lanthung aj yeth :"v
PREVIEW
“la...lama? Sebenarnya kau siapa? Apa
maumu? Dan kenapa nada bicaramu seperti orang yang sudah kenal denganku cukup
lama?” ucapku gugup dan mencoba untuk menatap tepat pada matanya
“sudah lama sekali aku menunggumu di
sini hye. Aku terus menunggu diatas,
hingga Tuhan meperbolehkan aku turun ke bumi dan bertemu denganmu, dan lagi
lagi aku harus menunggu, mauku sangat sederhana, aku hanya ingin bertemu dengan
cinta pertama sekaligus cinta sejatiku dan aku butuh bantuanmu, aku mengenalmu
cukup lama hye, bahkan sebelum kau lahir di dunia ini, kau sering bermain
denganku di atas sana” jelas namja itu panjang lebar, sedangkan aku hanya cengo
mendengarnya
Menunggu? Bertemu denganku? Cinta
pertama sekaligus cinta sejatinya? Sebelum aku lahir? Diatas sana? Sebenarnya
siapa dia?
CHAPT 2
Author pov
hyesoo
terus saja melamun. Otaknya tidak bisa berfikir untuk saat ini. semua terasa
berhenti bagi hyesoo. Kalimat namja itu membuat otak hyesoo diam.
“ah..mungkin
kau lupa denganku” ucap namja itu yang membuat hyesoo menoleh. “suho, kim
joonmyeon, kau ingat?” tanya namja itu
“suho?
kim joonmyeon? Nugu?” otak hyesoo masih saja belum berjalan dengan sempurna.
“namaku
kim joonmyeon, namun kau lebih suka memanggilku suho” jelasnya susah payah.
Hening.
Hye masih saja diam. Mungkin kali ini dia lebih lamban dan bodoh dari pada
luhan. Otaknya terus dipaksanya untuk bekerja, jika saja ini hye adalah salah
satu karakter manga, mungkin akan ada asap yang keluar dari kepalanya.
Chu~
Dengan
cepat suho menempelkan bibirnya dengan bibir hye lagi. Hye yang tadinya diam,
shock dengan kelakuan suho. Didorongnya suho hingga tejatuh dari ranjang. Hye
yang sadar kalau selimutnya tidak ikut tertarik dengan suho, segera ia
lemparkan selimutnya untuk menutupi tubuh suho.
“yakk!
Apa yang kau lakukan?” bentak hye
“aku
lapar, maka dari itu aku menciummu, lagi pula yang pertama kali melakukannya
adalah kau bukan?” balasnya sambil memposisikan dirinya hingga terduduk di
lantai, menampilakan dada bidangnya.
Mata
hye tetap fokus kepada wajah suho, dan tidak bernafsu sedikit pun untuk melirik
kebagian bagian lain. Kini tatapan hye semakin tajam, membuat semua orang yang
ditatapnya merasa ditusuk, tapi tidak bagi suho. Suho malah membalas tatapan
hye dengan senyum idiotnya.
“bodoh!
Jika kau lapar, bilang saja, apa begitu caramu meminta makanan? Dan lagi, aku
memulainya karena terpaksa agar baekhyun oppa tidak melihatmu”
“aku
memakan ketulusan orang saat berciuman denganku, jika orang itu menciumku
dengan nafsu, itu sama saja seperti aku memakan satu butir nasi. Tapi kau, tadi
selama kau berciuman, tidak ada nafsu sedikit pun, tapi rasanya hambar, karena
kau melakukannya dengan keterpaksaan dan yang kedua kau menolakku mentah
mentah”
Hye
yang tidak mengerti hanya diam sambil menatap namja yang ada di depannya itu
dengan tatapan aneh.
“intinya,
aku mengisi tenagaku dengan ciuman” kalimat itu sukses membuat mata hye
membulat tak percaya, pikirannya mulai melayang kemana mana.
“termasuk
pria? Kau juga mengisi tenagamu dengan berciuman bersama pria? Apa pria juga
bisa menambah tenagamu?” kali ini pikiran hye mulai gila
Hening.
“huahaha!!!”
sebuah tawa memecah keheningan. Suho tertawa hingga terguling guling di lantai.
“haha..hh...tentu saja tidak!! Aku masih normal, bodoh!! Tapi jika keadaannya
mendesak, apa boleh buat” jelasnya dengan wajah tanpa dosa.
“mendesak?”
ucap hye palan lalu menghilangkan pikiran negativenya itu. “lalu sekarang apa?”
tanya hye pada suho.
