Sabtu, 15 Maret 2014

Jae Berkoar ._.v

yo what's up!!!
jae hbs ngilang weh....
komputer jae rusak sih -,- jd ga bs ngepost ep ep deh :3
oKai deh, karena jae lg sibuk sibuk.a (sok sibuk ._.v) jae ngepost ep ep i remember satu bulan sekali nde, mian klo kelamaan, soal.a ini jae beneran sibuk
klo ad waktu, jae bakal post ep ep i remember secepat.a
oya, msh inget ep ep twoshoot you're mine kan? jae sempet mikir klo misal.a bikin sequel gmn, tp terserah readers aj deh :3
ehem... akhir" ini jae sering baca ep ep yaoi ._. temen jae nularin virus.a sih -,- gegara keseringan, jae jd pengen buat ep ep yaoi hunhan, genre.a fantasi n romance, baru 2 genre yg jae pikir, lanjutan.a tau :/ sebener.a klo jae beneran bikin tu ep ep, itu adl ep ep genre fantasi jae, yaoi juga, blm pernah jae mikir buat bikin ep ep yaoi :v
oKai deh, jae jg mau minta maap soal.a ep ep i remember kurang greget d chapt 1, jae usahain bakal greget d chapt yg lain.a
satu lagi, jae mikir juga mau bikin ep ep i remember season 2!!! (padahal chapt 4 blm kelar -,- n blm tentu tamat -,-")
oKai deh, segini dulu jae ngoceh.a
#kyjae

Senin, 10 Februari 2014

FanFic I Remember 1/?

Cast:
  • ·         You as kim eun ra
  • ·         Oh se hun
  • ·         Xi luhan
  • ·         Member exo
  • ·         And other cast

Genre: tau ah, yang penting ga nc :3
Author: Kyjae
oKai ini ep ep jae yg k 2, jae terbawa suasana hunhan :'(
happy reading all :3

(chapt 1)

Author pov

Seorang yeoja yg tidak lain adalah kau, berjalan dengan sangat terburu buru karena hampir telat untuk masuk kelas tambahan. Tangan kirimu yg memegang bubble tea, sesekali kau angkat untuk meminum minuman yg sedang kau pegang.
Di sisi lain, ada seorang namja yg sedang berjalan dengan santainya dari arah yg berlawanan sambil meminum minuman yg sama denganmu. Ia mendengarkan musik lewat earphone yg ia sambungkan dengan mp3nya sambil melihat jalanan d seoul. Matanya yg tertutup oleh kaca mata hitam terkadang memandangan pemandangan biru dengan sedikit awan
BRUUK...!
Karena sama sama tidak hati hati, kalian jatuh tepat di pertigaan. Bubble tea kalian tumpah dan hampir mengenai bajumu. Dengan cepat kalian berdiri secara bersamaan.
“yak!” serumu padanya.
“harusnya aku yang bilang begitu!, kalau jalan hati hati, dong” balasnya
“mwo?, kau yang harusnya berhati hati, enak saja menyalahkan orang lain”
“kau...” namja itu mendekat sambil mengacungkan jari telunjuknya padamu dan diam sambil menatap dalam matamu.
Ia menatapmu cukup lama. Tatapannya cukup dalam dan agak menusuk. Mungkin sebagian yeoja akan leleh jika ditatap seperti itu.
“mianhae, aku yang salah” namja itu mundur satu langkah dan membungkuk sedikit.
“apa ini?, apa kau sakit?, kenapa kau tiba tiba...”
“itu karena aku menyukaimu”
“mwo?”
“ani, saranghae”
Wajah namja itu mendekat ke arah wajahmu. Jarak antara wajahmu dan wajahnya sekitar dua puluh senti.
“saranghae” katanya lagi. Suaranya yang berat dan terdengar menggoda hampir membuatmu ingin mendorongnya, tapi sebuah suara menghentikan niatmu
“bukankah itu sehun member exo”
‘sehun?, member exo?’ batinmu
“benar!, dia sehun exo”
Karena teriakan dua fangirl tadi, dalam hitungan menit, sekelompok fangirl dari arah mana saja segera berlari ke arah kami. Yap!, dapat di bayangkan jika teriakan tadi cukup keras untuk menyadarkan orang orang sekitar.
“aissh..., di saat seperti ini” guman namja itu yang ternyata benar benar member exo.
Kau hanya bisa diam karena seorang oh sehun mengatakan ‘saranghae’ padamu, tepat di depanmu dan di depan umum.
“kajja, lari!” sekarang dia menggenggam tanganmu dan mengajakmu berlari.
Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti kalian lagi, kalian berhenti di gang sempit yang cukup sepi. Kalian berdiri saling berhadapan dan menatap kosong. Lebih dari lima menit kalian saling menatap kosong dan akhirnya sehun memecah keheningan dengan mengambil flashdisk yang berisi tugasmu yang harus kau presentasikan hari kamis minggu depan.
“yak!” teriakmu tanpa berpikir bahwa yang di depanmu itu salah satu member exo.
Kali ini sehun mengambil pena di saku jaketmu dan menuliskan sebuah alamat apartemen di tanganmu.
“itu tugasku, kembalikan” suruhmu yang dibalasnya dengan menunjuk tanganmu yang ia tulisi
“datanglah ke alamat itu jika kau ingin ini kembali. Besok jam lima sore. Langsung masuk saja”
-author pov end-

Eun ra pov

“kim eun ra, bagaimana kau bisa setega itu, eoh?. Tugas yang kita kerjakan sepanjang malam kau hilangkan begitu saja?” park jae hi berteriak tepat pada talingaku dan mampu membuatku hampir tuli karenanya.
“apa kau sudah gila?, teriak tepat di telingaku?, bagaimana jika aku tuli, ha?”
“kau yang gila, bisa menghilangkan tugas presentasi itu!” serunya lagi, tapi yang ini sedikit lebih pelan.
“mianhae, hari minggu, aku janji akan kembali kepadaku” ucapku yakin.
“terserah, yang penting flashdisk itu harus ada di tanganku pada hari selasa, ada yang harus kurevisi”
“eh?, apa ada yang salah?”
“ya, banyak yang harus kurevisi”
“wah..., park jae hi kau memang daebak!, sudah lima kali tugas ini kau revisi”
“yah, itu juga karenamu, sudah aku pergi dulu, aku masih ingin mengikuti kelas tambahan” jae hi berdiri dari duduknya sambil membawa roti yang sudah terbuka lalu memakannya sambil berjalan ke arah ruang mr eiden untuk mengikuti pelajarannya
“dia memang hebat, otaknya tidak jebol sehari belajar selama lima belas jam” gumanku pelan sambil melihat punggung gadis berambut panjang dan dikuncir kuda.
Skipà
‘04:15’
Aku melihat jam digitalku sambil celingak celinguk dan menunggu bis datang. Aku memeluk erat tubuhku dan sesekali mengusap usapkan tanganku karena saat ini sedang hujan dan anginnya cukup kencang. Hanya ada aku di halte. Sekali lagi aku mengusapkan tanganku lalu melihat punggung tanganku yang jika bisa bicara ingin sekali mengatakan
‘belilah sarung tangan, sudah cukup sepuluh tahun sekali kau buatku menggigil, dan sekarang kau membuatku menggigil pada saat hujan?!’
Saatku membalikkan tanganku dan melihat sesuatu di telapak tanganku, aku menyadari sesuatu.
“oh god!, flashdisk!”
Dengan cepat dan nekat, ku tembus hujan begitu saja. Beruntung, halte yang kusinggahi tadi tidak jauh dari alamat apartemen yang ditulis sehun. Perjalanan dari halte ke apartemen memakan waktu lima menit. Segera kumasuki bangunan yg menurutku cukup mewah untukku singgahi. Aku terus bejalan bolak balik di depan lift karena bimbang dan takut jika ada netizen melintas. Tiba tiba, terlintas nama park jae hi di otakku.
“baiklah, ini semua demi kau jae hi” ucapku sambil menaiki lift yang sudah terbuka.
kupencet tombol tiga di lift. Sesekali aku melihat jam tanganku. Beberapa menit sudah aku diam di lift dan akhirnya kakiku bergerak ke luar lift. No 49, pintu dengan no 49 itu sudah di depanku. Dengan cepatku masukkan pin yg sudah ada di tanganku. Terdengar jelas suara tanda pintu terbuka. Tanpa berpikir panjang, aku masuk dengan cepat dan mendapati pemandangan yang cukup membuat mukaku memerah.
“yak!, neon nuguya?” seru seorang namja lain yg setengah telanjang sambil menutupi bagian dadanya dengan handuk yang ia pegang.
“mian, aku hanya ingin mengambil flashdisk” ucapku sambil membalikan badan dan menahan agar wajahku tidak berubah merah.
“flashdisk?”
“oh!, wasseo?, yak! luhan hyung!, sudah kubilang jika keluar kamar mandi pakailah bajumu” suara itu lagi lagi datang.
“yak!, kembalikan flashdiskku!” seruku sambil berbalik tanpa memikirkan kalau luhan sedang topless.
-eun ra pov end-

