eunra! Apa yang kau pikirkan?” ucapku sambil duduk ditepi ranjang. “sudah lebih baik memikirkan luhan, kenapa sehun?”
Aku beranjak dari kamarku dan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku dan pikiranku. Setelah aku merasa lebih baik, kuarahkan langkahku ke laptopku dan mengecek tugasku dan jae hi. Kulihat ada sedikit perubahan
“mwoya?, apa jae hi yang merubahnya?, tapi kapan?, apa mungkin...” sebuah nama terlintas di pikiranku dengan sangat cepat. “eits, tidak mungkin, aku tidak yakin iqnya lebih tinggi dari jae hi, tapi ini sepertinya lebih baik darinya, sudahlah, biar jae hi yang mengurusnya” kututup laptopku dan menyisakan beberapa pertanyaan di otakku.
-eun ra pov end-

Luhan pov

aku melangkah masuk ke dorm, dan ada apa dengan tempat ini. Dorm kosong, tak ada seorang pun disini. Dengan cepat kukeluarkan hpku dan menelpon manager
“yeobsseo?, hyung kenapa dorm sepi?, yang lain kemana?” tanyaku sambil duduk di sofa.
“cepat ke rumah sakit pusat (apalah ini, author gak tau). Yang lain sedang disini” balasnya dari seberang
“mwo?, siapa yang sakit?”
“sudah kemari saja, nanti kujelaskan, ppali!” nadanya yang terdengar sangat mengkhawatirkan itu membuatku berlari ke parkiran dan mengebut melewati jalanan seoul
Mataku menangkap sesosok xiumin hyung yang terlihat cemas di pintu utama rumah sakit, segera kuparkirkan motorku ini. Dengan cepat, kakiku mengarah ke xiumin hyung.
“hyung, siapa yang sakit?”
“aish, kau ini lama sekali. Kajja, ikut aku" ucapnya yang masih terlihat cemas dan berlari mendahuluiku.
Aku hanya bisa mengekorinya dan menyisakan satu pertanyaan ‘ada apa sebenarnya ini?’
Kami berhenti di depan UGD. Member yang lain ada di sini kecuali suho, chen, dan sehun. Dimana mereka. Terlihat wajah mereka sangat pucat. Kulihat manager yang duduk di bangku pojok dekat pintu.
“hyung sebenarnya ada apa?” tanyaku menghampirinya. Dia tak menjawab. “hyung!” seruku. Aku melirik ke member lain yang sebagian duduk dan sebagian menyandarkan diri di tembok sambil menunduk.
“sehun...” kudengar sebuah suara yang datang dari mulut baekhyun.
“wae?, ada apa dengannya?”
“dia didalam” sambung chanyeol yang duduk di sebelah baekhyun
“mwo?, apa maksud kalian?, kalian tidak berniat untuk mengerjaiku bukan?, ini bukan ulang tahunku”
“mereka serius. Sehun kecelakaan, dia didalam” kali ini manager yang bicara.
“mwo?. Lalu chen dan suho?, dimana mereka?, apa mereka juga terlibat dalam kecelakaan ini?”
“tidak, mereka ada pemotretan” sekarang lay yang bicara
“mwo? Disaat seperti ini?” kini aku terduduk lemas disamping kris. “kapan sehun kecelakaan?” tanyaku pada kris.
“tepat jam setengah tujuh barusan” sebuah suara asing menjawab pertanyaanku tadi. Seorang ahjusshi dengan dua wanita yang mengikutinya keluar dari ruang UGD.
“bagaimana keadaannya?” tanyaku cepat. Semua mata tertuju pada ahjusshi yang tadi menangani sehun.
“dia butuh oprasi secepatnya. Hantaman tadi cukup keras. Mungkin setelah operasi, beberapa memorinya hilang, dan jika ia tidak segera operasi, mungkin ia tidak akan bertahan lama di dunia ini. untuk lebih lanjut, mungkin manager mau ikut saya sebentar?” tanya dokter
“ah, ne” jawab manager.
“dok?, boleh kami melihat sehun?” tanya D.O
“silahkan” jawab dokter lalu pergi diikuti dua suster tadi dan manager.
Didalam, terlihat sehun yang terbaring lemas. Kepalanya terbalut perban, kaki dan tangannya hanya luka dan lecet. Beruntung wajahnya tidak mendapatkan lecet sedikit pun. Beberapa dari kami hanya dapat menahan air mata. Sialnya, aku sudah tidak dapat menahan air mataku yang sudah jatuh dari tadi. Ternyata kata ‘gentle’ tidak berlaku disaat seperti ini.
“sehun, kau telah berhasil membuat kami menjatuhkan air mata” lirihku sembari melangkah ke arah ranjang yang ditiduri sehun.
Alat bantu pernafasan terpasang di wajah sehun yang mulus itu. Selang infus tertancap di punggung telapak tangannya. Matanya masih tertutup rapat, rapat sekali sehingga tidak mengijinkan sedikit pun cahaya masuk kedalam.
“sehun-ah, kau harus janji kalau setelah oprasi, kau tak boleh melupakan kami semua, eoh?” aku menatap wajahnya dalam dalam
“sehun...” kami semua telah mengelilingi ranjang sehun.
Tao yang mudah terbawa suasana, pergi ke luar tunggu karena sudah tak kuat lagi. Mata chanyeol sudah berkaca kaca dan menutupi tangisannya di balik pundak baekhyun yang lebih pendek darinya. Lima menit lebih aku disamping sehun dengan baekhyun dan kai. Kami masih menunggu suara khas sehun keluar dari mulutnya hingga akhirnya manager datang dengan suho dan chen.
“yak, di saat seperti ini kalian masih bisa pemotretan, eoh?” celetuk baekhyun tiba tiba. Memang tadi ia tak menangis, tapi kuyakin dia pasti akan mengeluarkan air mata di dorm walaupun sedikit dan tak separah aku.
“mian, tuan lee yang meminta kami. Kalian tau sendiri bukan jika kita tidak menuruti perintahnya?” chen menunduk menyesal
“saat kami sedang di cafe dekat dorm, kami di hubungi oleh dua pihak. Satu dari tuan lee, dan satunya dari kris hyung yang mengabari tentang sehun” tambah suho yang dari tadi matanya terfokuskan oleh namja yang terbaring di tempat tidur.
“terserah kalian. Ah hyung, apa yang dikatakan dokter tadi?” tanya luhan membuyarkan lamunan managernya
“eh?, um..., dia hanya memberi tau kondisi sehun lebih detail, nanti di dorm akan kujelaskan. Lalu sehun akan di terbangkan ke hongkong untuk operasi dan masa pemulihan, dia akan berangkat lusa. Lebih baik kalian kembali ke dorm, tidak boleh ada yang menginap disini” manager menekankan kalimat terakhir sambil melirikku, karena ia sudah hafal apa yang akan kuucapkan. Aku hanya bisa mendengus kesal. “kai, baekhyun tadi kalian kemari bersama dengan member lain bukan? Mereka sudah ke dorm duluan, lebih baik kalian ikut mobilku bersama chen dan suho” kata manager lagi. “luhan, kau bawa motor kan?, kami tunggu di dorm ne”
Aku mengangguk mengerti lalu mengambil jaketku yang tadi ku taruh di kursi samping ranjang sehun. ‘sehun, hyung pergi dulu ne’ batinku lalu tersenyum kepadanya seakan sehun adalah kekasihku. “aku pergi” kataku dingin pada manager dan member yang ada di sini.
Skip à
Aku menaiki motorku sambil memikirkan seseorang yang akan kuajak bicara malam ini, tidak mungkin member exo yang lain karena pasti mereka akan tambah mengeluarkan air mata dan itu pasti akan sangat merepotkan. Kim eun ra. A..apa?, kim eun ra? Gadis yang baru kukenal itu?. Hum..., itu mungkin tempat yang bagus. Bukannya kembali ke dorm, aku segera berniat ke rumah gadis itu.
-luhan pov end-

