Rabu, 18 Juni 2014

FanFic Angel 2/?

lanthung aj yeth :"v

PREVIEW


“la...lama? Sebenarnya kau siapa? Apa maumu? Dan kenapa nada bicaramu seperti orang yang sudah kenal denganku cukup lama?” ucapku gugup dan mencoba untuk menatap tepat pada matanya
“sudah lama sekali aku menunggumu di sini hye.  Aku terus menunggu diatas, hingga Tuhan meperbolehkan aku turun ke bumi dan bertemu denganmu, dan lagi lagi aku harus menunggu, mauku sangat sederhana, aku hanya ingin bertemu dengan cinta pertama sekaligus cinta sejatiku dan aku butuh bantuanmu, aku mengenalmu cukup lama hye, bahkan sebelum kau lahir di dunia ini, kau sering bermain denganku di atas sana” jelas namja itu panjang lebar, sedangkan aku hanya cengo mendengarnya
Menunggu? Bertemu denganku? Cinta pertama sekaligus cinta sejatinya? Sebelum aku lahir? Diatas sana? Sebenarnya siapa dia?

CHAPT 2


Author pov


hyesoo terus saja melamun. Otaknya tidak bisa berfikir untuk saat ini. semua terasa berhenti bagi hyesoo. Kalimat namja itu membuat otak hyesoo diam.
“ah..mungkin kau lupa denganku” ucap namja itu yang membuat hyesoo menoleh. “suho, kim joonmyeon, kau ingat?” tanya namja itu
“suho? kim joonmyeon? Nugu?” otak hyesoo masih saja belum berjalan dengan sempurna.
“namaku kim joonmyeon, namun kau lebih suka memanggilku suho” jelasnya susah payah.
Hening. Hye masih saja diam. Mungkin kali ini dia lebih lamban dan bodoh dari pada luhan. Otaknya terus dipaksanya untuk bekerja, jika saja ini hye adalah salah satu karakter manga, mungkin akan ada asap yang keluar dari kepalanya.
Chu~
Dengan cepat suho menempelkan bibirnya dengan bibir hye lagi. Hye yang tadinya diam, shock dengan kelakuan suho. Didorongnya suho hingga tejatuh dari ranjang. Hye yang sadar kalau selimutnya tidak ikut tertarik dengan suho, segera ia lemparkan selimutnya untuk menutupi tubuh suho.
“yakk! Apa yang kau lakukan?” bentak hye
“aku lapar, maka dari itu aku menciummu, lagi pula yang pertama kali melakukannya adalah kau bukan?” balasnya sambil memposisikan dirinya hingga terduduk di lantai, menampilakan dada bidangnya.
Mata hye tetap fokus kepada wajah suho, dan tidak bernafsu sedikit pun untuk melirik kebagian bagian lain. Kini tatapan hye semakin tajam, membuat semua orang yang ditatapnya merasa ditusuk, tapi tidak bagi suho. Suho malah membalas tatapan hye dengan senyum idiotnya.
“bodoh! Jika kau lapar, bilang saja, apa begitu caramu meminta makanan? Dan lagi, aku memulainya karena terpaksa agar baekhyun oppa tidak melihatmu”
“aku memakan ketulusan orang saat berciuman denganku, jika orang itu menciumku dengan nafsu, itu sama saja seperti aku memakan satu butir nasi. Tapi kau, tadi selama kau berciuman, tidak ada nafsu sedikit pun, tapi rasanya hambar, karena kau melakukannya dengan keterpaksaan dan yang kedua kau menolakku mentah mentah”
Hye yang tidak mengerti hanya diam sambil menatap namja yang ada di depannya itu dengan tatapan aneh.
“intinya, aku mengisi tenagaku dengan ciuman” kalimat itu sukses membuat mata hye membulat tak percaya, pikirannya mulai melayang kemana mana.
“termasuk pria? Kau juga mengisi tenagamu dengan berciuman bersama pria? Apa pria juga bisa menambah tenagamu?” kali ini pikiran hye mulai gila
Hening.
“huahaha!!!” sebuah tawa memecah keheningan. Suho tertawa hingga terguling guling di lantai. “haha..hh...tentu saja tidak!! Aku masih normal, bodoh!! Tapi jika keadaannya mendesak, apa boleh buat” jelasnya dengan wajah tanpa dosa.
“mendesak?” ucap hye palan lalu menghilangkan pikiran negativenya itu. “lalu sekarang apa?” tanya hye pada suho.