Author pov

Kau berlari ke arah sehun. Luhan yang terlihat bingung hanya bisa diam sambil menutupi badan bagian atasnya lalu bergeser sedikit ke samping saat kau lewat di sampingnya. Sekarang kau tepat di depan sehun.
“hyung...” sehun melirik ke luhan, dan tanpa berpikir, luhan masuk kembali ke kamar mandi dengan wajah cemberut.
“wah, kau basah kuyup, apa kau nekat menembus hujan dan basah kuyup untuk mengatakan hal yang sama sepertiku pada saat itu?” tanya sehun penuh percaya diri
“dengar, aku bukan fansmu ataupun fans grupmu. Aku kesini hanya untuk mengambil barangku yang kau bawa” katamu sambil berjalan hendak menelusuri ruangan apartemen.
Baru dua langkah, lenganmu ditarik kembali oleh sehun. Dia menatapmu dalam hingga membuatmu hampir kehilangan oksigen. Kali ini wajahnya terlihat serius, tidak seperti pertama kali kalian bertemu.
“aku mengatakannya sebagai seorang namja, bukan sebagai idol yang selalu mengatakan itu pada fansnya”
Wajahnya begitu dekat dengan wajahmu, hingga bau nafas dan parfumnya tercium jelas oleh hidungmu. Entah kenapa, suara berat dan tatapan seorang oh sehun hampir membuatmu menahan nafas selamanya. Beruntung, kau orang yang tidak mudah peka.
“haha!, tapi maaf, aku bukan seorang yeoja yang mudah tertipu dengan tatapan dan kata kata seperti itu” ucapmu lalu melepaskan genggaman sehun dan matamu langsung menangkap benda warna biru di meja.
Kau segera mengambil benda yang di sebut flashdisk itu dan pergi begitu saja. Tepat pada saat kau menutup pintu, luhan keluar dari kamar mandi dan masih dalam keadaan telanjang dada.
“tadi itu siapa?” tanya luhan sambil memandangi pintu apartemen
“hyung!, pakailah pakaianmu!”
“caranya bicara dan marah sangat manis” lanjut luhan yang masih memandang pintu apartemen dengan harapan kau akan masuk lagi. “mungkin aku akan mengenalnya” luhan pun mengambil bajunya yang tergantung di lemari sehun lalu mengambil helm
“kenapa bajumu ada di lemariku?” tanya sehun yg dari tadi di anggap angin lewat oleh luhan
“aku pergi, ne” luhan pergi sambil membawa helm dan kunci motor.
“ya, hyung eodiga?”
Skipà
“yak!, kau!”
Kau yang mendengar teriakan tadi, menengok sedikit ke belakang, walaupun kau tak yakin kalau teriakan tadi berteriak untukmu. Benar saja teriakan tadi untukmu, tapi orang yg membuat teriakan tadi bukan sehun, member exo gila (peace broh ._.v) yang menyatakan cinta padamu.
“aish..., sekarang apa lagi?, luhan exo?” gumanmu yang hendak membuka pintu gedung apartemen
“jamkkanman!” sekarang luhan menarik pergelangan tanganmu
Kau yang mulai capek dan kesal, segera membalikan tubuhmu untuk segera menyelesaikan masalahmu, walaupun kau merasa tidak ada masalah apapun.
“wae?”
“aku antar ya” terlihat wajah dengan senyuman mautnya.
Kau yang orangnya tidak mudah peka, entah kenapa bukannya melemparkan sikap yang sama dengan sehun pada luhan, malah beku diam dan tanpa sadar kau menikmati senyuman luhan yang ia kembangkan untukmu.
“aku anggap sikapmu yang diam sebagai jawaban iya” katanya lagi seraya menarikmu ke tempat parkir.
 Skipà
“ayo cepat naik” katanya sambil mengenakan helm.
Secara refleks, tubuhmu naik begitu saja di bagian belakang motor sport yang ada di depanmu.
“dimana tempat tinggalmu?” tanya luhan sambil meninggalkan tempat parkir yang sepi.
“antarkan saja aku di halte dekat sini”
“sirreo, kau seorang yeoja, dan ini hampir gelap. Katakan saja, tidak akan ada yang melihat”
“arra, tapi aku bukan gadis manja yang seperti itu”
“seperti itu apa?, aku tidak berpikiran seperti itu, sudahlah katakan saja”
Kau mendengus kesal karena orang yang sedang kau hadapi keras kepala. Tiba tiba terlintas senyuman yang tadi membuatmu hampir beku total. “tiga blok dari sini” ucapmu mengalah.
“tiga blok?, ini dekat, aku bisa kerumahnya dengan mudah” guman luhan sangat pelan dan hampir tidak terdengar olehmu karena suara motor yang bersisik. “tiga blok?, baiklah, pegangan yang erat, aku akan ngebut”
Awalnya kau hanya memegang pinggulnya dengan samar. Luhan menaikkan ujung kanan bibirnya dan pada saat yang sama kecepatannya bertambah. Kecepatannya sontak membuatmu memeluk erat tubuh seorang idol itu. Luhan yang merasakan sikapmu itu hanya terkekeh puas.
“apa yang kau tertawakan?”
“sudah kubilang pegangan yang erat, kau terlalu keras kepala” ucapnya samar karena tertutup helm.
‘kau yang keras kepala’ batinmu dan hanya diam.
Benar kata luhan, jalanan seoul sudah di terangi lampu mobil dan motor yang melintas. Jalan masih agak becek karena hujan tadi yang cukup lama. Kau menikmati angin yang behembus keras namun lembut untuk di rasakan.
-author pov end-