Eun ra pov

“argh!, mwoya!, kenapa orang itu ada di pikiranku, eoh?” aku bangun dari ranjangku dan membenarkan kacamata besar bolong yang hampir jatuh dari hidungku. Oh se hun. Nama itu terus mengitari otakku. Wajahnya, senyumnya yang terlihat menyebalkan dan semua hal tentang dirinya. Padahal baru bertemu dua hari, orang itu terus mengganggu pikirannku. Tiba tiba eun ra teringat kata kata jae hi pada saat jae hi jatuh cinta.
‘jika kita sering memikirkan orang itu, itu tandanya kita sedang menaruh rasa terhadapnya atau mungkin, kita jatuh cinta kepadanya’ ia sengaja menekankan kalimat terakhirnya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“andwe, andwe, haha andwe!” seruku kegilaan. “ah sudahlah” aku itu melangkah ke depan cermin. Terlihat sosok gadis dengan sweater putihnya dan hotpants di kaca. Rambutnya yang hitam sepinggul dan mengombak sedikit di ujungnya, dibiarkan tergerai begitu saja. Wajahnya memang seperti ulzzang, tapi aku tidak yakin kalau aku ulzzang (aneh ya ._.v). poninya lurus menutupi dahinya dan kacamata bolong yang bingkainya berwarna hitam itu menghiasi wajahnya yang mulus.
‘ting...tung...’ bel rumahku berbunyi
“ugh..., siapa yang datang malam malam begini?” kulangkahkan kakiku ke pintu dan membukanya. Dan pemandangan apa yang  kulihat?. Namja yang berhasil membuatku beku dan leleh secara bersamaan. Sebenarnya dia mau apa sih?, apa dia benar benar akan menemaniku?, eit tunggu dulu apa maksudnya?, berpikir positif eunra, jangan berpikir yang tidak tidak, dia seorang idol, tak mungkin mengecewakan fansnya begitu saja. Aku terus melangkah ke gerbang kecilku sambil memikirkan yang tidak tidak, tapi kutepis pikiran seperti itu dengan cepat.
“waeyeo?, ada apa oppa kemari?” tanyaku sembari membuka gerbang. Disaat yang sama pada saat kubuka gerbang, namja itu menaruh kepalanya yang terasa berat baginya di pundakku. Aku yang kaget hanya bisa diam menunggu jawabannya. Perlahan kurasakan seperti ada air yang menetes di pundakku. Tunggu dulu, apa itu air liurnya, dan dia mengingau sampai kesini?. Apa ini?!
“hiks...” pelan aku mendengar suara tangisan tepat di telingaku. “eun ra-sshi...” ucapnya lirih disela sela menangisnya.
“oppa, kau menangis?, masuklah dulu, nanti ada yang melihat” aku mengajaknya masuk dan membuatkannya teh. aku duduk disampingnya yang sedang menahan tangis, tapi itu semua sia sia. “cerita saja” ucapku sok akrab. Bwuehehe -,-“
“sehun...”
JLEB
Kenapa nama itu lagi
“ada apa dengannya?” kulirik namja di sebelahku dengan tatapan penasaran. Sebenarnya ada apa dengan namja gila (peace lo ._.v) itu?, ada apa denganya?, kelihatannya sangat serius. Ugh kenapa aku jadi sangat khawatir begini.
“dia kecelakaan” kali ini dia menangis di pundakku.
Ah..., pantas saja dia menangis sampai seperti itu. Sehun ternyata kecelakaan. Yah tak ada salahnya dia menangis, karena kudengar dia sangat dekat dengan sehun, fans mereka sering menyebutnya hunhan shipper atau apalah itu aku tak mengerti.
“bagaimana keadaannya?”
“dia akan di operasi di hongkong lusa” kali ini dia menyandarkan dirinya di sofa yang kami duduki sambil menghapus air matanya dipipinya dan menatap langit langit rumahku.
“apa akan lama?”
“ya, sekaligus pemulihanya disana, mungkin akan memakan dua bulan atau lebih” air mata luhan mulai mengering.
Perlahan kepalanya jatuh ke pangkuanku. Dapat kurasakan rambutnya yang menyentuh lembut kulitku dan nafasnya yang berhembus pelan tepat di pahaku. Ugh sungguh ini sangat geli, tapi aku juga takut jika ia melakukan ‘apa apa’ kepadaku, aku masih polos. Eit!, lagi lagi aku berpikiran yang tidak tidak.
“biarkan aku bermalam disini” ucapnya seraya menutup matanya
JLEB.
Lagi lagi ada pisau menancap di tubuhku, kali ini di kakiku. Mataku membulat sambil mencoba melihat ke wajahnya yang tertutup rambut cokelatnya. Dia benar benar melakukannya. Kim eun ra!, berpikir positiflah.
“akan ku ambilkan bantal dan selimut” aku mencoba berdiri, tapi ia mencegahku dengan memperdalam kepalanya.
“tetaplah seperti ini dulu, tunggu sampai tidurku pulas. Tak apa kan?” kini ia melirik kecil kearahku. Aku hanya bisa mengangguk dan menyandarkan tubuhku di sofa.
Ugh..., aku mulai ngantuk, yang benar saja aku harus menunggu dia sampai pulas, yang benar saja aku harus begadang demi namja ini. tapi apa boleh buat, aku sudah terlanjur mengiyakan permintaannya tadi. Setelah aku menunggu aku menunggu aku menunggu (korban spongebob ._.v) akhirnya luhan tertidur pulas di pangkuanku, walaupun aku tak yakin jika ia benar benar pulas. Aku ingin berdiri dan mengambilkannya bantal dan selimut, tapi aku juga takut jika membangunkannya. Dengan sangat hati hati aku berdiri lalu menyelempitkan bantal di antara sofa dan kepalanya, lalu menyelimutinya. Aku tersenyum kepadanya, oh tuhan, bagai mana bisa kau membuat manusia seperti ini?, sungguh wajahnya terlihat sangat polos jika tidur, sepolos bayi yang baru lahir. Oh tidak!, aku hampir leleh. Kuangkat kakiku dengan cepat hingga ada yang menarik pergelangan tanganku. Aku kenal tangan ini, tangan luhan. Sekarang aku jatuh di atasnya. Jarak wajah kami hanya beberapa senti, entahlah mungkin jika aku tidak segera mundur sesuatu akan terjadi.
“mian, aku tak bermaksud” ucap luhan memalingkan wajahnya dariku
“ani, aku yang membangunkanmu. Apa aku harus menemanimu sebentar?” jleb!, apa yang kukatakan?. Sumpah demi apapun, mulutku secara refleks mengatakan itu.
Kini luhan tersenyum kepadaku. “tentu, kau sudah membangunkanku. Duduklah dibawah, mungkin itu akan memudahkanmu untuk pergi secara diam diam”
Ah~, baiklah ini lebih baik. Dengan segera aku duduk di bawah. Kepalaku dan kepala luhan bersebelahan. Mungkin jika aku menengok ke kiri dan dia mendongak ke atas sedikit, mata kami akan saling bertemu. Jujur, sekarang aku bosan, kulirik sebentar namja yang sedang tidur di sofaku. Wah~ wajahnya, tunggu tunggu, ada apa ini?, kenapa dia cantik? O.o sebenarnya luhan ini namja atau yeoja. Apa aku harus membuka bajunya?, bukan, bukan bagian bawah, tentu saja bagian atas sedikit saja. Bagian bawah terlalu mengerikan untuku. Kim eun ra!, apa yang sedang kau pikirkan?. Lagi lagi aku melirik ke arah idol itu lagi. Yah pantas saja banyak fansgirl yang meneriakinya, lihat saja wajahnya, dia tampan dan cantik sekaligus, dia memang ulzzang china.
Hm..., sepertinya dia sudah pulas. Baiklah, kulangkahkan kakiku ke kamarku dan menutup pelan pelan.
-eun ra pov end-