“pertama,
beri aku pakaian, saat ini aku butal” hye yang kembali menyadari keadaan tubuh
suho, segera berlari keluar apartemen dan masuk ke apartemen kakaknya.
Hye
mengambil kemeja putih yang sedikit kebesaran bagi oppanya, celana pendek hitam,
dan tentunya dalaman. Sebenarnya hye agak jijik jika memegang dalaman orang
lain, meskipun itu sudah dicuci sebersih bersihnya dan meskipun itu milik
oppanya. .
“mian,
aku sedikit lama” ucap hye sambil melempar pakaian baekhyun ke arah suho lalu
berjalan ke arah dapur dan meninggalkan suho di kamarnya. “cepat pakai baju
itu, aku mau ambil makanan, tenang saja aku tidak akan mengintip”
Skipà
“Kau
tak makan?” tanya hye sambil memasukkan jjajangmyeon ke mulutnya
“aku
sudah kenyang, bukankah tadi sudah kau beri makan?” ucap suho sambil
memeperhatikan hye yang sibuk mengunyah
“uhuk!”
kalimat suho barusan membuat hye tersedak. “ja..jangan bicarakan itu lagi” ucap
hye gugup lalu meminum air yang ada di sebelahnya.
“percuma
saja, karena setiap hari kita akan melakukannya”
ZZZRRSSHH...!
Lagi
lagi kalimat suho membuat hye tersiksa dan sukses menyemburkan air ke sembarang
arah dari dalam mulutnya yang belum sempat ia telan. Hye segera mengambil tisu
dan membersihkan air yang tersisa di daerah mulutku.
“yakk!
Aissh...sudahlah, aku jadi tak nafsu makan” hye hendak beranjak dari duduknya
dan menaruh piringnya yang masih ada sisa jjajangmyeonnya, namun tangannya
ditarik oleh suho yang tadi duduk disampingnya, dan hasilnya hye jatuh di
pelukan suho dengan tidak elitnya.
“tetap
seperti ini dulu” ucap suho saat dirasanya tubuh yang ia peluk mulai
memberontak. “aku...”
Entah
kenapa kali ini hye diam dan menuruti perkataan suho. Hye diam menanti lanjutan
kalimat suho.
“aku
haus” lanjutnya sambil menenggelamkan wajahnya di perpotongan antara bahu dan
leher hye.
“m..mwo?,
jangan bilang jika kau menghilangkan rasa hausmu dengan berpelukan” hye segera
melepaskan dirinya dari suho, dan suho hanya tersenyum seperti anak kecil yang
menuruti perintah ibunya. “oh god..., sebenarnya kau ini apa?”
“apa
aku perlu menjelaskannya?” tanya suho yang dibalas dengan death glarenya hye.
“arra arra, akan kuceritakan, ah ani... kau harus melihatnya secara langsung,
kajja” suho menarik hye ke arah kamar mandi.
“yakk!,
apa yang akan kau lakukan, eoh?, apa kau mau macam macam?” berontak hye saat ia
sadar bahwa dia diseret paksa oleh suho.
“bukankah
kau ingin mengetahui asal usulku? Diamlah, aku tidak akan macam macam”
‘dia
berasal dari kamar mandi? Menjijikkan’ itulah yang ada di pikiran hye
Hye
memberontak kecil dan sesekali mengumpat tak jelas. Suho seakan tak mendengar
umpatan umpatan yang keluar dari mulut hye, tetap menarik tangan hye, walaupun
sudah berada di depan pintu kamar mandi. Suho menghembuskan nafasnya dengan
berat dan menatap sejenak pintu kamar mandi.
“yakk,
kau ini ingin buang air? Apa harus ditemani? Cih, apa kau gi...”
“ini
berat” potong suho cepat saat menyadari hye sedang mengoceh ria.
“apa
maksudmu? Ah sudahlah aku capek, besok saja kau ceritakan asal usulmu itu” hye
yang hendak pergi, memutar balikkan tubuhnya saat ia merasakan ada sebuah
cahaya di belakangnya.
Hye
membelakkan matanya saat ia sadar bahwa cahaya itu berasal dari kamar mandinya.
Suho yang awalnya menatap kosong ke arah kamar mandi, menoleh ke arah hye
sambil tersenyum.
“kajja”
kali ini suho mengulurkan tangannya pada hye, dan secara refleks, hye membalas
uluran tangan suho.