“pertama, beri aku pakaian, saat ini aku butal” hye yang kembali menyadari keadaan tubuh suho, segera berlari keluar apartemen dan masuk ke apartemen kakaknya.
Hye mengambil kemeja putih yang sedikit kebesaran bagi oppanya, celana pendek hitam, dan tentunya dalaman. Sebenarnya hye agak jijik jika memegang dalaman orang lain, meskipun itu sudah dicuci sebersih bersihnya dan meskipun itu milik oppanya. .
“mian, aku sedikit lama” ucap hye sambil melempar pakaian baekhyun ke arah suho lalu berjalan ke arah dapur dan meninggalkan suho di kamarnya. “cepat pakai baju itu, aku mau ambil makanan, tenang saja aku tidak akan mengintip”
Skipà
“Kau tak makan?” tanya hye sambil memasukkan jjajangmyeon ke mulutnya
“aku sudah kenyang, bukankah tadi sudah kau beri makan?” ucap suho sambil memeperhatikan hye yang sibuk mengunyah
“uhuk!” kalimat suho barusan membuat hye tersedak. “ja..jangan bicarakan itu lagi” ucap hye gugup lalu meminum air yang ada di sebelahnya.
“percuma saja, karena setiap hari kita akan melakukannya”
ZZZRRSSHH...!
Lagi lagi kalimat suho membuat hye tersiksa dan sukses menyemburkan air ke sembarang arah dari dalam mulutnya yang belum sempat ia telan. Hye segera mengambil tisu dan membersihkan air yang tersisa di daerah mulutku.
“yakk! Aissh...sudahlah, aku jadi tak nafsu makan” hye hendak beranjak dari duduknya dan menaruh piringnya yang masih ada sisa jjajangmyeonnya, namun tangannya ditarik oleh suho yang tadi duduk disampingnya, dan hasilnya hye jatuh di pelukan suho dengan tidak elitnya.
“tetap seperti ini dulu” ucap suho saat dirasanya tubuh yang ia peluk mulai memberontak. “aku...”
Entah kenapa kali ini hye diam dan menuruti perkataan suho. Hye diam menanti lanjutan kalimat suho.
“aku haus” lanjutnya sambil menenggelamkan wajahnya di perpotongan antara bahu dan leher hye.
“m..mwo?, jangan bilang jika kau menghilangkan rasa hausmu dengan berpelukan” hye segera melepaskan dirinya dari suho, dan suho hanya tersenyum seperti anak kecil yang menuruti perintah ibunya. “oh god..., sebenarnya kau ini apa?”
“apa aku perlu menjelaskannya?” tanya suho yang dibalas dengan death glarenya hye. “arra arra, akan kuceritakan, ah ani... kau harus melihatnya secara langsung, kajja” suho menarik hye ke arah kamar mandi.
“yakk!, apa yang akan kau lakukan, eoh?, apa kau mau macam macam?” berontak hye saat ia sadar bahwa dia diseret paksa oleh suho.
“bukankah kau ingin mengetahui asal usulku? Diamlah, aku tidak akan macam macam”
‘dia berasal dari kamar mandi? Menjijikkan’ itulah yang ada di pikiran hye
Hye memberontak kecil dan sesekali mengumpat tak jelas. Suho seakan tak mendengar umpatan umpatan yang keluar dari mulut hye, tetap menarik tangan hye, walaupun sudah berada di depan pintu kamar mandi. Suho menghembuskan nafasnya dengan berat dan menatap sejenak pintu kamar mandi.
“yakk, kau ini ingin buang air? Apa harus ditemani? Cih, apa kau gi...”
“ini berat” potong suho cepat saat menyadari hye sedang mengoceh ria.
“apa maksudmu? Ah sudahlah aku capek, besok saja kau ceritakan asal usulmu itu” hye yang hendak pergi, memutar balikkan tubuhnya saat ia merasakan ada sebuah cahaya di belakangnya.
Hye membelakkan matanya saat ia sadar bahwa cahaya itu berasal dari kamar mandinya. Suho yang awalnya menatap kosong ke arah kamar mandi, menoleh ke arah hye sambil tersenyum.
“kajja” kali ini suho mengulurkan tangannya pada hye, dan secara refleks, hye membalas uluran tangan suho.