Author pov

Luhan membuka matanya sedikit. “dia sudah pergi, eoh?, padahal aku berharap dia tertidur disini” gerutu luhan yang menyadari kepergianmu.
Paginya, didapur sudah terdengar suara berisik. Luhan yang terbangun karena suara berisik di dapur, segera melangkah ke sumber suara. Terlihat seorang yeoja manis mengenakan celemek sedang memotongi beberapa sayuran.
“kau sudah bangun, oppa?, apa aku membangunkanmu?” tanyamu yang tidak mengalihkan pandangan dan perhatian dari masakanmu.
“ani, tidak sama sekali. Apa yang sedang kau masak?” tanya luhan yang duduk di meja makan.
“mandilah, setelah itu kita makan” kau tidak menanggapi pertanyaan luhan dan terus memasak. Kau  memasukan sayuran ke panci lalu menoleh ke luhan dan tersenyum.
‘lihatlah bibirnya yang manis itu tersenyum kepadaku, ditambah eye smilenya. Sungguh dia sangat manis, dan aku suka sifatnya, walaupun sedikit kekanakan saat pertama bertemu, tapi dia sepertinya sangat lembut dan penuh perhatian seperti seorang ibu’ batin luhan sambil terus tersenyum ke arahmu. “baiklah, aku mandi” luhan meninggalkanmu yang masih tersenyum melihat kepergiannya.
Setelah luhan mandi, ia sadar bahwa bajunya kotor semua. ‘argh!, apa yang harus kulakukan, yang benar saja aku harus mengenakan pakaianku yang kotor, itu menjijikan’. “eun ra-sshi!” luhan berteriak dari kamar mandi.
“wae?” kau  pun membalas sambil melangkah ke kamar mandi.
“baju, aku tak membawa baju” jawab luhan. Eun ra tak menjawab. “eun ra-sshi?” tanya luhan
“bukalah pintunya” ucapmu yang sudah ada di depan kamar mandi
“mwo?, apa yang sedang kau pikirkan?”
‘apa dia berpikir aku akan macam macam, eoh? -,-‘. “buka saja sedikit, aku bukan yeoja seperti itu, katamu aku polos bukan?” balasmu sambil mendengus kesal.
Pintu kamar mandi mulai terbuka. Luhan dikejutkan oleh tangan mungil seorang yeoja yang masuk sambil membawa beberapa pakaian.
“pakailah, itu milik kakakku, aku tak yakin jika itu semua akan pas ke tubuhmu” luhan hanya mengangguk dan mengambil pakaian yang kau pegang. Tanpa luhan sadari, bukannya dia memegang pakaian, ia malah menyentuh tangan eun ra. ‘hangat, mungkin karena dia sedang memasak’. “gumawo” luhan menutup pintu.
‘dasar, ternyata dia mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memegang tanganku, eoh?’ batin eun ra dengan pedenya lalu melanjutkan acara masaknya.
Luhan telah menunggu di depan meja sambil menyalakan tv. Kau pun segera datang dengan dua mangkuk sup dan dua gelas air putih. “maaf, aku hanya memiliki ini”.
“tidak, ini lebih baik dari pada di dorm” kata luhan yang melihat eun ra menaruh supnya didepannya. Luhan segera melahap supnya. “ini bahkan lebih baik dari pada milik kyungsoo”. Kau tak membalasnya, karena kau telalu sibuk memakan supmu.
Skipà
Hari ini sehun akan tebang ke hongkong ditemani manager dan orang tuanya tentunya. Banyak member exo yang menangis karena akan ditinggal salah satu membernya. Paparazzi sudah memenuhi bandara, fans banyak yang membawa banner dengan doa dan semangat untuk sehun. jika saja sehun bisa melihatnya, mungkin dia akan tersenyum, tapi kini dia terlalu menikmati alam mimpinya.
“jaga diri kalian baik baik, untuk beberapa bulan, kalian tidak ada jadwal khusus, hanya ada beberapa pemotretan” kata manager. “suho, kris, jaga anak kalian baik baik” manager segera pergi menyusul orang tua sehun yang sudah naik dari tadi. Walaupun terdengar menyenangkan, tidak ada jadwal selama beberapa bulan, tapi itu juga akan sangat membosankan tanpa sehun.
~dorm exo~
Semua member berkumpul di ruang tv. Semua kecuali sehun. Mereka diam sambil melamun dan terkadang mereka secara bersamaan mengeluarkan sebuah suara “hah...” dengan wajah lesu. Parahnya lagi baekhyun dan tao, mereka terus berbicara tidak jelas tanpa henti. Jika bakehyun berhenti, tao yang akan bicara terus, begitu pun sebaliknya. Tiba tiba sebuah pesan masuk ke hp luhan. Eun ra. ‘eun ra?’ luhan membaca nama pengirim dan isi pesan dalam hati
“oppa, bagaimana keadaan sehun?”
~eun ra~
Hpmu bergetar, dan itu dari luhan.
“dia sudah ke hongkong. Hei di dorm sangat sepi seperti kamar mayat. Kami seperti zombie.  Mainlah kemari, akan kukenalkan ke member exo yang lain ^^”