Suho
yang menyadarinya, tersenyum pada hye yang sedang menatap aneh padanya. Suho
menarik hye masuk ke kamar mandi. Saat melewati pintu, pemandangan yang
diterima hye sangatlah berbeda, dia berada di salah satu gedung olah raga
sekolah.
“su...suho-sshi,
dimana kita?” tanya hye sambil menarik ujung baju suho-baju baekhyun-.
Bukannya
menjawab pertanyaan hye, suho malah tersenyum dan menarik hye keluar gedung dan
mengarah ke taman yang berada di belakang gedung. Terlihat seorang namja dan
yeoja disebelahnya bernyanyi dengan diiringi gitar yang dimainkan sang namja.
Mereka duduk di kursi taman dan membelakangi suho dan hye.
‘I
love you neoreul saranghae
chama hajimotan mal
ddeollineun gaseumi nae mami
neul sumgyeowatdeon geureonmal’
chama hajimotan mal
ddeollineun gaseumi nae mami
neul sumgyeowatdeon geureonmal’
Hye
berjalan mendekat, berniat untuk melihat siapa namja dan yeoja itu. Suho hanya
mengikuti dari belakang. Mata hye mebulat saat ia mengetahui siapa namja yang
sedang bermain gitar itu.
“su...suho-sshi...”
“Keurae,
namja itu aku, dan yeoja itu...” suho berhenti sejenak, menesah pelan. “dia
adalah hoobaeku sekaligus cinta pertamaku”
‘I
like you neoreul johahae
meotjin keun namucheoreom
eonjena pyeonanhi naegyeote
nal jikyeojuneun geureon neol’-myungsoo ft yerim ~ love u like u-
meotjin keun namucheoreom
eonjena pyeonanhi naegyeote
nal jikyeojuneun geureon neol’-myungsoo ft yerim ~ love u like u-
Hye terdiam sebentar. Memikirkan kenapa dua orang yang ada di
depannya tidak menyadari keberadaan hye dan suho yang jelas jelas ada di depan
mereka.
“kita tidak terlihat hye, kita bagai hantu” ucap suho yang
ada di sebelahnya, seakan dapat menjawab pertanyaan yang terus mengitari otak
hye. “ayo ke bulan desember, kau akan tau apa yang terjadi hingga aku menjadi
seperti ini” suho menggenggam tangan hye dan tersenyum.
Hye memperhatikan suho yang terus tersenyum padanya, hingga
ia tak menyadari bahwa mereka sudah berada di tempat yang berbeda. Ini di
daerah gangnam, namun berbeda dengan gangnam yang sekarang.
“dua puluh desember, sembilan ratus sembilan puluh” ucap suho
tiba tiba yang mengagetkan hye yang melamun melihat jalanan agak tertutupi
salju.
“ini gangnam?, tahun sembilan puluh?”
“ayo ke bagian yang menarik” tangan suho menarik tangan hye
dan mengajaknya ke dekat perempatan jalan.
Hye hanya diam dan menatap suho aneh. Tiba tiba jari telunjuk
suho mengarah ke suatu titik. Hye yang menyadarinya mengikuti arah jari suho.
Hye diam, memperhatikan sepasang kekasih yang tengah berpelukan.
“itu bagian menariknya? Oh ayolah suho-sshi, itu tid—“
“dengarkan mereka”
Hye langsung diam saat suho tiba tiba memotong kalimatnya.
Hye mulai mempertajam indra pendengarannya, matanya pun menyipit, mencoba
melihat siapa sepasang kekasih itu, karena sekarang sedang hujan. Matanya
membulat saat mengetahui siapa namja itu. Suho. Suho yang lain seperti tadi.
Yeojanya pun juga tak berbeda, sama seperti tadi yang hye lihat.
“oppa mianhae...” akhirnya yeoja itu mengeluarkan suara.
“ani..., kau sudah berjanji padaku deer”
“berhenti memanggilku seperti itu oppa”
“aku tidak akan pernah berhenti deer”
Yeoja itu menatap mata suho yang lain, yang sebelumnya
menatap ke arah manapun kecuali namja yang ada di depannya. Matanya berair, dan
perlahan setetes liquid jatuh dari pelupuk mata kanannya, dan jatuh pada
pipinya, bercampur dengan air hujan yang sudah lama mengguyurnya.
