Cast:
- · You as kim eun ra
- · Oh se hun
- · Xi luhan
- · Member exo
- · And other cast
Genre: tau ah, yang penting ga nc :3
Author: Kyjae
oKai ini ep ep jae yg k 2, jae terbawa suasana hunhan :'(
happy reading all :3
(chapt 1)
Author pov
Seorang yeoja yg tidak lain adalah kau, berjalan dengan
sangat terburu buru karena hampir telat untuk masuk kelas tambahan. Tangan kirimu
yg memegang bubble tea, sesekali kau angkat untuk meminum minuman yg sedang kau
pegang.
Di sisi lain, ada seorang namja yg sedang berjalan dengan
santainya dari arah yg berlawanan sambil meminum minuman yg sama denganmu. Ia
mendengarkan musik lewat earphone yg ia sambungkan dengan mp3nya sambil melihat
jalanan d seoul. Matanya yg tertutup oleh kaca mata hitam terkadang memandangan
pemandangan biru dengan sedikit awan
BRUUK...!
Karena sama sama tidak hati hati, kalian jatuh tepat di
pertigaan. Bubble tea kalian tumpah dan hampir mengenai bajumu. Dengan cepat
kalian berdiri secara bersamaan.
“yak!” serumu padanya.
“harusnya aku yang bilang begitu!, kalau jalan hati hati,
dong” balasnya
“mwo?, kau yang harusnya berhati hati, enak saja
menyalahkan orang lain”
“kau...” namja itu mendekat sambil mengacungkan jari
telunjuknya padamu dan diam sambil menatap dalam matamu.
Ia menatapmu cukup lama. Tatapannya cukup dalam dan agak
menusuk. Mungkin sebagian yeoja akan leleh jika ditatap seperti itu.
“mianhae, aku yang salah” namja itu mundur satu langkah dan
membungkuk sedikit.
“apa ini?, apa kau sakit?, kenapa kau tiba tiba...”
“itu karena aku menyukaimu”
“mwo?”
“ani, saranghae”
Wajah namja itu mendekat ke arah wajahmu. Jarak antara
wajahmu dan wajahnya sekitar dua puluh senti.
“saranghae” katanya lagi. Suaranya yang berat dan terdengar
menggoda hampir membuatmu ingin mendorongnya, tapi sebuah suara menghentikan
niatmu
“bukankah itu sehun member exo”
‘sehun?, member exo?’ batinmu
“benar!, dia sehun exo”
Karena teriakan dua fangirl tadi, dalam hitungan menit,
sekelompok fangirl dari arah mana saja segera berlari ke arah kami. Yap!, dapat
di bayangkan jika teriakan tadi cukup keras untuk menyadarkan orang orang
sekitar.
“aissh..., di saat seperti ini” guman namja itu yang ternyata
benar benar member exo.
Kau hanya bisa diam karena seorang oh sehun mengatakan
‘saranghae’ padamu, tepat di depanmu dan di depan umum.
“kajja, lari!” sekarang dia menggenggam tanganmu dan
mengajakmu berlari.
Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti kalian lagi,
kalian berhenti di gang sempit yang cukup sepi. Kalian berdiri saling
berhadapan dan menatap kosong. Lebih dari lima menit kalian saling menatap
kosong dan akhirnya sehun memecah keheningan dengan mengambil flashdisk yang
berisi tugasmu yang harus kau presentasikan hari kamis minggu depan.
“yak!” teriakmu tanpa berpikir bahwa yang di depanmu itu
salah satu member exo.
Kali ini sehun mengambil pena di saku jaketmu dan
menuliskan sebuah alamat apartemen di tanganmu.
“itu tugasku, kembalikan” suruhmu yang dibalasnya dengan
menunjuk tanganmu yang ia tulisi
“datanglah ke alamat itu jika kau ingin ini kembali. Besok
jam lima sore. Langsung masuk saja”
-author pov end-
Eun ra pov
“kim eun ra, bagaimana kau bisa setega itu, eoh?. Tugas
yang kita kerjakan sepanjang malam kau hilangkan begitu saja?” park jae hi
berteriak tepat pada talingaku dan mampu membuatku hampir tuli karenanya.