Dengan cepat kau balas pesannya yang membut matamu terbuka dengan bulat sempurna.
“apa kau yakin?”
Dan luhan membalasnya dengan cepat
“tentu saja, kemarilah. Bukan berarti kalau image kami sebagai wolf akan melukaimu. Cepatlah kemari. Ppali ppali!”
Skipà
~dorm exo~
Luhan mendapat pesan lagi setelah beberapa menit
“aku sudah di depan dorm kalian, aku takut untuk masuk, bisakah kau yang keluar?”
Namja itu tersenyum dan berjalan ke arah pintu diikuti oleh pandangan penuh tanya dari member lain.
“yak!, luhan!, mau kemana kau?” tanya kris yang dari tadi memeluk ace
“akan kuperkenalkan kalian kepada seorang yeoja, kalian mau”
Seakan kalimat luhan barusan itu sebuah sihir, semua member membulatkan matanya masing masing, walau pun tak sebulat milik kyungsoo dan menegakkan tubuh mereka.
“apa dia cantik?” kai yang mulai mengeluarkan suara
“apa dia pintar memasak” kali ini D.O
“apa dia menyenangkan?” baekhyun berdiri dari duduknya untuk bersiap siap menyambutmu.
“kalian lihat saja nanti, jangan pernah befikir untuk melakukan sesuatu yang gila pada yeoja ini, eoh?” luhan menekankan kalimat terakhirnya sambil melirik ke arah kai dan D.O
“kenapa dia melirik kami dengan tatapan seperti itu, ha?” kai bersandar di pundak D.O yang lebih pendek darinya. Luhan hanya tersenyum palsu lalu pergi ke pintu
“yak!, kenapa lama sekali?” gerutumu kesal pada luhan yang membuka pintu.
“kajja” kini namja itu menarik pergelangan tanganmu
Kalian berjalan beriringan. Luhan menaruh tangannya di pundakmu dan mendorong pelan tubuhmu ke ruang tv. Satu per satu mata di ruangan itu mulai terfokuskan padamu, kecuali sepasang bola mata milik kai, dia masih asyik dengan gadgetnya. D.O menyenggol lengan kai dengan sikutnya beberapa kali.
“jongin-ah” D.O masih menyenggol lengan kai
“mwo~?” kai mulai merasa teganggu dan melirik ke D.O. telunjuk D.O mengarah tepat ke arahmu. Mata kai pun mengikuti arah telunjuk D.O.
Perlahan kaki namja tadi melangkah ke arahmu. “annyeong, jongin imnida” namja itu mengulurkan tangannya dan kau menjabat tangannya. Dengan cepat tanganmu ditariknya keatas tepat didekat bibirnya. Dengan cepat pula luhan mengambil tanganku kembali yang sepertinya akan terkena bibir jongin.
“yak!, sudah kubilang” luhan mencubit perut kai dengan keras dan sukses membuat kai menggeliat kecil
“wae hyung?, apa dia yeochingmu, eoh?” partanyaan kai berhasil membuatmu melotot ke arahnya. Kai yang menyadari itu segera berkata. “eit, kurasa tatapan yeoja ini mengatakan ‘tidak’, benarkan nona?” jongin tersenyum tulus ke arahmu
Kau hanya mengangguk lega dan membalas senyumnya.
“terserah kau jongin, yang penting eun ra akan menjadi milikku”
JLEB!
Lagi lagi kau merasakan pisau meluncur tepat di punggungmu. ‘apa dia sama seperti sehun?, namja gila yang ugh sudahlah tidak penting. Tapi ini lebih parah, dia mengatakan dengan pedenya di depan member exo yang lain’ batinmu
“jadi gadis ini masih bebas kan?, kalau begitu um..., tadi namamu eun ra bukan?” tanya kai padamu dan hanya kau balas dengan anggukan kecil. “kalau begitu kajja”.
Kai menarikmu ke arah sofa dan mendudukanmu diantaranya dan suho.
“apa kau masih kuliah?” tanya suho
“nde” jawabku singkat
Lama sekali kalian berbicara tentang banyak hal sampai melupakan insiden sehun. Dan yang paling banyak berbicara adalah baekhyun. Dia bercerita sambil melakukan aegyo. Member lain sering bicara “ya..., hentikan aegyomu itu” jika terasa risih dengan aegyo baekhyun yang berlebihan.
-author pov end-

Eun ra pov

“hyung..., aku lapar” rengek kai yang ada di sebelah D.O dan mulai bosan dengan celotehan baekhyun
“argh..., masaklah ramen sendiri, aku sedang malas” jawab D.O sambil menenggelamkan dirinya ke sofa.
“hyung jebal~” kini kai yang melakukan aegyo. Agak aneh memang.
“apa kalian lapar?” tanyaku sambil memandang member exo satu satu
“ne!” seru mereka semua serentak sperti anak tk 
“akan kumasakan kalian sesuatu” aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke dapur dan menguncir rambutku yang tadi kubiarkan tergerai dan dimainkan oleh tao.
“aku bantu ya” terdengar suara D.O yang melangkah mendekat ke arahku
“ya hyung, bukannya tadi kau bilang sedang malas, eoh?”
“diamlah atau tidak boleh makan” D.O menatap tajam meber exo yang lain
“dasar”  baekhyun mencibir
Aku hanya bisa tersenyum menlihat dan mendengar sikap member exo. Apa aku benar benar membuat mereka lupa tentang sehun?. Kurasa aku akan sangat di butuhkan disini. Kubuka kulkas yang ada di dapur, dan apa ini?, apa yang aku lihat?, hampir semuanya makanan instan -,- apa tidak ada yang lain?. Aku mencoba menemukan sesuatu di kulkas.
“apa kalian selalu memakan makanan instan?” tanyaku yang masih sibuk di depan kulkas
D.O yang berdiri di depan meja dapur sambil memainkan jarinya segera menjawabku. “aniyeo, jika aku malas memasak untuk mereka saja”. Namja bernama asli kyungsoo itu melirik member exo yang yang ada di ruang tv lewat jendela kecil dengan kaca yang menghadap langsung ke ruang tv. Dilihatnya member exo lain yang sedang membicarakan beberapa lelucon kecil, D.O yang melihatnya hanya tersenyum kecil, dan pada saat yang sama aku meliriknya, aku pun tanpa sadar tersenyum untuknya dan kembali ke kulkas. Ugh...aku hanya bertemu beberapa sayuran di kulkas.
Kulahkankan kakiku ke beberapa rak dan lemari di dapur ini. Tebak apa yang kulihat dari semua lemari yang kubuka, semua kosong, kecuali satu lemari penuh dengan makanan instan.
“apa maksud oppa dengan ‘jika aku malas’, eoh?, apakah kulkas dan semua lemari disini menjelaskan bahwa oppa setiap hari malas memasak untuk mereka dan hanya hari tertentu oppa masak untuk mereka?” tanyaku menatap namja pendek yang masih berdiri
D.O hanya meringis dan menunjukkan bibirnya yang berbentuk hati. “kami belum berbelanja”.
“kalau begitu kita terpaksa makan ramyun”
Segera kuambil dua belas ramyun di lemari dan menaruhnya di meja dekat D.O berdiri. Matanya yang membulat menatap tajam bungkus bungkus ramyun yang kujatuhkan di atas meja.
“oppa, tolong ambilkan beberapa sayuran di kulkas”
Beberapa menit kemudian semua ramyun sudah jadi, um sebenarnya bukan beberapa menit, karena jumlah ramyun yang kita masak dua belas. Kami membawa ramyun ke ruang tv d bantu oleh suho dan lay. Baekhyun dan chanyeol mulai rusuh karena makanan.
“wah enak, lebih enak dari pada milik D.O” baekhyun yang memakan duluan segera membuka mulut.
“yak!, makanlah saja jangan banyak bicara” D.O memukul kecil baekhyun dengan sumpitnya yang masih bersih.
2 bulan sudah aku menemani member exo yang kadang kesepian karena sehun. Suho yang terkadang mengajakku bermain game, chanyeol yang juga sering ngerapp gak jelas untukku, D.O yang sering memasak bersamaku untuk member exo, tao yang kadang menganggapku sebagai eonma -,- dan lain lain, yang paling sering bersamaku adalah luhan, entah dia yang kesepian tanpa sehun atau bagaimana, hubungan kami semakin dekat, seakan akan dia menganggapku sebagai yeochingnya, bahkan kami pernah kepergok jalan berdua di taman oleh member exo, dan karena itu pula semua mengira kami berpacaran, tapi itu lebih baik dari pada kepergok oleh netizen, pasti itu akan membuatku di bully oleh fangirl luhan dan skandal bertebaran dimana mana, mengingat popularitas exo sedang naik. Tapi ada satu yang mengganggu di pikiranku setiap jalan dengan luhan oppa, yaitu namja dengan nama oh se hun terus mengitari kepalaku. Dia seakan meninggalkan sesuatu yang tak bisa hilang dariku. Tapi juga terkadang aku mengingat nama luhan. Jae hi sudah tau semua, dia pun sudah berjanji padaku untuk merahasiakannya. Saatku curhat dengan jae hi, dia hanya bicara sambil menggebrak meja yang ada di antara kami dan mencondongkan tubuhnya ke depan lalu menatapku tajam “itu artinya, kau berada di dalam cinta segitiga. Kau berdiri di atas dua perahu kim eun ra” yap, masih kuingat tatapannya yang membuat merinding.
-eun ra pov end-