“andwe..., jangan menangis..., jangan biarkan mata indahmu
mengeluarkan air mata, yiji-ah. Deer berhentilah menangis” suho yang lain
mengusap pipi yeoja yang ada di depannya yang disebut yiji atau deer. Lalu
perlahan ia membawa yeoja itu dalam pelukannya.
“aniyeo oppa, aku tak bisa, karena pada akhirnya aku akan
kehilangan dirimu”
“jika kau tak ingin kehilanganku, maka ikutlah denganku pergi
dari negara ini”
Walau tak terlihat jelas, namun terlihat pergerakan kecil
pada kepala sang yeoja. Kepala sang yeoja yang awalnya mengangguk, dengan cepat
ia mengubah gerakan itu menjadi gelengan yang pasti. Ia melepas dekapan sang
namja secara paksa.
“tidak ini salah oppa...” lirihnya pelan sambil melangkah
mundur menjauhi sang namja dengan perlahan. Sedangkan disisi lain, hye dan suho
sedang berusaha mendengar percakapan sepasang kekasih itu. “ini salah oppa..”
yeoja itu semakin bergerak mundur sambil menatap sang namja.
Dan seperti pada drama-drama dan fanfiction yang hye lihat,
yeoja itu sudah sampai pada jalan raya, dan lagi, ia tak berada di zebra cross.
Sebuah mobil melaju dengan cepat dan terlihat ugal ugalan dari sisi kanan
yeoja, diikuti dengan beberapa mobil polisi yang sirenenya berbunyi nyaring.
Hye yakin akan ada terjadi kecelakaan. hye melirik suho
sebentar. Ditatapnya suho yang masih fokus pada sepasang kekasih itu.
Sang namja masih membeku. Posisinya masih sama, berdiri
tegak, menatap sang yeoja yang masih berjalan mundur mencoba menyebrangi jalan.
Bodoh memang, kenapa yeoja itu tidak segera berbalik dan berjalan maju, tidak
bukan berjalan, tapi berlari.
Dan tepat pada saat suara klakson mobil yang hye yakini
tengah dikejar oleh polisi berbunyi, namja itu langsung tersadar bahwa sang
yeoja masih ada dijalanan. Sang namja memiliki dua pemikiran, pertama yeoja itu
ingin mengakhiri hidupnya, atau tidak sadar dengan keadaannya saat ini.
Dengan cepat, sang namja berlari ke arah sang yeoja dan
mendorong tubuh mungil sang yeoja hingga jatuh (dengan tidak elitnya -_-) di
atas jalanan aspal yang basah karena guyuran hujan dan dingin seperti hati
orang tuanya. Sedangkan detik berikutnya, tubuh sang namja jatuh dan terlindas
oleh mobil yang bisa dibilang kecil. Mobil itu tak menganggapnya penting dan
terus melaju, menghindari kejaran polisi yang beberapa berhenti untuk meringkus
tubuh sang namja.
Tangannya hancur, kepalanya pecah, dan hanya ada sekitar
sepuluh sampai lima belas persen dia masih hidup. Separah itukah kecelakaan,
tidak maksudnya tabrak lari itu?
Hye diam pada tempatnya, takut melirik atau pun mengintip
kejadian yang terjadi di balik tubuh suho yang sedang berada bersamanya. Entah
sejak kapan tubuh suho menghalangi pengelihatannya dari kejadian barusan.
Menutupi pengelihatan hye dengan memeluknya dari depan.
“ayo kembali, aku tak ingin kau melihat bagian setelahnya”
lirih suho pelan sambil terus memeluk hye. Sedangkan hye hanya mengangguk
menurut, ia menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suho.
“kita sudah sampai” ucap suho dan otomatis kepala hye
terangkat. Ia langsung melepas dekapan suho dan jatuh terduduk di atas sofanya.
“cepat sekali, bukankah tadi kita masuk ke kamar mandi?” ucap
hye pelan sambil menatap ke sembarang arah, asalkan tidak pada namja yang
sekarang berada di depannya.
“kau lupa siapa aku?” suho mendaratkan pantatnya dengan kasar
di samping hye, dan itu membuat hye hampir terlonjak kaget dan langsung menatap
ke mata suho.
Suho yang awalnya menatap lurus kedepan, memalingkan wajahnya
ke hye, lalu mendekatkan wajahnya pada hye. Hye yang melihat pergerakan suho,
dengan cepat memundurkan wajahnya.