Suho yang menyadarinya, tersenyum pada hye yang sedang menatap aneh padanya. Suho menarik hye masuk ke kamar mandi. Saat melewati pintu, pemandangan yang diterima hye sangatlah berbeda, dia berada di salah satu gedung olah raga sekolah.
“su...suho-sshi, dimana kita?” tanya hye sambil menarik ujung baju suho-baju baekhyun-.
Bukannya menjawab pertanyaan hye, suho malah tersenyum dan menarik hye keluar gedung dan mengarah ke taman yang berada di belakang gedung. Terlihat seorang namja dan yeoja disebelahnya bernyanyi dengan diiringi gitar yang dimainkan sang namja. Mereka duduk di kursi taman dan membelakangi suho dan hye.
I love you neoreul saranghae
chama hajimotan mal
ddeollineun gaseumi nae mami
neul sumgyeowatdeon geureonmal
Hye berjalan mendekat, berniat untuk melihat siapa namja dan yeoja itu. Suho hanya mengikuti dari belakang. Mata hye mebulat saat ia mengetahui siapa namja yang sedang bermain gitar itu.
“su...suho-sshi...”
“Keurae, namja itu aku, dan yeoja itu...” suho berhenti sejenak, menesah pelan. “dia adalah hoobaeku sekaligus cinta pertamaku”
I like you neoreul johahae
meotjin keun namucheoreom
eonjena pyeonanhi naegyeote
nal jikyeojuneun geureon neol
’-myungsoo ft yerim ~ love u like u-
Hye terdiam sebentar. Memikirkan kenapa dua orang yang ada di depannya tidak menyadari keberadaan hye dan suho yang jelas jelas ada di depan mereka.
“kita tidak terlihat hye, kita bagai hantu” ucap suho yang ada di sebelahnya, seakan dapat menjawab pertanyaan yang terus mengitari otak hye. “ayo ke bulan desember, kau akan tau apa yang terjadi hingga aku menjadi seperti ini” suho menggenggam tangan hye dan tersenyum.
Hye memperhatikan suho yang terus tersenyum padanya, hingga ia tak menyadari bahwa mereka sudah berada di tempat yang berbeda. Ini di daerah gangnam, namun berbeda dengan gangnam yang sekarang.
“dua puluh desember, sembilan ratus sembilan puluh” ucap suho tiba tiba yang mengagetkan hye yang melamun melihat jalanan agak tertutupi salju.
“ini gangnam?, tahun sembilan puluh?”
“ayo ke bagian yang menarik” tangan suho menarik tangan hye dan mengajaknya ke dekat perempatan jalan.
Hye hanya diam dan menatap suho aneh. Tiba tiba jari telunjuk suho mengarah ke suatu titik. Hye yang menyadarinya mengikuti arah jari suho. Hye diam, memperhatikan sepasang kekasih yang tengah berpelukan.
“itu bagian menariknya? Oh ayolah suho-sshi, itu tid—“
“dengarkan mereka”
Hye langsung diam saat suho tiba tiba memotong kalimatnya. Hye mulai mempertajam indra pendengarannya, matanya pun menyipit, mencoba melihat siapa sepasang kekasih itu, karena sekarang sedang hujan. Matanya membulat saat mengetahui siapa namja itu. Suho. Suho yang lain seperti tadi. Yeojanya pun juga tak berbeda, sama seperti tadi yang hye lihat.
“oppa mianhae...” akhirnya yeoja itu mengeluarkan suara.
“ani..., kau sudah berjanji padaku deer”
“berhenti memanggilku seperti itu oppa”
“aku tidak akan pernah berhenti deer”
Yeoja itu menatap mata suho yang lain, yang sebelumnya menatap ke arah manapun kecuali namja yang ada di depannya. Matanya berair, dan perlahan setetes liquid jatuh dari pelupuk mata kanannya, dan jatuh pada pipinya, bercampur dengan air hujan yang sudah lama mengguyurnya.
“andwe..., jangan menangis..., jangan biarkan mata indahmu mengeluarkan air mata, yiji-ah. Deer berhentilah menangis” suho yang lain mengusap pipi yeoja yang ada di depannya yang disebut yiji atau deer. Lalu perlahan ia membawa yeoja itu dalam pelukannya.
“aniyeo oppa, aku tak bisa, karena pada akhirnya aku akan kehilangan dirimu”
“jika kau tak ingin kehilanganku, maka ikutlah denganku pergi dari negara ini”