Author pov

Seorang namja berjalan ke arah kursi tunggu di bandara. Wajahnya tertutup masker dan kacamata hitam, jadi tak ada seorang pun yang mengenalnya. Ia taruh kopernya yang tak bisa dibilang berat itu di samping kakinya dan duduk dengan pelan. Tangannya masuk ke kantung kemejanya, dengan cepat nampak sebuah smartphone keluar. Tangannya dengan cepat memasukkan sebuah nomor yang akan ia hubungi.
“hyung, eoddiga?”
~rumahmu~
Hari ini member exo datang kerumahmu, sering sekali member exo datang satu persatu ke rumahmu dengan keperluan yang tidak penting. Beberapa dari keperluan tidak penting itu adalah numpang masak dengan alasan kompor di dorm rusak (kelihatan ini D.O), nitip ace alasannya ace takut sendiri (gak masuk akal ini mah -,-), datang Cuma minta dibeliin bakpao (hehe, ini jelas y *lirikxiumin*), parah lagi baekyeol couple, mereka Cuma numpang pipis -,- mereka sering datang dengan watadosnya, dan lain lain yang mungkin gak masuk akal dan gak penting.
Sekarang member exo sedang menunggu sebuah piring besar penuh ayam dariku dan D.O.
“ya D.O-sshi!, cepatlah” terdengar suara sang leader mulai kelaparan
“jamkkanman!”
“yak!, jangan berbuat macam macam!” kali ini luhan dengan nada jealous.
“memangnya kau pikir aku ini apa, eoh?” D.O keluar dengan piring yang penuh dengan ayam goreng.
“chicken!” kris menyambut hangat ayam yang D.O taruh di meja
“yak!” kau mencegah kris yang tangannya siap menyentuh makanan itu. “chicken isn’t your style, oppa?” kau mengungkit kejadian pada episode pertama exo’s showtime
“bagaimana kau tau?, katamu kau bukan penggemar kami”
“sejak aku mengenal kalian, aku mecoba untuk mengenal kalian lebih jauh dengan menonton acara itu” kau mulai menikmati ayammu sambil menonton film yang yang dibawa lay untuk ditonton di rumahku.
“itu masa lalu, biarkan aku menikmati ini” balas kris
“chicken isn’t my style yeah~” chanyeol mulai ngerapp tak jelas.
~di depan rumahmu~
Terlihat namja tengah memencet bel rumahmu. Dia yang sadar bahwa gerbang kecilmu tak dikunci segera masuk ke halaman rumahmu. Xiumin yang jaraknya paling dekat dengan pintu segera membuka pintu rumahmu. Mata xiumin melebar saat melihat namja yang berdiri di depan pintu rumahmu.
“oppa, siapa yang datang?” teriakmu dari dalam dan tidak mendapat balasan dari xiumin. Kau pun bangkit dari dudukmu dan menghampiri xiumin. “oppa, siapa...” kali ini matamu membulat sempurna, pantas saja xiumin tidak menjawabnya.
“yak!, siapa yang datang eoh?”. “siapa?”. “kenapa kalian diam?”. Satu persatu pertanyaan dilontarkan dan pada akhirnya mereka (member exo) semua berjalan ke arah kami.
“annyeong...” senyum menyebalkan itu terlihat lagi
“sehun...” luhan mendekat ke sehun dan melewati xiumin yang masih diam.
Dengan cepat luhan memeluk dongsaeng kesayangannya itu. Sehun memasang wajah bingung. Kalian yang melihatnya hanya diam menatap tak percaya akan secepat ini.
“neon nuguya?”
 Pertanyaan yang terlontar dari bibir sehun membuat luhan melepaskan pelukannya. Luhan menatap sehun penuh tanya. Matanya fokus menatap sehun dengan tajam. Sehun pun melirik ke arahmu dan tersenyum lalu berjalan ke arahmu diikuti oleh tatapan aneh, bingung, dan tak percaya dari member exo yang lain. Luhan masih menatap kosong ke luar.
“tugas yang ada di flashdiskmu, ada yang kurevisi” katanya dengan senyumnya.
“flashdisk?”
“iya, flashdisk biru yang kupinjam dulu, kau harus berterima kasih dengan memberi tau namamu, aku belum tau namamu sejak awal kita bertemu”
‘dia mengingatku?, tapi tidak untuk member exo?’ pertanyaan itu mengitari otakmu

‘dia mengingat eun ra dan melupakan aku?, kenapa sehun?’ luhan melirik ke arah sehun yang tersenyum ke arahmu


gimana? gimana? msh kurang greget????, duh mian ne, jae lg sibuk bgt, jd pikiran jae melayang kemana mana -,-
sekian dulu deh, jae balik ke alam jae dulu ya *tuing *ngilang (efek suara gagal #abaikan)
#kyjae

Senin, 10 Februari 2014

FanFic I Remember 1/?

Cast:
  • ·         You as kim eun ra
  • ·         Oh se hun
  • ·         Xi luhan
  • ·         Member exo
  • ·         And other cast

Genre: tau ah, yang penting ga nc :3
Author: Kyjae
oKai ini ep ep jae yg k 2, jae terbawa suasana hunhan :'(
happy reading all :3

(chapt 1)