“kurasa itu tidak perlu di bahas karena kau sudah tau
jawabannya byun hyesoo, yang penting sekarang adalah...” suho sengaja
menggantungkan kalimatnya. Hye semakin menatapnya dalam dalam. “yang penting sekarang
aku lapar~” rengek suho pada hye.
“m...m...mwo?, apa maksudmu?” semburat merah terlihat jelas
pada pipi hye.
“oh ayolah hye... kita sudah pernah melakukannya” rengek suho
sekali lagi dan kini ia agak mundur dari posisinya
“ta...tapi suho-sshi... hhmmpt...!” bibir mungil hye
dibungkam oleh benda kenyal milik suho.
Suho sudah tak peduli lagi dengan hye yang terus meronta,
perutnya sudah menyiksanya sejak beberapa menit yang lalu. Tangan kanannya yang
menganggur, ia pakai untuk manahan kedua tangan hye yang terus memukul dada
suho, sedangkan kakinya, menjepit kedua kaki hye. Posisi suho sekarang menindih
hye, dan itu membuat hye tidak bisa bergerak sama sekali. Tangan kiri suho? Ia
gunakan untuk meraih tengkuk hye, memperdalam ciumannnya yang lama kelamaan
menjadi lumatan lumatan lembut lalu beralih menjadi ciuman liar pada saat lidah
suho berhasil memasuki mulut hye yang kecil
Suho melepaskan ciumannya dan menatap hye dari atas. hye
terlihat terengah engah dan wajahnya merah seperti kepiting rebus, begitu pun
juga suho. Dapat mereka rasakan deru nafas masing masing. Suho mendekat ke arah
telinga hye dan membisikkan sesuatu.
“cobalah untuk tulus dan relaks, tenanglah, aku tidak akan
melakukan lebih dan tidak akan menyakitimu. Acara makanku agak terganggu” mata
hye agak membulat pada saat mendengar kata makan. Berkali kali hye mencoba
untuk berpikir positif.
Lagi, suho mempertemukan bibirnya dengan milik hye. Tapi kali
ini berbeda, hye mulai menikmati ciumannya, bahkan ia mulai membalas setiap
ciuman dari suho, tapi tetap suho yang unggul. Saat dirasa hye mulai relaks,
suho mulai melepaskan cengkramannya pada tangan hye. Entah sejak kapan tangan
hye pun sudah menggantung pada leher suho.
“s..suho..-sshi... ssesak...” suho yang mendengar suara yang
berasal dari bibir mungil hye, segera melepaskan bibirnya dari hye.
Lagi. Suho menatap hye dari atas dan mereka saling bertukar
nafas. Setelah mengatur nafasnya, suho tersenyum pada hye lalu mendekat ke
telinga hye.
“gumawo, aku lebih kenyang sekarang. Jika kau melakukannya
dengan tulus, aku akan memintamu sekali dalam sehari” kalimat suho barusan
membuat hye membulatkan matanya. Jika ia masih disini selama sebulan, artinya
hye sudah berciuman selama tiga puluh kali- pikir hye. “dan lagi, jangan
seformal itu, kau boleh memanggilku apa saja, asal tidak terdengar seperti kita
barusan bertemu”
Setelahnya, suho menarik dirinya dan berdiri. Sedangkan hye
yang sudah dapat bernafas dengan baik, memalingkan wajahnya, mencoba untuk
tidak kontak mata dengan suho. Dengan cepat, suho menggendong hye ala bridal
style. Dibawa hye kekamar hye.
“y..yak yak!, apa yang akan kau lakukan?” hye terus saja
meronta, sedangkan suho tetap tenang. “yak! Turunkan aku!!, suho! Kim
joonmyeon!! Katamu, kau tidak akan macam macam!”
Karena kesal dengan gerakan hye yang membuat suho kesulitan
mengangkat tubuh hye, dengan cepat, ia lahap kembali bibir hye. Dalam sekejap,
tubuh hye membeku, dan kesempatan ini ia gunakan untuk membawa hye kekamar
dengan cepat lalu menaruh tubuh hye dengan hati hati, bagai barang yang rapuh.
Setelah ia meletakkan tubuh hye, suho melepaskan bibirnya
yang menempel pada bibir hye yang diam. Hye diam dan menatap suho. Tatapan yang
sulit di artikan oleh seorang malaikat seperti suho. Suho pun hanya tersenyum
lalu mendekatkan wajahnya kembali pada hye, mengecup kening hye dengan lembut
dan agak lama.
“jaljayo...” lirih hye pada saat suho hendak beranjak dari
tempatnya.
TBC/END?