Luhan pov

Perasaan ini, damn!, kenapa ini muncul lagi. Ayolah, aku sudah mencoba untuk melupakan perasaan ini, tapi kenapa datang lagi. Dadaku terasa sesak dan aku merasa jantungku berhenti berdetak, paru paruku diam, kenapa seperti tidak ada aktivitas di dalam tubuhku ini. Sudahlah, luhan fokuslah. Seketika mataku menangkap sebuah cafe. Dengan cepat kuparkirkan motorku di depan cafe itu.
“kenapa berhenti?, rumahku masih satu blok lagi” ucap yeoja yang tak kukenal namanya. Dia masih duduk dibagian belakang motorku dengan gaya seperti anak kecil, sedangkan aku sudah turun dan melepas helmku lalu mengenakan kacamata hitam.
Gayanya yang seperti anak kecil itu membuatku gemas dan tak kusadari aku tersenyum lagi padanya. Sungguh dia sudah cukup membuatku beku untuk waktu yang lama dan melupakan masa laluku. Kini dia turun dari motorku dan berdiri disampingku. Tingginya mengingatkanku pada saat aku berduet dengan BoA sunbaenim. Aku suka gadis dengan postur dan tinggi seperti dia, tapi tidak dengan BoA sunbaenim, dia terlalu tua (peace lagi dah ._.v) dan lebih cocok menjadi noonaku.
“ayo masuk, aku kedinginan” aku menarik tangannya yang tidak terbalut sarung tangan. Rasanya hangat dan lembut, padahal tadi dia kehujanan, apa benar tangan orang yang hangat berarti jiwanya juga hangat.
“annyeong” seorang pelayan cantik menyambut kami berdua dengan membungkuk sedikit. Setelah badannya kembali seperti semula, dia agak kaget karena yang datang adalah aku, luhan member boyband exo. “apakah kalian butuh keprivasian?” tanya pelayan itu.
“tentu” ucapku sambil tersenyum.
“lewat sini” pelayan itu mengantarkan ke ruangan agak tertutup. Dibandingkan dengan ruangan tadi yang ramai, di sini lebih sedikit.
“2 vanilla latte panas” ucapku sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahku.
“baik, tunggulah lima menit” pelayan itu meninggalkan kami berdua.
Canggung. Kenapa suasana ini datang, aku benci ini. Kami hanya diam sambil menatap isi ruangan yang kami tempati, terkadang kami juga saling lempar pandang lalu mengalihkan pandangan. Lagi lagi mataku merekam gerakannya cukup lama, dia seperti dae rin. Dae rin, gadis yang kucintai beberapa tahun yang lalu dan menghilang. Cukup!, aku hampir mengeluarkan air mata.
“ah!, dari tadi aku belum mengetahui namamu” ucapku tiba tiba memecah keheningan, yah..., walaupun tidak sehening itu, karena cafe ini juga sambil memutar lagu ballad.
“eun ra, kim eun ra imnida” jawabnya cepat sambil tersenyum padaku dan menyipitkan matanya hingga menampakkan eye smile dan mengingatkanku pada byun baekhyun.
Lagi. Aku dibuatnya beku dan mataku terlalu fokus padanya untuk waktu yang cukup lama.
“ah~ kim eunra? Nama yang bagus” kataku yang sukses membuatnya tersenyum manis
“ini pesanannya” pelayan lain datang membawa pesanan kami.
“gumawo”
Pelayan tadi pun pergi dan suasana canggung pun datang lagi. Sungguh, aku tidak suka disaat seperti ini, tapi apa yang harus kami bicarakan. Baru kusadari kalau sikapku terlalu cepat untuk mengenalnya lebih jauh, aku terlalu nekat kali ini, aku belum berpikir dua kali atau pun memutar otakku terlebih dahulu. Lima belas menit sudah kami seperti ini sejak pelayan tadi meninggalkan kami
“uhm...” eun ra mengeluarkan suara. Kali ini suaranya lebih lembut, jauh lebih lembut malah dari pada saat ia berbicara dengan sehun.
“wae?” tanyaku.
“gumawo”
Aku tersenyum mengerti. Sungguh, dia hampir membuatku tersenyum sendiri seperti orang bodoh karena sikapnya yang berbeda dari yang tadi pada saat aku bertemu dengannya di apartemen sehun.
“anggap ini perlakuan khusus untuk seorang fans” aku melipat tanganku di atas meja sambil memajukan tubuhku sedikit dan tersenyum padanya. Tampak jelas wajahnya memerah.
“tapi aku bukan seorang exo fans”
-luhan pov end-

Eun ra pov

Argh!, aku leleh!. Berhenti tersenyum padaku seperti itu!. Aku sudah tak tahan lagi, senyumannya terlalu manis untuk kulihat, apa rasa bibirnya juga semanis senyuman itu?. Argh!, kim eun ra apa yang kau pikirkan?. Baiklah ini sudah cukup, dapat kurasakan kalau pipiku memerah. Aku ingin pulang, aku sudah leleh, sangat leleh!. Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan diikuti oleh tatapan matanya yang agak bingung.
“gumawo” aku membungkuk sedikit. “aku memang bukan fansmu, tapi terima kasih atas perlakuan khususmu itu”. Satu langkah. Tangan kanannya mendarat di pergelangan tanganku.
“aku antar” ucapnya seraya berdiri, dan tangan kanannya masih memegang pergelanganku.
“tidak usah, ini dekat” aku segera berlari mendahuluinya. Tapi gawat, dia malah mengejarku hingga pintu masuk dan seperti dugaanku, tangannya lagi lagi menarikku hingga aku sangat dekat dengan tubuhnya yang tegap itu. Dapat kurasakan bau parfumnya.
“sudah kubilang, kau itu yeoja. Tidak baik berkeliaran malam malam begini. Apa lagi kau itu yeoja yang polos” kali ini tatapannya sangat dalam.
‘yeoja yang polos’?. Apa aku sepolos itu hingga tidak boleh keluar malam. Aku sudah sering keluar malam dan berkeliaran sana sini jika tidak ada yang bisa kulakukan. aku yang hendak membuka mulut, jari telunjuknya mendarat tepat di bibirku yang tipis.
“tenanglah, beri tau saja alamatmu, tidak akan ada yang melihat ataupun mendengar. Orang orang di cafe ini tidak semudah itu membocorkannya” lagi lagi senyuman itu terukir di wajahnya.
“ha..., baiklah”
Aku pun menyerah karena sedang tidak ingin berdebat akan kepulanganku. Setelah kuberi tau alamatku, dia segera naik ke motornya lalu mengenakan helm.
“naiklah”
Tanpa pikir panjang, aku naik ke motor sportnya yang pastinya mahal.
“pegangan yang erat, jangan sampai kau hampir terjatuh seperti tadi”
Jujur, aku agak bingung bagaimana aku berpegangan. Ini terlalu aneh untukku berpegangan dengan erat kepada seorang idol seperti luhan, apalagi dia memiliki wajah seperti ini, fangirlnya pasti banyak.
“kau peluk saja aku, tidak ada yang melihat”
Empat kata di awal membuatku hampir terpental dari dudukku, tapi entah kenapa aku menurut begitu saja, bahkan kusandarkan kepalaku di punggungnya.
Luhan mulai menjalankan motornya ini. Lampu lampu di jalan, bangunan, dan kendaraan yang melintas membuat jalanan seoul terang. Mungkin tanpa lampu lampu itu, jalanan seoul sekarang akan gelap gulita. Tanpa menunggu lama, kami sampai di sebuah rumah yang tidak lain adalah rumahku. Aku segera turun dari motornya. Luhan pun melepas helmnya, sungguh pada saat melepas helm pun ia terlihat tampan. Rambutnya yang terlihat agak acak acakan menambah kesan maskulin pada dirinya (rambut pas di MAMA 2013 itu loh).
“ige, ni jibiya?” matanya menelusuri setiap sudut rumahku
“yap!”
“apa kau tinggal sendiri?”
“yap!, sejak eunyoung oppa pindah ke busan”
“oppa?, kau mempunyai kakak?”
“yap!, sekarang dia tinggal bersama tunangannya dan sebentar lagi menikah”
“pasti kau kesepian, apa perlu kutemani tinggal disini?”
JLEB...
Sebuah pisau seperti menusuk kepalaku. Apa yang dia pikirkan hingga berkata seperti itu. Dia seorang idol yang di gilai oleh fansnya karena wajah baby facenya itu, sedangkan aku hanya anak kuliahan biasa. Sebenarnya aku sangat ingin berteriak keras ‘IYA!’ tapi itu tidak mungkin, tetangga akan bangun. Sebagian dari anak tetanggaku adalah exo fans, dan jika aku benar benar berteriak, maka aku akan berakhir di pembullyan dari banyak fans.
Aku mematung selama beberapa detik karena ucapan luhan tadi dan pada akhirnya disadarkan kembali dengan tawa renyahnya.
“haha!, aku hanya bercanda” luhan sedikit mengacak acak rambutku sambil tersenyum.
-eun ra pov end-