Author pov

Seorang yeoja yg tidak lain adalah kau, berjalan dengan sangat terburu buru karena hampir telat untuk masuk kelas tambahan. Tangan kirimu yg memegang bubble tea, sesekali kau angkat untuk meminum minuman yg sedang kau pegang.
Di sisi lain, ada seorang namja yg sedang berjalan dengan santainya dari arah yg berlawanan sambil meminum minuman yg sama denganmu. Ia mendengarkan musik lewat earphone yg ia sambungkan dengan mp3nya sambil melihat jalanan d seoul. Matanya yg tertutup oleh kaca mata hitam terkadang memandangan pemandangan biru dengan sedikit awan
BRUUK...!
Karena sama sama tidak hati hati, kalian jatuh tepat di pertigaan. Bubble tea kalian tumpah dan hampir mengenai bajumu. Dengan cepat kalian berdiri secara bersamaan.
“yak!” serumu padanya.
“harusnya aku yang bilang begitu!, kalau jalan hati hati, dong” balasnya
“mwo?, kau yang harusnya berhati hati, enak saja menyalahkan orang lain”
“kau...” namja itu mendekat sambil mengacungkan jari telunjuknya padamu dan diam sambil menatap dalam matamu.
Ia menatapmu cukup lama. Tatapannya cukup dalam dan agak menusuk. Mungkin sebagian yeoja akan leleh jika ditatap seperti itu.
“mianhae, aku yang salah” namja itu mundur satu langkah dan membungkuk sedikit.
“apa ini?, apa kau sakit?, kenapa kau tiba tiba...”
“itu karena aku menyukaimu”
“mwo?”
“ani, saranghae”
Wajah namja itu mendekat ke arah wajahmu. Jarak antara wajahmu dan wajahnya sekitar dua puluh senti.
“saranghae” katanya lagi. Suaranya yang berat dan terdengar menggoda hampir membuatmu ingin mendorongnya, tapi sebuah suara menghentikan niatmu
“bukankah itu sehun member exo”
‘sehun?, member exo?’ batinmu
“benar!, dia sehun exo”
Karena teriakan dua fangirl tadi, dalam hitungan menit, sekelompok fangirl dari arah mana saja segera berlari ke arah kami. Yap!, dapat di bayangkan jika teriakan tadi cukup keras untuk menyadarkan orang orang sekitar.
“aissh..., di saat seperti ini” guman namja itu yang ternyata benar benar member exo.
Kau hanya bisa diam karena seorang oh sehun mengatakan ‘saranghae’ padamu, tepat di depanmu dan di depan umum.
“kajja, lari!” sekarang dia menggenggam tanganmu dan mengajakmu berlari.
Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti kalian lagi, kalian berhenti di gang sempit yang cukup sepi. Kalian berdiri saling berhadapan dan menatap kosong. Lebih dari lima menit kalian saling menatap kosong dan akhirnya sehun memecah keheningan dengan mengambil flashdisk yang berisi tugasmu yang harus kau presentasikan hari kamis minggu depan.
“yak!” teriakmu tanpa berpikir bahwa yang di depanmu itu salah satu member exo.
Kali ini sehun mengambil pena di saku jaketmu dan menuliskan sebuah alamat apartemen di tanganmu.
“itu tugasku, kembalikan” suruhmu yang dibalasnya dengan menunjuk tanganmu yang ia tulisi
“datanglah ke alamat itu jika kau ingin ini kembali. Besok jam lima sore. Langsung masuk saja”
-author pov end-

Eun ra pov

“kim eun ra, bagaimana kau bisa setega itu, eoh?. Tugas yang kita kerjakan sepanjang malam kau hilangkan begitu saja?” park jae hi berteriak tepat pada talingaku dan mampu membuatku hampir tuli karenanya.
“apa kau sudah gila?, teriak tepat di telingaku?, bagaimana jika aku tuli, ha?”
“kau yang gila, bisa menghilangkan tugas presentasi itu!” serunya lagi, tapi yang ini sedikit lebih pelan.
“mianhae, hari minggu, aku janji akan kembali kepadaku” ucapku yakin.
“terserah, yang penting flashdisk itu harus ada di tanganku pada hari selasa, ada yang harus kurevisi”
“eh?, apa ada yang salah?”
“ya, banyak yang harus kurevisi”
“wah..., park jae hi kau memang daebak!, sudah lima kali tugas ini kau revisi”
“yah, itu juga karenamu, sudah aku pergi dulu, aku masih ingin mengikuti kelas tambahan” jae hi berdiri dari duduknya sambil membawa roti yang sudah terbuka lalu memakannya sambil berjalan ke arah ruang mr eiden untuk mengikuti pelajarannya
“dia memang hebat, otaknya tidak jebol sehari belajar selama lima belas jam” gumanku pelan sambil melihat punggung gadis berambut panjang dan dikuncir kuda.
Skipà
‘04:15’
Aku melihat jam digitalku sambil celingak celinguk dan menunggu bis datang. Aku memeluk erat tubuhku dan sesekali mengusap usapkan tanganku karena saat ini sedang hujan dan anginnya cukup kencang. Hanya ada aku di halte. Sekali lagi aku mengusapkan tanganku lalu melihat punggung tanganku yang jika bisa bicara ingin sekali mengatakan
‘belilah sarung tangan, sudah cukup sepuluh tahun sekali kau buatku menggigil, dan sekarang kau membuatku menggigil pada saat hujan?!’
Saatku membalikkan tanganku dan melihat sesuatu di telapak tanganku, aku menyadari sesuatu.
“oh god!, flashdisk!”
Dengan cepat dan nekat, ku tembus hujan begitu saja. Beruntung, halte yang kusinggahi tadi tidak jauh dari alamat apartemen yang ditulis sehun. Perjalanan dari halte ke apartemen memakan waktu lima menit. Segera kumasuki bangunan yg menurutku cukup mewah untukku singgahi. Aku terus bejalan bolak balik di depan lift karena bimbang dan takut jika ada netizen melintas. Tiba tiba, terlintas nama park jae hi di otakku.
“baiklah, ini semua demi kau jae hi” ucapku sambil menaiki lift yang sudah terbuka.
kupencet tombol tiga di lift. Sesekali aku melihat jam tanganku. Beberapa menit sudah aku diam di lift dan akhirnya kakiku bergerak ke luar lift. No 49, pintu dengan no 49 itu sudah di depanku. Dengan cepatku masukkan pin yg sudah ada di tanganku. Terdengar jelas suara tanda pintu terbuka. Tanpa berpikir panjang, aku masuk dengan cepat dan mendapati pemandangan yang cukup membuat mukaku memerah.
“yak!, neon nuguya?” seru seorang namja lain yg setengah telanjang sambil menutupi bagian dadanya dengan handuk yang ia pegang.
“mian, aku hanya ingin mengambil flashdisk” ucapku sambil membalikan badan dan menahan agar wajahku tidak berubah merah.
“flashdisk?”
“oh!, wasseo?, yak! luhan hyung!, sudah kubilang jika keluar kamar mandi pakailah bajumu” suara itu lagi lagi datang.
“yak!, kembalikan flashdiskku!” seruku sambil berbalik tanpa memikirkan kalau luhan sedang topless.
-eun ra pov end-