“apa kau sudah gila?, teriak tepat di telingaku?, bagaimana
jika aku tuli, ha?”
“kau yang gila, bisa menghilangkan tugas presentasi itu!”
serunya lagi, tapi yang ini sedikit lebih pelan.
“mianhae, hari minggu, aku janji akan kembali kepadaku”
ucapku yakin.
“terserah, yang penting flashdisk itu harus ada di tanganku
pada hari selasa, ada yang harus kurevisi”
“eh?, apa ada yang salah?”
“ya, banyak yang harus kurevisi”
“wah..., park jae hi kau memang daebak!, sudah lima kali
tugas ini kau revisi”
“yah, itu juga karenamu, sudah aku pergi dulu, aku masih
ingin mengikuti kelas tambahan” jae hi berdiri dari duduknya sambil membawa
roti yang sudah terbuka lalu memakannya sambil berjalan ke arah ruang mr eiden
untuk mengikuti pelajarannya
“dia memang hebat, otaknya tidak jebol sehari belajar
selama lima belas jam” gumanku pelan sambil melihat punggung gadis berambut
panjang dan dikuncir kuda.
Skipà
‘04:15’
Aku melihat jam digitalku sambil celingak celinguk dan
menunggu bis datang. Aku memeluk erat tubuhku dan sesekali mengusap usapkan
tanganku karena saat ini sedang hujan dan anginnya cukup kencang. Hanya ada aku
di halte. Sekali lagi aku mengusapkan tanganku lalu melihat punggung tanganku yang
jika bisa bicara ingin sekali mengatakan
‘belilah sarung tangan, sudah cukup sepuluh tahun sekali
kau buatku menggigil, dan sekarang kau membuatku menggigil pada saat hujan?!’
Saatku membalikkan tanganku dan melihat sesuatu di telapak
tanganku, aku menyadari sesuatu.
“oh god!, flashdisk!”
Dengan cepat dan nekat, ku tembus hujan begitu saja.
Beruntung, halte yang kusinggahi tadi tidak jauh dari alamat apartemen yang
ditulis sehun. Perjalanan dari halte ke apartemen memakan waktu lima menit.
Segera kumasuki bangunan yg menurutku cukup mewah untukku singgahi. Aku terus
bejalan bolak balik di depan lift karena bimbang dan takut jika ada netizen
melintas. Tiba tiba, terlintas nama park jae hi di otakku.
“baiklah, ini semua demi kau jae hi” ucapku sambil menaiki
lift yang sudah terbuka.
kupencet tombol tiga di lift. Sesekali aku melihat jam
tanganku. Beberapa menit sudah aku diam di lift dan akhirnya kakiku bergerak ke
luar lift. No 49, pintu dengan no 49 itu sudah di depanku. Dengan cepatku
masukkan pin yg sudah ada di tanganku. Terdengar jelas suara tanda pintu
terbuka. Tanpa berpikir panjang, aku masuk dengan cepat dan mendapati
pemandangan yang cukup membuat mukaku memerah.
“yak!, neon nuguya?” seru seorang namja lain yg setengah
telanjang sambil menutupi bagian dadanya dengan handuk yang ia pegang.
“mian, aku hanya ingin mengambil flashdisk” ucapku sambil
membalikan badan dan menahan agar wajahku tidak berubah merah.
“flashdisk?”
“oh!, wasseo?, yak! luhan hyung!, sudah kubilang jika
keluar kamar mandi pakailah bajumu” suara itu lagi lagi datang.
“yak!, kembalikan flashdiskku!” seruku sambil berbalik
tanpa memikirkan kalau luhan sedang topless.
-eun ra pov end-
Author pov
Kau berlari ke arah sehun. Luhan yang terlihat bingung
hanya bisa diam sambil menutupi badan bagian atasnya lalu bergeser sedikit ke
samping saat kau lewat di sampingnya. Sekarang kau tepat di depan sehun.
“hyung...” sehun melirik ke luhan, dan tanpa berpikir,
luhan masuk kembali ke kamar mandi dengan wajah cemberut.