Sehun pov

Aku mengikuti jalan yang gps arahkan padaku hingga aku sampai di daerah yang belum kuketahui. Dan apa mataku salah melihat luhan hyung yang ternyata tadi buru buru untuk mengantarkan gadis itu?, gadis yang kusukai sejak pertama kali bertemu
“geuman!” seru gadis yang kusukai itu tapi tak kuketahui namanya sambil memanyunkan sedikit bibirnya dan menyingkirkan tangan luhan hyung lalu merapikan kembali rambutnya
Luhan terlihat gemas dengan sikapnya, malah tambah mengacak acak rambutnya seakan akan mereka sudah sangat dekat, padahal aku yakin mereka baru bertemu.
 “hyung, kenapa kau selalu merebut apa yang aku miliki?, pertama dae rin dan sekarang gadis itu?” ucapku pelan sambil menatap jauh mereka berdua.

Sudahlah aku tak kuat, lebih baik aku pergi saja. Lihat saja hyung, aku akan memilikinya secepat mungkin. Kunyalakan segera motorku lalu pergi meninggalkan mereka. Di jalan, tanpa kusadari mataku mengeluarkan sebuah cairan bening. Ini aneh, aku belum mengenal gadis itu, tapi dia telah membuatku menangis. Aku terus memikirkan gadis itu dan sebuah kejadian yang tidak kuinginkan terjadi. Pukul 06.30 malam, aku tidak sadar bahwa lampu merah menyala, aku terus melaju dengan kecepatan yang lumayan dan datanglah sebuah mobil pick-up menghantam keras motor dan tubuhku.aku sempat menangis pada saatku tergeletak di jalan hingga pada akhirnya aku menutup mataku dan dikerumuni banyak orang.


Jujur, jae blm tau ending.a kek gmn -,-
Menurut readers ending.a mau kek gmn? sama luhan atau sehun? sad ending atau happy ending?
#kyjae