Author pov

Kau berlari ke arah sehun. Luhan yang terlihat bingung hanya bisa diam sambil menutupi badan bagian atasnya lalu bergeser sedikit ke samping saat kau lewat di sampingnya. Sekarang kau tepat di depan sehun.
“hyung...” sehun melirik ke luhan, dan tanpa berpikir, luhan masuk kembali ke kamar mandi dengan wajah cemberut.
“wah, kau basah kuyup, apa kau nekat menembus hujan dan basah kuyup untuk mengatakan hal yang sama sepertiku pada saat itu?” tanya sehun penuh percaya diri
“dengar, aku bukan fansmu ataupun fans grupmu. Aku kesini hanya untuk mengambil barangku yang kau bawa” katamu sambil berjalan hendak menelusuri ruangan apartemen.
Baru dua langkah, lenganmu ditarik kembali oleh sehun. Dia menatapmu dalam hingga membuatmu hampir kehilangan oksigen. Kali ini wajahnya terlihat serius, tidak seperti pertama kali kalian bertemu.
“aku mengatakannya sebagai seorang namja, bukan sebagai idol yang selalu mengatakan itu pada fansnya”
Wajahnya begitu dekat dengan wajahmu, hingga bau nafas dan parfumnya tercium jelas oleh hidungmu. Entah kenapa, suara berat dan tatapan seorang oh sehun hampir membuatmu menahan nafas selamanya. Beruntung, kau orang yang tidak mudah peka.
“haha!, tapi maaf, aku bukan seorang yeoja yang mudah tertipu dengan tatapan dan kata kata seperti itu” ucapmu lalu melepaskan genggaman sehun dan matamu langsung menangkap benda warna biru di meja.
Kau segera mengambil benda yang di sebut flashdisk itu dan pergi begitu saja. Tepat pada saat kau menutup pintu, luhan keluar dari kamar mandi dan masih dalam keadaan telanjang dada.
“tadi itu siapa?” tanya luhan sambil memandangi pintu apartemen
“hyung!, pakailah pakaianmu!”
“caranya bicara dan marah sangat manis” lanjut luhan yang masih memandang pintu apartemen dengan harapan kau akan masuk lagi. “mungkin aku akan mengenalnya” luhan pun mengambil bajunya yang tergantung di lemari sehun lalu mengambil helm
“kenapa bajumu ada di lemariku?” tanya sehun yg dari tadi di anggap angin lewat oleh luhan
“aku pergi, ne” luhan pergi sambil membawa helm dan kunci motor.
“ya, hyung eodiga?”
Skipà
“yak!, kau!”
Kau yang mendengar teriakan tadi, menengok sedikit ke belakang, walaupun kau tak yakin kalau teriakan tadi berteriak untukmu. Benar saja teriakan tadi untukmu, tapi orang yg membuat teriakan tadi bukan sehun, member exo gila (peace broh ._.v) yang menyatakan cinta padamu.
“aish..., sekarang apa lagi?, luhan exo?” gumanmu yang hendak membuka pintu gedung apartemen
“jamkkanman!” sekarang luhan menarik pergelangan tanganmu
Kau yang mulai capek dan kesal, segera membalikan tubuhmu untuk segera menyelesaikan masalahmu, walaupun kau merasa tidak ada masalah apapun.
“wae?”
“aku antar ya” terlihat wajah dengan senyuman mautnya.
Kau yang orangnya tidak mudah peka, entah kenapa bukannya melemparkan sikap yang sama dengan sehun pada luhan, malah beku diam dan tanpa sadar kau menikmati senyuman luhan yang ia kembangkan untukmu.
“aku anggap sikapmu yang diam sebagai jawaban iya” katanya lagi seraya menarikmu ke tempat parkir.
 Skipà
“ayo cepat naik” katanya sambil mengenakan helm.
Secara refleks, tubuhmu naik begitu saja di bagian belakang motor sport yang ada di depanmu.
“dimana tempat tinggalmu?” tanya luhan sambil meninggalkan tempat parkir yang sepi.
“antarkan saja aku di halte dekat sini”
“sirreo, kau seorang yeoja, dan ini hampir gelap. Katakan saja, tidak akan ada yang melihat”
“arra, tapi aku bukan gadis manja yang seperti itu”
“seperti itu apa?, aku tidak berpikiran seperti itu, sudahlah katakan saja”
Kau mendengus kesal karena orang yang sedang kau hadapi keras kepala. Tiba tiba terlintas senyuman yang tadi membuatmu hampir beku total. “tiga blok dari sini” ucapmu mengalah.
“tiga blok?, ini dekat, aku bisa kerumahnya dengan mudah” guman luhan sangat pelan dan hampir tidak terdengar olehmu karena suara motor yang bersisik. “tiga blok?, baiklah, pegangan yang erat, aku akan ngebut”
Awalnya kau hanya memegang pinggulnya dengan samar. Luhan menaikkan ujung kanan bibirnya dan pada saat yang sama kecepatannya bertambah. Kecepatannya sontak membuatmu memeluk erat tubuh seorang idol itu. Luhan yang merasakan sikapmu itu hanya terkekeh puas.
“apa yang kau tertawakan?”
“sudah kubilang pegangan yang erat, kau terlalu keras kepala” ucapnya samar karena tertutup helm.
‘kau yang keras kepala’ batinmu dan hanya diam.
Benar kata luhan, jalanan seoul sudah di terangi lampu mobil dan motor yang melintas. Jalan masih agak becek karena hujan tadi yang cukup lama. Kau menikmati angin yang behembus keras namun lembut untuk di rasakan.
-author pov end-

Luhan pov

Perasaan ini, damn!, kenapa ini muncul lagi. Ayolah, aku sudah mencoba untuk melupakan perasaan ini, tapi kenapa datang lagi. Dadaku terasa sesak dan aku merasa jantungku berhenti berdetak, paru paruku diam, kenapa seperti tidak ada aktivitas di dalam tubuhku ini. Sudahlah, luhan fokuslah. Seketika mataku menangkap sebuah cafe. Dengan cepat kuparkirkan motorku di depan cafe itu.
“kenapa berhenti?, rumahku masih satu blok lagi” ucap yeoja yang tak kukenal namanya. Dia masih duduk dibagian belakang motorku dengan gaya seperti anak kecil, sedangkan aku sudah turun dan melepas helmku lalu mengenakan kacamata hitam.
Gayanya yang seperti anak kecil itu membuatku gemas dan tak kusadari aku tersenyum lagi padanya. Sungguh dia sudah cukup membuatku beku untuk waktu yang lama dan melupakan masa laluku. Kini dia turun dari motorku dan berdiri disampingku. Tingginya mengingatkanku pada saat aku berduet dengan BoA sunbaenim. Aku suka gadis dengan postur dan tinggi seperti dia, tapi tidak dengan BoA sunbaenim, dia terlalu tua (peace lagi dah ._.v) dan lebih cocok menjadi noonaku.
“ayo masuk, aku kedinginan” aku menarik tangannya yang tidak terbalut sarung tangan. Rasanya hangat dan lembut, padahal tadi dia kehujanan, apa benar tangan orang yang hangat berarti jiwanya juga hangat.
“annyeong” seorang pelayan cantik menyambut kami berdua dengan membungkuk sedikit. Setelah badannya kembali seperti semula, dia agak kaget karena yang datang adalah aku, luhan member boyband exo. “apakah kalian butuh keprivasian?” tanya pelayan itu.
“tentu” ucapku sambil tersenyum.
“lewat sini” pelayan itu mengantarkan ke ruangan agak tertutup. Dibandingkan dengan ruangan tadi yang ramai, di sini lebih sedikit.
“2 vanilla latte panas” ucapku sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahku.
“baik, tunggulah lima menit” pelayan itu meninggalkan kami berdua.
Canggung. Kenapa suasana ini datang, aku benci ini. Kami hanya diam sambil menatap isi ruangan yang kami tempati, terkadang kami juga saling lempar pandang lalu mengalihkan pandangan. Lagi lagi mataku merekam gerakannya cukup lama, dia seperti dae rin. Dae rin, gadis yang kucintai beberapa tahun yang lalu dan menghilang. Cukup!, aku hampir mengeluarkan air mata.
“ah!, dari tadi aku belum mengetahui namamu” ucapku tiba tiba memecah keheningan, yah..., walaupun tidak sehening itu, karena cafe ini juga sambil memutar lagu ballad.
“eun ra, kim eun ra imnida” jawabnya cepat sambil tersenyum padaku dan menyipitkan matanya hingga menampakkan eye smile dan mengingatkanku pada byun baekhyun.
Lagi. Aku dibuatnya beku dan mataku terlalu fokus padanya untuk waktu yang cukup lama.
“ah~ kim eunra? Nama yang bagus” kataku yang sukses membuatnya tersenyum manis
“ini pesanannya” pelayan lain datang membawa pesanan kami.
“gumawo”
Pelayan tadi pun pergi dan suasana canggung pun datang lagi. Sungguh, aku tidak suka disaat seperti ini, tapi apa yang harus kami bicarakan. Baru kusadari kalau sikapku terlalu cepat untuk mengenalnya lebih jauh, aku terlalu nekat kali ini, aku belum berpikir dua kali atau pun memutar otakku terlebih dahulu. Lima belas menit sudah kami seperti ini sejak pelayan tadi meninggalkan kami
“uhm...” eun ra mengeluarkan suara. Kali ini suaranya lebih lembut, jauh lebih lembut malah dari pada saat ia berbicara dengan sehun.
“wae?” tanyaku.
“gumawo”
Aku tersenyum mengerti. Sungguh, dia hampir membuatku tersenyum sendiri seperti orang bodoh karena sikapnya yang berbeda dari yang tadi pada saat aku bertemu dengannya di apartemen sehun.
“anggap ini perlakuan khusus untuk seorang fans” aku melipat tanganku di atas meja sambil memajukan tubuhku sedikit dan tersenyum padanya. Tampak jelas wajahnya memerah.
“tapi aku bukan seorang exo fans”
-luhan pov end-