Walau tak terlihat jelas, namun terlihat pergerakan kecil pada kepala sang yeoja. Kepala sang yeoja yang awalnya mengangguk, dengan cepat ia mengubah gerakan itu menjadi gelengan yang pasti. Ia melepas dekapan sang namja secara paksa.
“tidak ini salah oppa...” lirihnya pelan sambil melangkah mundur menjauhi sang namja dengan perlahan. Sedangkan disisi lain, hye dan suho sedang berusaha mendengar percakapan sepasang kekasih itu. “ini salah oppa..” yeoja itu semakin bergerak mundur sambil menatap sang namja.
Dan seperti pada drama-drama dan fanfiction yang hye lihat, yeoja itu sudah sampai pada jalan raya, dan lagi, ia tak berada di zebra cross. Sebuah mobil melaju dengan cepat dan terlihat ugal ugalan dari sisi kanan yeoja, diikuti dengan beberapa mobil polisi yang sirenenya berbunyi nyaring.
Hye yakin akan ada terjadi kecelakaan. hye melirik suho sebentar. Ditatapnya suho yang masih fokus pada sepasang kekasih itu.
Sang namja masih membeku. Posisinya masih sama, berdiri tegak, menatap sang yeoja yang masih berjalan mundur mencoba menyebrangi jalan. Bodoh memang, kenapa yeoja itu tidak segera berbalik dan berjalan maju, tidak bukan berjalan, tapi berlari.
Dan tepat pada saat suara klakson mobil yang hye yakini tengah dikejar oleh polisi berbunyi, namja itu langsung tersadar bahwa sang yeoja masih ada dijalanan. Sang namja memiliki dua pemikiran, pertama yeoja itu ingin mengakhiri hidupnya, atau tidak sadar dengan keadaannya saat ini.
Dengan cepat, sang namja berlari ke arah sang yeoja dan mendorong tubuh mungil sang yeoja hingga jatuh (dengan tidak elitnya -_-) di atas jalanan aspal yang basah karena guyuran hujan dan dingin seperti hati orang tuanya. Sedangkan detik berikutnya, tubuh sang namja jatuh dan terlindas oleh mobil yang bisa dibilang kecil. Mobil itu tak menganggapnya penting dan terus melaju, menghindari kejaran polisi yang beberapa berhenti untuk meringkus tubuh sang namja.
Tangannya hancur, kepalanya pecah, dan hanya ada sekitar sepuluh sampai lima belas persen dia masih hidup. Separah itukah kecelakaan, tidak maksudnya tabrak lari itu?
Hye diam pada tempatnya, takut melirik atau pun mengintip kejadian yang terjadi di balik tubuh suho yang sedang berada bersamanya. Entah sejak kapan tubuh suho menghalangi pengelihatannya dari kejadian barusan. Menutupi pengelihatan hye dengan memeluknya dari depan.
“ayo kembali, aku tak ingin kau melihat bagian setelahnya” lirih suho pelan sambil terus memeluk hye. Sedangkan hye hanya mengangguk menurut, ia menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suho.
“kita sudah sampai” ucap suho dan otomatis kepala hye terangkat. Ia langsung melepas dekapan suho dan jatuh terduduk di atas sofanya.
“cepat sekali, bukankah tadi kita masuk ke kamar mandi?” ucap hye pelan sambil menatap ke sembarang arah, asalkan tidak pada namja yang sekarang berada di depannya.
“kau lupa siapa aku?” suho mendaratkan pantatnya dengan kasar di samping hye, dan itu membuat hye hampir terlonjak kaget dan langsung menatap ke mata suho.
Suho yang awalnya menatap lurus kedepan, memalingkan wajahnya ke hye, lalu mendekatkan wajahnya pada hye. Hye yang melihat pergerakan suho, dengan cepat memundurkan wajahnya.
“kurasa itu tidak perlu di bahas karena kau sudah tau jawabannya byun hyesoo, yang penting sekarang adalah...” suho sengaja menggantungkan kalimatnya. Hye semakin menatapnya dalam dalam. “yang penting sekarang aku lapar~” rengek suho pada hye.
“m...m...mwo?, apa maksudmu?” semburat merah terlihat jelas pada pipi hye.