Minggu, 26 Januari 2014

FanFic You Are Mine 2/2

You are mine 
2/2
Cast :
• Park eunji (OC) 
• Park eundae (OC)
• Byun baekhyun
• Kim joon myeon
Genre : tau ah 
Author : kim young jae (kyjae)
oKai ini dia ep ep lanjutan.a you are mine. ini part terakhir 
oKai dah ini dia ep ep.a
ChenKaiD.Ot ->
Eunji pov
Tiga hari sudah baekhyun ada di apartemenku, dan eonnie belum pulang juga dari dubai. Tidak ada yang hal aneh yang terjadi, itu karena kami masih memikirkan masa depan dan tidak berpikiran pendek seperti anak muda biasanya yang hanya memikirkan kenikmatan yang sesaat (bahasa lu author).
Kami baru pulang dari sekolah. Kulempar diriku diatas sofa sedangkan baekhyun sedang mengambilkan minuman ringan. Kudengar beberapa langkah kaki yang mendekat dan itu tidak lain adalah
“baekhyun, gumawo” kataku yang menerima lemparan sebuah kaleng minuman darinya.
Dia duduk di sampingku dan membuka minumannya, begitu pun denganku. Kami meminumnya dengan oneshoot, yap! Karena sekarang sangat panas, bahkan ac di apartemen belum cukup mendinginkan tubuh sekaligus otak kami yang tadi ditumpuki oleh rumus fisika dari kim seonsaengnim. 
“ah...” ucap kami berdua bersama setelah meminumnya dan menyandarkan diri disandaran sofa. Tangan kami masih memegang kaleng minuman yang sudah kosong.
Tiba tiba, bell apartemen berbunyi dan otomatis kapala kami berputar ke arah pintu dengan tatapan tanda tanya lalu kami saling melempar pandangan. Damn!, matanya terlalu indah untuk kulihat, aku sudah tak kuat. Aku pergi meninggalkan baekhyun untuk membuka pintu, sedangkan dia malah mengambil minuman kaleng lagi, mungkin dia belum puas.
Sebuah pemandangan yang indah sekaligus menakutkan ada di depan pintu apartemenku. Aku dapat melihatnya jelas lewat lubang kecil yang ada di pintuku. Dengan cepat aku lari ke arah baekhyun dan baekhyun hanya menatapku ‘mwo?’ karena dia masih minum.
“suho oppa..., ani suho sunbaenim, ani.. oppa?, sunbaenim?, ah molla!” ucapku bingung harus mulai dari mana, bahakan menyebutnya saja susah
“mwo?, ada apa?, bicaralah yang benar” tanyanya yang kesal karena kusebut nama ‘suho’
“di didepan” akhirnya aku berhasil mengatakannya dan sukses besar membuat baekhyun menyemburkan minumannya yang masih tertahan dimulutnya. Baekhyun mengelap daerah bibirnya dan itu terlihat...ugh...lupakan.
“yak!” seruku padanya.
Tiba tiba terlihat wajah tenang, tampang ‘cool’ dan woles dari baekhyun. Dan itu membuatku ingin memukulnya dengan sapu seperti ibu ibu keras kepala. “tenang, kau buka saja pintunya, sisanya serahkan padaku” kini baekhyun melangkah ke sofa dan duduk dengan gaya ‘cool’nya. Jujur, aku benci dengan gayanya yang sok cool itu.
“mwo?, bukannya kau bilang ada...” kalimatku terhenti saat baekhyun menatapku dengan arti ‘buka saja, kau akan aman’ dan tatapan itu berhasil membuatku berjalan malas ke pintu dan membuka dengan senyum yang dipaksa untuk menyambut tamu tak diundang itu.
“annyeong suho oppa, eum.. sunbaenim?” aku memberinya salam dan masih bingung harus memanggilnya apa. Saat aku ingin membungkuk sedikit untuk memberinya hormat, dia malah menahanku. Ada apa dengannya?, bukankah ini tak salah?, dia juga lebih tua dariku.
“mian, nyonya park” tunggu dulu, apa katanya barusan?, nyonya park?. “kau tidak perlu melakukan itu, mulai sekarang aku pelayan pribadimu” katanya sembari membungkuk lalu melirik kecil dan posisinya masih membungkuk lalu menegapkan kembali tubuhnya
Kata katanya barusan berhasil membuatku bingung, apa maksudnya pelayan pribadi?, bukankah dia anak orang kaya?, bahkan perusahaan appanya bersaing ketat dengan perusahaan appa.
“kau masih tidak percaya, eoh?, kau bisa menghubungi appamu dan menanyakan tentang hal ini” kali ini dia tersenyum. Sungguh senyumnya seperti seorang malaikat. Eit park eunji, ingat baekhyun, ingat baekhyun.
Aku terus menyadarkan diriku. “ani, tidak perlu, masuklah” kataku. 
Suho mengekor kepadaku. Dia terus berjalan di belakangku dan jaraknya sepuluh senti persis (teliti amat yak?) tidak kemajuan atau kemunduran sedikit pun. 
“kim joonmyeon, ternyata kau sudah pindah profesi, eoh?” terlihat baekhyun duduk di sofa. Gayanya hampir membuatku muntah karena dia terlihat seperti seakan akan dia yang paling tampan dan dipuja puja oleh semua wanita di dunia. Dia menyilangkan kakinya, salah satu tangannya menahan kepalanya dan ditaruhnya tangannya itu di pegangan sofa. Ditambah lagi ekspresi dan tatapan baekhyun yang berbeda dari biasanya. Dia membuatku hampir muntah dan leleh secara bersamaan.
“jadi kita akan bekerja sama lagi, byun?” terlihat smirk milik suho, ini pertama kalinya aku melihat smirk dari namja itu.
“kurasa iya, tuan kim” kali ini baekhyun berjalan ke arah kami dan melewatiku lalu menepuk pundak suho dengan kasar.
Terlihat tatapan tanda persaingan akan dimulai lagi dari kedua namja yang ada di belakangku ini.
Aku merasakan suho oppa adalah namja baik yang polos dan murah senyum. Dia dengan senang hati mengajariku dalam belajar, tapi tidak sepertinya untuk baekhyun dan baekhyun pun terlihat tidak sudi bila diajari oleh suho oppa. Setiap pagi, jam empat sudah kudengar suara berisik dari arah dapur dan itu adalah suho oppa aku hanya tersenyum kecil sambil mengintip dari kamar dan pada saat aku melirik ke baekhyun aku hanya berguman ‘apa apaan ini?, dasar namja aneh, apakah sperti in namja yang digilai hampir seluruh isiwi di sma kami, suho oppa jauh lebih pantas’
Sudah satu minggu lebih eonnie tidak pulang dan itu membuatku gila karena suho oppa dan baekhyun bertengkar dalam selimut setiap harinya (tau kan maksudnya, yang pinter bahasa indonesia pasti tau). Mereka perang dingin dengan tatapan mematikan dan senyuman palsu yang tercetak jelas, walau pun suho oppa sudah tau hubungan kami, bahkan seluruh manusia di sekolah sudah tau termasuk gulu killer itu. Hingga suatu hari baekhyun harus jauh dariku selama beberapa menit, karena di setiap menitnya baekhyun dan suho oppa mengekor kepadaku, kecuali saat aku mandi, itu adalah hal yang tidak mungkin. Baekhyun pergi sebentar untuk membelikanku obat, yap hari ini aku sakit.
Baekhyun sudah pergi sekitar lima menit yang lalu. Aku mulai merasa bosan di kamar. Kulangkahkan kakiku yang lemas ke arah dapur. Terlihat namja malaikat itu sedang memasakkanku bubur. Di pantas menjadi namja idaman bagi seluruh wanita di dunia ini karena dia punya semuanya, wajahnya sudah tampan alami, dia kaya, memiliki IQ yg tingginya bukan main, berbakat dalam hal musik, yah... begitulah intinya, tapi satu yang tidak dia miliki, yaitu tinggi badan (hehehe ._.v yg bias.a suho jangan ngamuk y  shafa ngomong.a gk hoax :3). Aku mendekat ke arah suho oppa dan mendudukkan diriku dimeja dapur. Kulihat namja itu sejenak lalu memalingkan pandanganku ke bubur yang sedang ia masak saat dia sadar aku terus memperhatikannya.
“kenapa kau bangun?, kau masih sakit” katanya penuh perhatian
“dikamar membuatku bosan” keluhku yang diikuti lirikan tajam dari suho oppa
“lalu apa yang kau mau?” kali ini dia menatapku tajam dan mendekat kearahku.