“wah, kau basah kuyup, apa kau nekat menembus hujan dan
basah kuyup untuk mengatakan hal yang sama sepertiku pada saat itu?” tanya
sehun penuh percaya diri
“dengar, aku bukan fansmu ataupun fans grupmu. Aku kesini
hanya untuk mengambil barangku yang kau bawa” katamu sambil berjalan hendak
menelusuri ruangan apartemen.
Baru dua langkah, lenganmu ditarik kembali oleh sehun. Dia
menatapmu dalam hingga membuatmu hampir kehilangan oksigen. Kali ini wajahnya
terlihat serius, tidak seperti pertama kali kalian bertemu.
“aku mengatakannya sebagai seorang namja, bukan sebagai
idol yang selalu mengatakan itu pada fansnya”
Wajahnya begitu dekat dengan wajahmu, hingga bau nafas dan
parfumnya tercium jelas oleh hidungmu. Entah kenapa, suara berat dan tatapan
seorang oh sehun hampir membuatmu menahan nafas selamanya. Beruntung, kau orang
yang tidak mudah peka.
“haha!, tapi maaf, aku bukan seorang yeoja yang mudah
tertipu dengan tatapan dan kata kata seperti itu” ucapmu lalu melepaskan
genggaman sehun dan matamu langsung menangkap benda warna biru di meja.
Kau segera mengambil benda yang di sebut flashdisk itu dan
pergi begitu saja. Tepat pada saat kau menutup pintu, luhan keluar dari kamar
mandi dan masih dalam keadaan telanjang dada.
“tadi itu siapa?” tanya luhan sambil memandangi pintu
apartemen
“hyung!, pakailah pakaianmu!”
“caranya bicara dan marah sangat manis” lanjut luhan yang
masih memandang pintu apartemen dengan harapan kau akan masuk lagi. “mungkin
aku akan mengenalnya” luhan pun mengambil bajunya yang tergantung di lemari
sehun lalu mengambil helm
“kenapa bajumu ada di lemariku?” tanya sehun yg dari tadi
di anggap angin lewat oleh luhan
“aku pergi, ne” luhan pergi sambil membawa helm dan kunci
motor.
“ya, hyung eodiga?”
Skipà
“yak!, kau!”
Kau yang mendengar teriakan tadi, menengok sedikit ke
belakang, walaupun kau tak yakin kalau teriakan tadi berteriak untukmu. Benar
saja teriakan tadi untukmu, tapi orang yg membuat teriakan tadi bukan sehun,
member exo gila (peace broh ._.v) yang menyatakan cinta padamu.
“aish..., sekarang apa lagi?, luhan exo?” gumanmu yang
hendak membuka pintu gedung apartemen
“jamkkanman!” sekarang luhan menarik pergelangan tanganmu
Kau yang mulai capek dan kesal, segera membalikan tubuhmu
untuk segera menyelesaikan masalahmu, walaupun kau merasa tidak ada masalah
apapun.
“wae?”
“aku antar ya” terlihat wajah dengan senyuman mautnya.
Kau yang orangnya tidak mudah peka, entah kenapa bukannya
melemparkan sikap yang sama dengan sehun pada luhan, malah beku diam dan tanpa
sadar kau menikmati senyuman luhan yang ia kembangkan untukmu.
“aku anggap sikapmu yang diam sebagai jawaban iya” katanya
lagi seraya menarikmu ke tempat parkir.
Skipà
“ayo cepat naik” katanya sambil mengenakan helm.
Secara refleks, tubuhmu naik begitu saja di bagian belakang
motor sport yang ada di depanmu.
“dimana tempat tinggalmu?” tanya luhan sambil meninggalkan
tempat parkir yang sepi.
“antarkan saja aku di halte dekat sini”
“sirreo, kau seorang yeoja, dan ini hampir gelap. Katakan
saja, tidak akan ada yang melihat”
“arra, tapi aku bukan gadis manja yang seperti itu”
“seperti itu apa?, aku tidak berpikiran seperti itu,
sudahlah katakan saja”
Kau mendengus kesal karena orang yang sedang kau hadapi
keras kepala. Tiba tiba terlintas senyuman yang tadi membuatmu hampir beku
total. “tiga blok dari sini” ucapmu mengalah.