“oh ayolah hye... kita sudah pernah melakukannya” rengek suho sekali lagi dan kini ia agak mundur dari posisinya
“ta...tapi suho-sshi... hhmmpt...!” bibir mungil hye dibungkam oleh benda kenyal milik suho.
Suho sudah tak peduli lagi dengan hye yang terus meronta, perutnya sudah menyiksanya sejak beberapa menit yang lalu. Tangan kanannya yang menganggur, ia pakai untuk manahan kedua tangan hye yang terus memukul dada suho, sedangkan kakinya, menjepit kedua kaki hye. Posisi suho sekarang menindih hye, dan itu membuat hye tidak bisa bergerak sama sekali. Tangan kiri suho? Ia gunakan untuk meraih tengkuk hye, memperdalam ciumannnya yang lama kelamaan menjadi lumatan lumatan lembut lalu beralih menjadi ciuman liar pada saat lidah suho berhasil memasuki mulut hye yang kecil
Suho melepaskan ciumannya dan menatap hye dari atas. hye terlihat terengah engah dan wajahnya merah seperti kepiting rebus, begitu pun juga suho. Dapat mereka rasakan deru nafas masing masing. Suho mendekat ke arah telinga hye dan membisikkan sesuatu.
“cobalah untuk tulus dan relaks, tenanglah, aku tidak akan melakukan lebih dan tidak akan menyakitimu. Acara makanku agak terganggu” mata hye agak membulat pada saat mendengar kata makan. Berkali kali hye mencoba untuk berpikir positif.
Lagi, suho mempertemukan bibirnya dengan milik hye. Tapi kali ini berbeda, hye mulai menikmati ciumannya, bahkan ia mulai membalas setiap ciuman dari suho, tapi tetap suho yang unggul. Saat dirasa hye mulai relaks, suho mulai melepaskan cengkramannya pada tangan hye. Entah sejak kapan tangan hye pun sudah menggantung pada leher suho.
“s..suho..-sshi... ssesak...” suho yang mendengar suara yang berasal dari bibir mungil hye, segera melepaskan bibirnya dari hye.
Lagi. Suho menatap hye dari atas dan mereka saling bertukar nafas. Setelah mengatur nafasnya, suho tersenyum pada hye lalu mendekat ke telinga hye.
“gumawo, aku lebih kenyang sekarang. Jika kau melakukannya dengan tulus, aku akan memintamu sekali dalam sehari” kalimat suho barusan membuat hye membulatkan matanya. Jika ia masih disini selama sebulan, artinya hye sudah berciuman selama tiga puluh kali- pikir hye. “dan lagi, jangan seformal itu, kau boleh memanggilku apa saja, asal tidak terdengar seperti kita barusan bertemu”
Setelahnya, suho menarik dirinya dan berdiri. Sedangkan hye yang sudah dapat bernafas dengan baik, memalingkan wajahnya, mencoba untuk tidak kontak mata dengan suho. Dengan cepat, suho menggendong hye ala bridal style. Dibawa hye kekamar hye.
“y..yak yak!, apa yang akan kau lakukan?” hye terus saja meronta, sedangkan suho tetap tenang. “yak! Turunkan aku!!, suho! Kim joonmyeon!! Katamu, kau tidak akan macam macam!”
Karena kesal dengan gerakan hye yang membuat suho kesulitan mengangkat tubuh hye, dengan cepat, ia lahap kembali bibir hye. Dalam sekejap, tubuh hye membeku, dan kesempatan ini ia gunakan untuk membawa hye kekamar dengan cepat lalu menaruh tubuh hye dengan hati hati, bagai barang yang rapuh.
Setelah ia meletakkan tubuh hye, suho melepaskan bibirnya yang menempel pada bibir hye yang diam. Hye diam dan menatap suho. Tatapan yang sulit di artikan oleh seorang malaikat seperti suho. Suho pun hanya tersenyum lalu mendekatkan wajahnya kembali pada hye, mengecup kening hye dengan lembut dan agak lama.
“jaljayo...” lirih hye pada saat suho hendak beranjak dari tempatnya.

TBC/END?

gmn yeth? tambah abthrud kan? hehe thaiya cidak tao mau d lanjut ap ngga --"ripiuw jutheyo :3

Tidak ada komentar :

Posting Komentar