“hiburan” jawabku polos
“kalau begitu biarkan aku memberimu hiburan” suho oppa semakin dekat dan perasaanku mulai tak enak.
Apa yang akan dia lakukan? Semoga ini hanya feelingku saja. Sekarang dia ada di depanku persis, ini mengingatkanku pada saat aku dan baekhyun...hm... aku sedang tidak ingin memikirkan kejadiannya, karena aku seorang novelis dengan imajinasi tinggi, itu membuatku berpikiran kemana mana, apa suho oppa akan melakukan hal yang sama pada baekhyun? Argh..., sudah kubilang hentikan park eunji!. Ingat baekhyun, namja player itu, aku tau baekhyun players tapi... sudahlah lupakan dulu, yang penting apa yang akan suho oppa lakukan? Sikapnya yang agak berbeda dari biasanya membuatku takut ditambah smirknya yang tercetak jelas diwajahnya.
“hi...hiburan?” tanyaku yang mulai takut. Pikiranku mulai kemana mana. Aku takut dan terus menyebut nama baekhyun.
“iya hiburan” kini posisi kami benar benar sama persis seperti pada saat baekhyun berhasil membuat mataku membulat untuk yang kedua kalinya. “jangan takut, aku hanya akan menyentuh bibirmu” kini wajahnya semakin mendekat dan semakin mebuatku takut.
Hatiku terus meneriaki nama baekhyun atau eonnie. Dimana mereka, aku mohon salah satu darinya datang. 
Hingga pada akhirnya sesuatu menempel dibibirku. Suho oppa terus melumat bibirku secara kasar dan terus mencoba menerobos bibirku dengan lidahnya yang tertutup rapat.
Baekhyun, aku minta maaf. Sungguh baekhyun aku minta maaf, aku melanggar janjiku. Hanya kalimat kalimat itu yang ada di otakku dan aku terus saja meneriaki nama baekhyun dalam hati
Aku tetap memberontaknya dengan menendangi kakinya dan akhirnya dia mulai kesakitan lalu melepaskan ciuman paksanya dan mundur hanya satu langkah. Aku tidak segera turun, karena jika aku turun dari meja bibir kami akan bertemu lagi dan masalah akan semakin panjang.
-eun ji pov end-
Author pov
“korea! I’m back!” sesosok gadis tengah berjalan dengan riangnya di tengah keramaian bandara, memang agak memalukan tapi ia tak begitu peduli karena sudah tiga minggu dia meninggalkan negara kesayangannya dan adiknya ke dubai hanya untuk membantu kedua orang tuanya. Seperti biasanya, earphone terpasang ditelinga kirinya, sedangkan telinga kanannya dibiarkannya mendengar suara diluar earphonenya.
Gadis bernama park eundae itu pun melangkah keluar taxi yang mengantarnya keapartemen miliknya dan dongsaengnya. Saat hendak menuju pintu masuk gedung, ia menangkap sosok namja yang tengah membawa kantung plastik putih dengan lambang apotik.
“yak byun baekhyun!” serunya pada namja itu.
“ah noona!” balas namja tadi dan langsung berlari ke eundae lalu memeluknya kecil.
“geumanae!” seru eundae seraya melepaskan pelukan baekhyun
“aigoo noona, apa kau tak tau aku merindukanmu eoh? Bogosshipo bogosshipo” sikap kekanakan baekhyun hampir saja membuat eundae muntah tapi pikirannya segera melayang ke kantung plastik yang dipegang baekhyun.
Baekhyun lalu menatap baekhyun dengan tatapan ‘ige mwoya?’ baekhyun yang sadar atas tatapan eundae langsung ingat kalau eunji didalam sedang sakit dan eunji sendirian bersama suho.
“aissh... suho, aku lupa. Noona ayo ke atas nanti aku ceritakan” baekhyun membawakan koper eundae.
‘suho? Apa dia pulang kekorea lebih cepat karena...’
Baekhyun dan eundae sudah didepan pintu apartemen dan pemandangan apa yang mereka dapat. Suho dan eunji hampir berciuman lagi, mereka yang sadar akan kedatangan dua orang tadi menatap takut pada baekhyun dan eundae.
Mata eundae mulai terlapisi oleh cairan bening. Kini matanya sudah tak sanggup membendung air matanya yang sudah jatuh membasahi pipinya. Eundae berlari keluar apartemen sambil mencoba menahan tangis, tapi apa gunanya tangisannya makin menjadi.
Baekhyun yang merasa dikhianati membanting keras kantung yang ia bawa untuk eunji. Dia menatap eunji tajam dan tatapannya seakan berkata ‘kau bohong eunji’ lalu melakukan hal yang sama seperti eundae. 
Arah eundae ke taman kota sedangkan baekhyun ke halte, karena kedua tempat itu menurut mereka adalah tempat yang bagus untuk menangis. Baekhyun sudah duduk di halte dengan mata yang basah, ia diam menatap kosong lurus kedepan dan membiarkan air matanya jatuh. Sedangkan eundae, dia duduk sambil menangis sejadi jadinya. Suasana galau semakin sempurna karena pada saat yang sama kota seoul di serbu oleh jutaan tetes air dari langit.
Eunji dan suho mencari pasangannya masing masing disetiap tempat. Eunji tau betul tempat favorit baekhyun untuk menangis, jadi ia langsung melangkah menuju halte bis terdekat. Sedangkan suho dia masih bingung kemana dia akan pergi untuk menemui seseorang yang ternyata selama ini dia cintai.
~flashback~
Dubai, 03.24 p.m. 
“yak eundae!” seru seorang namja memanggil seorang yeoja yang belum lama ini menjadi kekasihnya
“mwo?” jawab eundae dingin yang masih sibuk dengan novelnya
“mwoya?, bahkan hubungan kita sebagai pasangan kekasih tidak membuat sikapmu berubah eoh?”
Eundae menutup novelnya lalu menatap suho yang baru kemarin menjadi namjachingunya dengan tajam. Suho yang orangnya suka main main segera menempelkan bibirnya dengan bibir eundae dengan cepat.
“yak!” seru eundae dan suho langsung lari menuju eonmanya.
“aigoo kim joonmyeon, kau ini sudah dewasa tapi sikapmu tetap seperti anak kecil, eoh? Dasar nakal, beraninya kau mencium bibir seorang gadis” kata nyonya kim sambil mencubit kecil pipi suho
“akh.., eonma appo” 
“keurae!, itulah suho!” ucap eundae sambil menatap tajam suho.
“ya~ kalian ini sudah pacaran tapi masih seperti biasanya, eoh?” terdengar suara berat dari seorang pria 
“appa, kenapa appa mengatakannya seakan akan kami ini sudah lama kenal, padahal baru sebulan kami kenal” celetuk eundae
“dan baru sehari kami pacaran, ahjusshi” suho merangkul eundae samil menatap orang yang dia sebut ahjusshi dengan senyumannya.
“jangan panggil ahjusshi, panggil appa juga boleh, karena dalam waktu dekat kalian akan menikah” kalimat barusan berhasil membuat mata suho dan eundae memulat sempurna
“haha..., kalian ini pikirkan sekolah dulu, masuk ke universitas yang kalian inginkan, lulus dengan nilai sempurna lalu kegiatan yang disebut ‘pernikahan’ itu akan segera digelar” kali ini appa suho datang dan merangkul eundae dan suho dari belakang.
“tapi apa tidak terlalu buru buru?, selesai kuliah langsung...” perkataan eundae terpotong
“lalu kalian akan menunggu sampai kapan?, sampai kami tidak ada dan membiarkan kami tidak melihat bayi dari kalian, eoh?” terlihat raut kecewa yang dibuat buat dari nyonya kim.
Eundae dan suho hanya diam saling menatap. 
“keurae, terserah kalian. Aku yakin keputusan kalian kali ini adalah yang terbaik” ucap suho sambil melirik eundae
“dasar, modus” eundae memukul sedikit perut suho 
Tiba tiba nyonya park masuk kedalam pembicaraan kami semua.
“kajja, mobilnya sudah datang. Suho, titip eundae ya” wanita itu pergi meninggalkan suho dan eundae sambil menggandeng suaminya dan diikuti sepasang suami istri lagi yang tak lain adalah appa dan eonma suho.
“ne, hati hati dijalan” 