“tiga blok?, ini dekat, aku bisa kerumahnya dengan mudah”
guman luhan sangat pelan dan hampir tidak terdengar olehmu karena suara motor
yang bersisik. “tiga blok?, baiklah, pegangan yang erat, aku akan ngebut”
Awalnya kau hanya memegang pinggulnya dengan samar. Luhan
menaikkan ujung kanan bibirnya dan pada saat yang sama kecepatannya bertambah.
Kecepatannya sontak membuatmu memeluk erat tubuh seorang idol itu. Luhan yang
merasakan sikapmu itu hanya terkekeh puas.
“apa yang kau tertawakan?”
“sudah kubilang pegangan yang erat, kau terlalu keras
kepala” ucapnya samar karena tertutup helm.
‘kau yang keras kepala’ batinmu dan hanya diam.
Benar kata luhan, jalanan seoul sudah di terangi lampu mobil
dan motor yang melintas. Jalan masih agak becek karena hujan tadi yang cukup
lama. Kau menikmati angin yang behembus keras namun lembut untuk di rasakan.
-author pov end-
Luhan pov
Perasaan ini, damn!, kenapa ini muncul lagi. Ayolah, aku
sudah mencoba untuk melupakan perasaan ini, tapi kenapa datang lagi. Dadaku
terasa sesak dan aku merasa jantungku berhenti berdetak, paru paruku diam,
kenapa seperti tidak ada aktivitas di dalam tubuhku ini. Sudahlah, luhan
fokuslah. Seketika mataku menangkap sebuah cafe. Dengan cepat kuparkirkan
motorku di depan cafe itu.
“kenapa berhenti?, rumahku masih satu blok lagi” ucap yeoja
yang tak kukenal namanya. Dia masih duduk dibagian belakang motorku dengan gaya
seperti anak kecil, sedangkan aku sudah turun dan melepas helmku lalu
mengenakan kacamata hitam.
Gayanya yang seperti anak kecil itu membuatku gemas dan tak
kusadari aku tersenyum lagi padanya. Sungguh dia sudah cukup membuatku beku
untuk waktu yang lama dan melupakan masa laluku. Kini dia turun dari motorku
dan berdiri disampingku. Tingginya mengingatkanku pada saat aku berduet dengan
BoA sunbaenim. Aku suka gadis dengan postur dan tinggi seperti dia, tapi tidak
dengan BoA sunbaenim, dia terlalu tua (peace lagi dah ._.v) dan lebih cocok
menjadi noonaku.
“ayo masuk, aku kedinginan” aku menarik tangannya yang
tidak terbalut sarung tangan. Rasanya hangat dan lembut, padahal tadi dia
kehujanan, apa benar tangan orang yang hangat berarti jiwanya juga hangat.
“annyeong” seorang pelayan cantik menyambut kami berdua
dengan membungkuk sedikit. Setelah badannya kembali seperti semula, dia agak
kaget karena yang datang adalah aku, luhan member boyband exo. “apakah kalian
butuh keprivasian?” tanya pelayan itu.
“tentu” ucapku sambil tersenyum.
“lewat sini” pelayan itu mengantarkan ke ruangan agak
tertutup. Dibandingkan dengan ruangan tadi yang ramai, di sini lebih sedikit.
“2 vanilla latte panas” ucapku sambil mengacungkan jari
telunjuk dan jari tengahku.
“baik, tunggulah lima menit” pelayan itu meninggalkan kami
berdua.
Canggung. Kenapa suasana ini datang, aku benci ini. Kami
hanya diam sambil menatap isi ruangan yang kami tempati, terkadang kami juga
saling lempar pandang lalu mengalihkan pandangan. Lagi lagi mataku merekam
gerakannya cukup lama, dia seperti dae rin. Dae rin, gadis yang kucintai beberapa
tahun yang lalu dan menghilang. Cukup!, aku hampir mengeluarkan air mata.
“ah!, dari tadi aku belum mengetahui namamu” ucapku tiba
tiba memecah keheningan, yah..., walaupun tidak sehening itu, karena cafe ini
juga sambil memutar lagu ballad.