Eun ra pov

Argh!, aku leleh!. Berhenti tersenyum padaku seperti itu!. Aku sudah tak tahan lagi, senyumannya terlalu manis untuk kulihat, apa rasa bibirnya juga semanis senyuman itu?. Argh!, kim eun ra apa yang kau pikirkan?. Baiklah ini sudah cukup, dapat kurasakan kalau pipiku memerah. Aku ingin pulang, aku sudah leleh, sangat leleh!. Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan diikuti oleh tatapan matanya yang agak bingung.
“gumawo” aku membungkuk sedikit. “aku memang bukan fansmu, tapi terima kasih atas perlakuan khususmu itu”. Satu langkah. Tangan kanannya mendarat di pergelangan tanganku.
“aku antar” ucapnya seraya berdiri, dan tangan kanannya masih memegang pergelanganku.
“tidak usah, ini dekat” aku segera berlari mendahuluinya. Tapi gawat, dia malah mengejarku hingga pintu masuk dan seperti dugaanku, tangannya lagi lagi menarikku hingga aku sangat dekat dengan tubuhnya yang tegap itu. Dapat kurasakan bau parfumnya.
“sudah kubilang, kau itu yeoja. Tidak baik berkeliaran malam malam begini. Apa lagi kau itu yeoja yang polos” kali ini tatapannya sangat dalam.
‘yeoja yang polos’?. Apa aku sepolos itu hingga tidak boleh keluar malam. Aku sudah sering keluar malam dan berkeliaran sana sini jika tidak ada yang bisa kulakukan. aku yang hendak membuka mulut, jari telunjuknya mendarat tepat di bibirku yang tipis.
“tenanglah, beri tau saja alamatmu, tidak akan ada yang melihat ataupun mendengar. Orang orang di cafe ini tidak semudah itu membocorkannya” lagi lagi senyuman itu terukir di wajahnya.
“ha..., baiklah”
Aku pun menyerah karena sedang tidak ingin berdebat akan kepulanganku. Setelah kuberi tau alamatku, dia segera naik ke motornya lalu mengenakan helm.
“naiklah”
Tanpa pikir panjang, aku naik ke motor sportnya yang pastinya mahal.
“pegangan yang erat, jangan sampai kau hampir terjatuh seperti tadi”
Jujur, aku agak bingung bagaimana aku berpegangan. Ini terlalu aneh untukku berpegangan dengan erat kepada seorang idol seperti luhan, apalagi dia memiliki wajah seperti ini, fangirlnya pasti banyak.
“kau peluk saja aku, tidak ada yang melihat”
Empat kata di awal membuatku hampir terpental dari dudukku, tapi entah kenapa aku menurut begitu saja, bahkan kusandarkan kepalaku di punggungnya.
Luhan mulai menjalankan motornya ini. Lampu lampu di jalan, bangunan, dan kendaraan yang melintas membuat jalanan seoul terang. Mungkin tanpa lampu lampu itu, jalanan seoul sekarang akan gelap gulita. Tanpa menunggu lama, kami sampai di sebuah rumah yang tidak lain adalah rumahku. Aku segera turun dari motornya. Luhan pun melepas helmnya, sungguh pada saat melepas helm pun ia terlihat tampan. Rambutnya yang terlihat agak acak acakan menambah kesan maskulin pada dirinya (rambut pas di MAMA 2013 itu loh).
“ige, ni jibiya?” matanya menelusuri setiap sudut rumahku
“yap!”
“apa kau tinggal sendiri?”
“yap!, sejak eunyoung oppa pindah ke busan”
“oppa?, kau mempunyai kakak?”
“yap!, sekarang dia tinggal bersama tunangannya dan sebentar lagi menikah”
“pasti kau kesepian, apa perlu kutemani tinggal disini?”
JLEB...
Sebuah pisau seperti menusuk kepalaku. Apa yang dia pikirkan hingga berkata seperti itu. Dia seorang idol yang di gilai oleh fansnya karena wajah baby facenya itu, sedangkan aku hanya anak kuliahan biasa. Sebenarnya aku sangat ingin berteriak keras ‘IYA!’ tapi itu tidak mungkin, tetangga akan bangun. Sebagian dari anak tetanggaku adalah exo fans, dan jika aku benar benar berteriak, maka aku akan berakhir di pembullyan dari banyak fans.
Aku mematung selama beberapa detik karena ucapan luhan tadi dan pada akhirnya disadarkan kembali dengan tawa renyahnya.
“haha!, aku hanya bercanda” luhan sedikit mengacak acak rambutku sambil tersenyum.
-eun ra pov end-

Sehun pov

Aku mengikuti jalan yang gps arahkan padaku hingga aku sampai di daerah yang belum kuketahui. Dan apa mataku salah melihat luhan hyung yang ternyata tadi buru buru untuk mengantarkan gadis itu?, gadis yang kusukai sejak pertama kali bertemu
“geuman!” seru gadis yang kusukai itu tapi tak kuketahui namanya sambil memanyunkan sedikit bibirnya dan menyingkirkan tangan luhan hyung lalu merapikan kembali rambutnya
Luhan terlihat gemas dengan sikapnya, malah tambah mengacak acak rambutnya seakan akan mereka sudah sangat dekat, padahal aku yakin mereka baru bertemu.
 “hyung, kenapa kau selalu merebut apa yang aku miliki?, pertama dae rin dan sekarang gadis itu?” ucapku pelan sambil menatap jauh mereka berdua.

Sudahlah aku tak kuat, lebih baik aku pergi saja. Lihat saja hyung, aku akan memilikinya secepat mungkin. Kunyalakan segera motorku lalu pergi meninggalkan mereka. Di jalan, tanpa kusadari mataku mengeluarkan sebuah cairan bening. Ini aneh, aku belum mengenal gadis itu, tapi dia telah membuatku menangis. Aku terus memikirkan gadis itu dan sebuah kejadian yang tidak kuinginkan terjadi. Pukul 06.30 malam, aku tidak sadar bahwa lampu merah menyala, aku terus melaju dengan kecepatan yang lumayan dan datanglah sebuah mobil pick-up menghantam keras motor dan tubuhku.aku sempat menangis pada saatku tergeletak di jalan hingga pada akhirnya aku menutup mataku dan dikerumuni banyak orang.


Jujur, jae blm tau ending.a kek gmn -,-
Menurut readers ending.a mau kek gmn? sama luhan atau sehun? sad ending atau happy ending?
#kyjae