Eundae merasa nyaman sejak awal berada didekat suho, tapi ia tutupi dengan sifat dinginnya. Dia juga menyukai sikap suho yang selalu mengekor kepadanya dimana pun dia pergi pada saat di sekolah. Hingga pada akhirnya suho di pulangkan dulu ke korea untuk menjaga eunji dan itu telah menurunkan mood eundae untuk membantu kedua orang tuanya.
~falshback end~
“park eundae!” namja bernama asli kim joonmyeon itu kini telah mendapatkan kekasihnya tengah menangis ditengah hujan sambil berjalan pelan seperti orang yang kehilangan darah. 
Semua orang berlarian menepi agar tidak kehujanan, tapi tidak untuk eundae, dia berjalan tanpa memikirkan pakaiannya yang saat ini sudah basah kuyup. Dengan secepat kilat, suho menembus hujan lalu memeluk tubuh yeoja yang hampir jatuh karena sudah terlalu lelah untuk menangisi namja yang saat ini memeluknya dan memberikan sebuah sentuhan hangat. Eundae memukul mukul kecil dada bidang milik suho karena ia juga tak ingin menyakiti suho, tapi apa yang ia dapat, malah ia yang tersakiti.
“mianhae, jeongmal mianhae” suho mulai menyesali perbuatannya dan air matanya perlahan menetes. “mianhae..., aku berdiri di atas dua kapal pada saat yang sama. Aku kira eunji yang ada dihatiku, tapi ternyata tidak. Maaf, aku baru menyadarinya pada saat aku menyentuh eunji” suho menatap eundae dengan tatapan ‘percayalah padaku’
“jangan lakukan itu lagi” eundae memeluk erat tubuh suho.
Hujan bertambah deras,suho dan eundae pun segera menepi. Dihalte bus, masih terlihat sosok namja yang menangis. Ia masih menatap kosong hujan yang tengah mengguyur seoul. Eunji berhasil menemukan baekhyun yang sedang duduk di halte dan segera menghampirinya. Baekhyun yang menyadari kalau eunji akan segera sampai, ia pun segera beranjak dari duduknya lalu berdiri dan siap siap masuk ke bis yang entah ia tidak ketahui tujuannya. Eunji terlambat, baekhyun sudah menaiki bisnya dan bis itu tidak menunggu lama. Eunji melihat baekhyun duduk disamping jendela dengan mata dan pipi yang masih basah.
“jamkkaman!, ahjusshi buka pintunya” eunji memohon pada ahjusshi yang menyetir bis, tapi apa gunanya, ahjusshi itu sekarang sedang menggunakan earphone (gaul amat yak?) ditambah lagi suara hujan yang makin deras. 
Eunji terus memukul mukul pintu bis tapi tidak ada gunanya. Bis mulai berjalan pelan dan eunji mulai berlari mengikuti bis sambil terus memukul mukul badan bis dan meneriaki baekhyun.
“yak byun baekhyun! Baekhyun! Byun baekhyun!” eunji terus berteriak dan berlari hingga pada akhirnya dia terjatuh karena sudah tidak kuat untuk berlari dalam hujan, ditambah keadaannya yang tidak terlalu sehat ini menghambatnya. “baekhyun mianhae...” eunji terduduk di jalanan dekat trotoar sambil menangis dan menyebut nama baekhyun berulang kali dengan bibirnya yang mulai membiru.
Tiba tiba hujan berhenti di tubuh eunji, padahal masih terdengar suara air berperang dengan jalanan seoul. Eunji mendongakkan kepalanya, terlihat wajah baekhyun yang masih basah karena menangisi eunji. Dengan cepat eunji menangis di pelukan baekhyun.
“baekhyun mianhae, mianhae...., jeongmal mianhae...” baju baekhyun basah, bukan karena hujan karena dari tadi ia tidak sedikit pun kehujanan, tapi karena tubuh eunji yang basah dan air mata eunji yang jatuh di baju baekhyun. “mianhae baekhyun, aku telah melanggar janjiku” eunji masih terisak dan baekhyun masih tak kunjung membalas pelukannya.
“aku sudah memaafkanmu, jika kau lakukan lagi, tak segan segan aku meninggalkanmu” katanya mengancam dan senyum biasanya. Walaupun eunji tau bahwa senyuman itu masih dipaksakan oleh baekhyun dan masih terlihat kecewa padanya, tapi baekhyun mencoba untuk tersenyum setulus mungkin.
“gumawo” 
Tanpa mereka sadari, payung yang dipegang baekhyun lepas dari tangannya karena angin begitu kencang. Baekhyun menarik wajah eunji dan membuat eunji berjinjit sedikit. Lagi. Mereka berciuman dan mereka melakukannya di tempat umum. Hanya beberapa pasang mata yang menatap mereka, bahkan ada ibu ibu yang berjalan melewati mereka sambil berkata ‘aigoo, anak muda jaman’ baekhyun dan eunji yang mendengarnya hanya tersenyum malu didalam ciuman mereka.
Skip
“eonnie~!, aku pulang” eunji masuk ke apartemennya dengan keadaan yang masih basah. “eonnie?, apa kau belum pulang?” eunji mulai khawatir hingga akhirnya ponselnya bergetar di meja.
Nama park eundae terlihat jelas di layar ponsel milik eunji dan tanpa menunggu apa apa, segeralah ia angkat.
“yeobb...” belum selesai eundae menyelesaikan salamnya, eunji memotongnya
“eonnie!, kau dimana?, apa kau baik baik saja?, kau bersama siapa?, kenapa belum pulang?, pulanglah, hujan semakin deras” eunji mengatakannya dengan cepat, bukan karena takut pulsanya akan habis, tapi karena khawatir.
“tenanglah park eunji, aku baik baik saja. Eonnie sedang bersama suho”
DEG...
Saat mendengar nama suho, eunji jatuh ke lantai dan pada saat yang sama baekhyun datang sambil menggosok gosokkan rambutnya karena basah. Baekhyun memberi tatapan ‘gwaenchana?’ pada eunji dan hanya dibalas anggukan oleh eunji. Baekhyun mengajak eunji duduk disofa sambil terus menggosokkan kepalanya dan terus menatap eunji dengan penuh tanya.
“eonnie, jamkkaman” eunji menahan telfonnya. “eundae eonnie bersama suho oppa” mata baekhyun membulat saat mendengar perkataan eunji. Baekhyun memberi tatapan ‘suruh dia pulang’ dan hanya direspon eunji dengan anggukan. “eonnie, bisakah kau pulang sekarang?, suho oppa... eum...” eunji menggigit bibir bawahnya karena takut mengatakannya, walaupun eundae sudah melihatnya.
“tenang saja, dia akan merawatku untuk beberapa waktu. Sekarang aku ada dirumahnya” eundae masih bicara dengan nada santai
“mwo?, merawatmu?, rumahnya” eunji terlalu kaget hingga menggunakan banmal 
“yak! Beraninya kau menggunakan banmal kepada eonniemu sendiri” omelnya dari sebrang 
“mian, tapi eon, eonnie sudah lihat sendiri bukan sikapnya kepadaku tadi” 
Kali ini eundae diam. Ia ingat namja chingunya mencium wanita lain, dan itu adalah adik eundae sendiri, dan juga ia baru ingat kalau hubungannya dengan suho belum diketahui adiknya sendiri. Eundae menghembuskan nafasnya dengan berat sebelum akhirnya ia mengatakan hal yang mungkin dapat membuat adiknya itu jantungan.
“eunji, maaf aku tak memberi taumu sebelumnya, aku memiliki hubungan dengan suho” 
“mwo?!?!, apa maksud eonnie?, hubungan?, dengan suho oppa?, jangan bilang kau adalah...”
“ya, kau benar. Eonma dan appa sudah tau, dan kami kepergok oleh mereka saat suho mengatakannya di dubai”
“apa eonnie tulus?”
“sejak awal aku sudah tulus, sudahlah kami mau makan, besok aku akan menceritakannya semua kepadamu” 
“mwo?, eonnie?, yak eonnie!” eundae menutup telfon sepihak dan itu yang kadang membuat eunji malas untuk menelfon eonnienya.
“mereka pacaran” eunji menunduk lemas karena dia telah dicium oleh pacar kakaknya.
“nugu?” baekhyun bersandar pada sandaran sofa sambil mengalungkan handuk kecil dilehernya.
“eundae eonnie dan suho oppa” baekhyun menatap eunji tak percaya. “arra, aku tau ini agak aneh, aku telah dicium...” baekhyun menutup mulut eunji dengan tangannya lalu menatap eunji dalam dalam.