“eun ra, kim eun ra imnida” jawabnya cepat sambil tersenyum
padaku dan menyipitkan matanya hingga menampakkan eye smile dan mengingatkanku
pada byun baekhyun.
Lagi. Aku dibuatnya beku dan mataku terlalu fokus padanya
untuk waktu yang cukup lama.
“ah~ kim eunra? Nama yang bagus” kataku yang sukses
membuatnya tersenyum manis
“ini pesanannya” pelayan lain datang membawa pesanan kami.
“gumawo”
Pelayan tadi pun pergi dan suasana canggung pun datang
lagi. Sungguh, aku tidak suka disaat seperti ini, tapi apa yang harus kami
bicarakan. Baru kusadari kalau sikapku terlalu cepat untuk mengenalnya lebih
jauh, aku terlalu nekat kali ini, aku belum berpikir dua kali atau pun memutar
otakku terlebih dahulu. Lima belas menit sudah kami seperti ini sejak pelayan tadi
meninggalkan kami
“uhm...” eun ra mengeluarkan suara. Kali ini suaranya lebih
lembut, jauh lebih lembut malah dari pada saat ia berbicara dengan sehun.
“wae?” tanyaku.
“gumawo”
Aku tersenyum mengerti. Sungguh, dia hampir membuatku
tersenyum sendiri seperti orang bodoh karena sikapnya yang berbeda dari yang
tadi pada saat aku bertemu dengannya di apartemen sehun.
“anggap ini perlakuan khusus untuk seorang fans” aku
melipat tanganku di atas meja sambil memajukan tubuhku sedikit dan tersenyum
padanya. Tampak jelas wajahnya memerah.
“tapi aku bukan seorang exo fans”
-luhan pov end-
Eun ra pov
Argh!, aku leleh!. Berhenti tersenyum padaku seperti itu!.
Aku sudah tak tahan lagi, senyumannya terlalu manis untuk kulihat, apa rasa
bibirnya juga semanis senyuman itu?. Argh!, kim eun ra apa yang kau pikirkan?.
Baiklah ini sudah cukup, dapat kurasakan kalau pipiku memerah. Aku ingin
pulang, aku sudah leleh, sangat leleh!. Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan
diikuti oleh tatapan matanya yang agak bingung.
“gumawo” aku membungkuk sedikit. “aku memang bukan fansmu,
tapi terima kasih atas perlakuan khususmu itu”. Satu langkah. Tangan kanannya
mendarat di pergelangan tanganku.
“aku antar” ucapnya seraya berdiri, dan tangan kanannya
masih memegang pergelanganku.
“tidak usah, ini dekat” aku segera berlari mendahuluinya.
Tapi gawat, dia malah mengejarku hingga pintu masuk dan seperti dugaanku,
tangannya lagi lagi menarikku hingga aku sangat dekat dengan tubuhnya yang
tegap itu. Dapat kurasakan bau parfumnya.
“sudah kubilang, kau itu yeoja. Tidak baik berkeliaran
malam malam begini. Apa lagi kau itu yeoja yang polos” kali ini tatapannya
sangat dalam.
‘yeoja yang polos’?. Apa aku sepolos itu hingga tidak boleh
keluar malam. Aku sudah sering keluar malam dan berkeliaran sana sini jika
tidak ada yang bisa kulakukan. aku yang hendak membuka mulut, jari telunjuknya
mendarat tepat di bibirku yang tipis.
“tenanglah, beri tau saja alamatmu, tidak akan ada yang
melihat ataupun mendengar. Orang orang di cafe ini tidak semudah itu membocorkannya”
lagi lagi senyuman itu terukir di wajahnya.
“ha..., baiklah”
Aku pun menyerah karena sedang tidak ingin berdebat akan
kepulanganku. Setelah kuberi tau alamatku, dia segera naik ke motornya lalu
mengenakan helm.
“naiklah”
Tanpa pikir panjang, aku naik ke motor sportnya yang
pastinya mahal.
“pegangan yang erat, jangan sampai kau hampir terjatuh
seperti tadi”
Jujur, aku agak bingung bagaimana aku berpegangan. Ini
terlalu aneh untukku berpegangan dengan erat kepada seorang idol seperti luhan,
apalagi dia memiliki wajah seperti ini, fangirlnya pasti banyak.
“kau peluk saja aku, tidak ada yang melihat”
Empat kata di awal membuatku hampir terpental dari dudukku,
tapi entah kenapa aku menurut begitu saja, bahkan kusandarkan kepalaku di
punggungnya.
Luhan mulai menjalankan motornya ini. Lampu lampu di jalan,
bangunan, dan kendaraan yang melintas membuat jalanan seoul terang. Mungkin
tanpa lampu lampu itu, jalanan seoul sekarang akan gelap gulita. Tanpa menunggu
lama, kami sampai di sebuah rumah yang tidak lain adalah rumahku. Aku segera
turun dari motornya. Luhan pun melepas helmnya, sungguh pada saat melepas helm
pun ia terlihat tampan. Rambutnya yang terlihat agak acak acakan menambah kesan
maskulin pada dirinya (rambut pas di MAMA 2013 itu loh).
“ige, ni jibiya?” matanya menelusuri setiap sudut rumahku
“yap!”
“apa kau tinggal sendiri?”
“yap!, sejak eunyoung oppa pindah ke busan”
“oppa?, kau mempunyai kakak?”
“yap!, sekarang dia tinggal bersama tunangannya dan
sebentar lagi menikah”
“pasti kau kesepian, apa perlu kutemani tinggal disini?”
JLEB...
Sebuah pisau seperti menusuk kepalaku. Apa yang dia
pikirkan hingga berkata seperti itu. Dia seorang idol yang di gilai oleh
fansnya karena wajah baby facenya itu, sedangkan aku hanya anak kuliahan biasa.
Sebenarnya aku sangat ingin berteriak keras ‘IYA!’ tapi itu tidak mungkin,
tetangga akan bangun. Sebagian dari anak tetanggaku adalah exo fans, dan jika
aku benar benar berteriak, maka aku akan berakhir di pembullyan dari banyak
fans.
Aku mematung selama beberapa detik karena ucapan luhan tadi
dan pada akhirnya disadarkan kembali dengan tawa renyahnya.
“haha!, aku hanya bercanda” luhan sedikit mengacak acak
rambutku sambil tersenyum.
-eun ra pov end-
Sehun pov
Aku mengikuti jalan
yang gps arahkan padaku hingga aku sampai di daerah yang belum kuketahui. Dan
apa mataku salah melihat luhan hyung yang ternyata tadi buru buru untuk
mengantarkan gadis itu?, gadis yang kusukai sejak pertama kali bertemu
“geuman!” seru gadis
yang kusukai itu tapi tak kuketahui namanya sambil memanyunkan sedikit bibirnya
dan menyingkirkan tangan luhan hyung lalu merapikan kembali rambutnya
Luhan terlihat gemas
dengan sikapnya, malah tambah mengacak acak rambutnya seakan akan mereka sudah
sangat dekat, padahal aku yakin mereka baru bertemu.
“hyung, kenapa
kau selalu merebut apa yang aku miliki?, pertama dae rin dan sekarang gadis
itu?” ucapku pelan sambil menatap jauh mereka berdua.
Sudahlah aku tak kuat,
lebih baik aku pergi saja. Lihat saja hyung, aku akan memilikinya secepat
mungkin. Kunyalakan segera motorku lalu pergi meninggalkan mereka. Di jalan,
tanpa kusadari mataku mengeluarkan sebuah cairan bening. Ini aneh, aku belum
mengenal gadis itu, tapi dia telah membuatku menangis. Aku terus memikirkan
gadis itu dan sebuah kejadian yang tidak kuinginkan terjadi. Pukul 06.30 malam,
aku tidak sadar bahwa lampu merah menyala, aku terus melaju dengan kecepatan
yang lumayan dan datanglah sebuah mobil pick-up menghantam keras motor dan
tubuhku.aku sempat menangis pada saatku tergeletak di jalan hingga pada
akhirnya aku menutup mataku dan dikerumuni banyak orang.
Jujur, jae blm tau ending.a kek gmn -,-
Menurut readers ending.a mau kek gmn? sama luhan atau sehun? sad ending atau happy ending?
#kyjae