“jangan lanjutkan, aku akan menangis” eunji hanya mengangguk. Tangan baekhyun kini beralih ke rambut eunji yang masih basah, berbeda dengan rambutnya yang mulai mengering. “rambutmu basah” baekhyun mengeringkan rambut eunji dengan handuk yang dikalungkannya tadi dan eunji membelakangi baekhyun. (ni scene kek d personal taste, yg ad lee min ho sama siapa gitu, shafa lupa, bedanya yg d personal taste pake hair dryer, sedangkan ini manual, alias pake handuk XD).
Baekhyun menggosok gosok rambut eunji yang lumayan panjang dengan lembut. Baekhyun pelan pelan mendekatkan dirinya kepada eunji hingga hampir tak ada jarak diantara. Eunji mulai merasakan ada dua lengan melingkar dipinggangnya. Baekhyun menenggelamkan kepalanya di leher eunji. Eunji merasakan nafas baekhyun yang berhembus pelan di lehernya dan membuatnya menggeliat kecil hingga baekhyun melepaskan pelukannya.
“geli” eunji membalikkan badannya dan mendapatkan wajah baekhyun yang tengah tersenyum manis kepadanya.
“tunggu dulu, bukankah kau sedang sakit?” raut baekhyun berubah seketika saat mengingat keadaan eunji yang sebelumnya sempat menggigil.
Baekhyun berlari ke arah kantung plastik yang tadi ia banting lalu pergi ke arah dapur. Ia sebenarnya tak sudi jika harus menyentuh makanan buatan suho, tapi bagaimana lagi, eunji masih sakit dan butuh makanan itu dan lagi baekhyun tidak bisa memasak. Baekhyun mencobanya sedikit.
“mwoya?, manis? Apa dia salah memasukkan antara garam dan gula, eoh?” karena masakan suho, baekhyun mendapat ide yang baginya akan sangat menarik dan pasti ditolak mentah mentah oleh eunji.
“makanlah ini, aku tak menjamin rasa karena ini suho yang buat”
“secara tidak langsung kau mengatakan bahwa masakanmu enak, byun” baekhyun hanya tersenyum tak jelas. Eunji segera memakan sesendok bubur itu. “huek...., apa ini? manis” eunji mencoba untuk menelannya.
Tiba tiba baekhyun mencium eunji sekilas, dan jelas itu membuat eunji berteriak .
“yak!, mwohanaeungeoya?!” bentak eunji
“penyedap rasa”
“mwo?” baekhyun mengangguk polos “mwo?!” eunji menaikkan nada bicaranya dan baekhyun tetap mengangguk polos “mwo?! Penyedap....rasa...?” 
“aissh....kau ini. setiap sendoknya, aku akan menciummu sekilas agar rasanya enak”
Wajah eunji memerah karena marah dan malu. Dengan cepat eunji melayangkan pukulannya kepada baekhyun dengan sendok. “dasar, aku ini masih sakit bisa bisanya kau memanfaatkan keadaanku. Lagi pula ini bukan kau yang buat, jadi kenapa harus kau yang menanggung” 
“jadi, kau akan mencium suho?” kali ini baekhyun terlihat kesal “jika iya...ha...aku benci mengatakannya. Aku akan menjadi penggantinya untuk sementara waktu”
Lagi lagi sendok melayang ke arah baekhyun.
“yak!, bisakah kau berhenti memukulku dengan sendok itu, eoh?” seru baekhyun sambil berdiri
“lalu apa aku harus mengambil sendok yang lain?” tanya eunji dengan polosnya dan ikut berdiri.
“sudahlah” kali ini baekhyun benar benar kesal. Eunji yang menyadari itu segera mencium pipi baekhyun. Baekhyun tetap diam dan ia masih mengharapkan lebih dari eunji, tapi itu tidak akan terjadi karena eunji sudah melangkah masuk ke kamarnya dan tidur.
Baekhyun mengusap pelan pipinya lalu tersenyum. Dengan cepat baekhyun berlari ke kamar dan membaringkan dirinya di kasur eunji. Seperti biasa, eunji akan berteriak.
“yak!, jika kau ingin tidur, tidurlah di kasur eonnie!” eunji hanya berteriak dan tidak mendorong, karena ia tau pasti akan terjadi lagi.
“shirreo!” 
“yak byun baekhyun! Neo jugeullae??” 
“lima menit saja, tidak akan terjadi apa apa, tenang saja” baekhyun pun memeluk eunji erat dan eunji hanya diam. “pintar” baekhyun mengatakannya sambil mengelus puncak kepala eunji dengan lembut dan itu sukses membuat wajah eunji memerah
~END!!!!~
~~EPILOG~~
“eonnie, sungguh kau sangat cantik” eunji menatap eonninya dari pantulan kaca.
Terlihat eundae sedang mengenakan gaun pengantin warna putih tulang. Rambutnya dibiarkannya diurai. 
“bucketnya akan segera sampai” kata eunji sambil menatap ponselnya dan dibalas senyuman eonnienya.
“mianhae!” namja bermarga byun masuk tanpa mengetuk pintu sambil ngos ngosan. “ini bucketnya, jalan tiba tiba macet” kata baekhyun lalu mendekat ke arah eundae lalu memberikan bunga seakan akan dia akan melamar eundae. “will you marry me?” tanyanya pada eundae yang berhasil membuat mata eunji berapi api tapi hanya dibalas oleh eundae dengan tawa kecil.
“yak!” seru eunji sambil menjitak kepala baekhyun.
“appo...” baekhyun meringis kesakitan sambil memberikan bunga pada eundae lalu memegangi kepalanya sambil berjalan ke arah eunji dan duduk di sebelahnya. Pada saat itu ponsel baekhyun bergetar dan itu dari. “suho hyung?” baekhyun membaca nama yang terpajang di ponselnya. Ternyata suho mencoba untuk video call dengan baekhyun. “mwo?” tanya baekhyun judes pada suho.
“yak! Eundae milikku eoh, bukankah kau sudah ada eunji” terlihat wajah geram suho yang dibuat buat
“bagaimana dia tau?” guman baekhyun pelan
“benar itu!” eunji menyerobot dalam video call baekhyun dengan suho dengan mengambil ponsel baekhyun
“oh hoy~ adik iparku, annyeong” sapanya ramah, tidak seperti beberapa tahun yang lalu.
“nado annyeong, oppa” balas eunji
hubungan eunji dan baekhyun semakin dekat, sedangkan suho dan eundae beberapa menit lagi akan meresmikan hubungan mereka sebagai suami istri. butuh waktu agak lama untuk menerima suho menjadi bagian keluarga karena baekhyun dan eunji menolak suho dengan mentah mentah, dan perlahan baekhyun mulai dekat dengan suho, bahkan baekhyunlah yang membantu suho untuk memilih cincin untuk eundae, karena menurut suho, jari baekhyun terlalu lentik bagi seorang pria dan kebetulan ukuran jari baekhyun sama dengan eundae. 
Skipp
Pernikahan sedang dimulai dan sekarang saatnya pengantin wanita melempar bucket bunganya. Eundae dan suho saling menatap, pikiran mereka sama. Eundae melempar sambil menghadap kebelakang, dan ia sudah menargetkan yeoja mana yang akan mendapatkannya. banyak teman yeoja eundae yang bersiap menangkap bucket itu, sedangkan Eunji dan baekhyun yang duduk manis dan tidak terlalu mengharapkan bucket pengantin itu, datanglah sebuah bucket bunga yang jatuh tepat di pangkuan eunji. Mata eunji terbelak dengan kedatangan bucket itu, begitu pun dengan baekhyun. Eundae dan suho hanya tersenyum kecil. 
Baekhyun melirik eunji sebentar lalu menampakkan smirknya yang tajam.
“tidak secepat itu tuan byun, selesaikan kuliahmu itu” ucap eunji sambil memukul kepala baekhyun dengan bucket yang kini ia pegang.
Tamu undangan yang terfokuskan pada eunji karena bucket bunga, kini tertawa geli karena sikap kedua pasangan muda yang mungkin sebentar lagi akan menyusul kakaknya.
~beneran END!!!!!!!!!!!!!!!!!~
gimana? gimana? gimana?
bagus nggak?, kalau nggak, maap *bow* 
sebenernya ep ep you are mine udh jadi dari jaman.a memb exo msh pd jd telor(?) tapi kyjae ngeremin terus ni ep ep soal.a takut ngepost n dapet kacang ///,-
oKai ini chapt terakhir.a, kapan kapan kyjae bakal ngepost ep ep yg br, paii~
#kyjae